TRAVELOG

Mendaki Gunung Sumbing via Gajah Mungkur

Bus yang membawa kami dari Jakarta akhirnya tiba di Terminal Mendolo, Wonosobo, Jumat pagi (14/8/2026). Aku turun bersama tiga kawan seperjalanan: Loekman, Adit, dan Maul. Empat orang, empat carrier, dan satu gunung yang rupanya punya cerita berbeda bagi kami.

Bagi Adit dan Loekman, ini adalah perjumpaan pertama dengan Sumbing. Maul sudah pernah sekali, sehingga pendakian ini menjadi yang kedua baginya. Sementara untukku, ini kali ketiga.

Pendakian tiga kali sebenarnya sudah lumayan untuk sebuah gunung. Setidaknya sampai aku teringat C.W. Wormser. Ia adalah ahli hukum, jurnalis, sekaligus pendaki gunung di era kolonialisme Belanda.

Namanya juga kukenal lewat bukunya berjudul Drie en dertig jaren op Java, Vol. II atau Pesona Gunung-Gunung Jawa yang diterjemahkan Muhammad Malik Ar Rahiem. Pada 1920, Wormser bahkan menerbitkan roman berbahasa Belanda berjudul Het Graf op den Soembing yang kurang lebih berarti “Makam di Sumbing”. Pada bagian awal buku itu ia menyinggung kawah mati Sumbing dan sebuah makam keramat Kiai Makoekoean di kawasan kawah kembar sebelah selatan “laut pasir”. Membaca cerita lama semacam itu membuat kedatanganku yang ketiga terasa belum seberapa.

Pagi itu, tentu saja, kami belum memikirkan Wormser ataupun makam di kawah Sumbing. Setelah semalaman perut mual diguncang bus, urusan pertama yang jauh lebih penting adalah membangun fondasi (sarapan). Kami sepakat akan lebih baik serta efektif jika dilakukan di sekitar base camp saja.

Menapaki jalur Gajah Mungkur di antara rimbunnya pakis dan pepohonan. Kabut yang turun perlahan menutup pemandangan di belakang (Rizky Triputra)
Menapaki permulaan jalur Gajah Mungkur di antara rimbunnya pakis dan pepohonan. Kabut yang turun perlahan menutup pemandangan di belakang/Rizky Triputra

Menuju Base Camp Gajah Mungkur

Dari Mendolo kami bertolak menuju Base Camp (BC) Gajah Mungkur di Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar dengan jasa mobil pick up milik Mas Thoif yang kami jumpai di terminal. Setibanya di BC kami makan pagi, merapikan carrier, dan bergegas mengikuti briefing dari pihak BC. Sekitar pukul 10.00 perjalanan dimulai.

Kami menggunakan ojek motor menuju Gapuro Rahayu. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari BC dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jika berjalan kaki, estimasinya sekitar dua jam. Rasanya tidak perlu terlalu konvensional untuk menghabiskan tenaga sebelum pendakian.

Dari Gapuro Rahayu, barulah kaki kami bekerja. Jalur menuju Pos 1 Sengaran didominasi tanah menanjak dengan vegetasi yang cukup rapat. Di beberapa bagian terdapat penahan kayu menyerupai anak tangga. Kami juga melewati pos bayangan Tataran Mbujet sebelum tiba di Sengaran.

Jujur saja pendakian Agustus rasanya cukup menantang karena kering, berdebu, dan  cuaca terik menjadi satu. Setiap langkah dari sepatu kami mengangkat tanah halus ke udara. Di jalur kulihat pakis tumbuh rapat di kanan-kiri, sementara kabut sesekali datang lalu menghilang lagi. 

Pos 2 Kazusawa berada di ketinggian sekitar 2.428 mdpl. Vegetasi mulai terbuka dan punggungan Sumbing sesekali terlihat dari kejauhan
Pos 2 Kazu Sawa berada di ketinggian sekitar 2.428 mdpl. Vegetasi mulai terbuka dan punggungan Sumbing sesekali terlihat dari kejauhan/Rizky Triputra

Kami tiba di Sengaran untuk istirahat sejenak sambil menikmati suasana lalu dari Sengaran kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 Kazu Sawa. Medannya relatif serupa, tetapi vegetasi perlahan mulai terbuka. Sesekali punggungan Sumbing terlihat dari kejauhan.

Di Pos 2 kami berhenti agak lama sekaligus mengatur strategi. Hari sudah semakin sore, sementara Sunset Camp masih berada cukup jauh di atas. Setelah 15 menit berdiskusi, kami akhirnya membagi tugas.

Maul dan Adit berangkat lebih dulu. Keduanya membawa tempo lebih cepat dengan satu pekerjaan penting ketika sampai nanti, yaitu mencari tempat dan membuka tenda sebelum hari gelap. Aku dan Loekman memilih berjalan belakangan.

Kami sengaja menjaga energi dan mempertahankan tempo senyaman mungkin. Perjalanan masih panjang dan, dengan carrier di punggung, memaksakan langkah hanya karena melihat dua orang di depan berjalan lebih cepat rasanya tidak akan ada gunanya.

Maka sejak Pos 2, rombongan kami praktis terbelah menjadi dua. Maul dan Adit mengejar waktu. Aku dan Loekman menjaga tenaga dengan langkah kecil.

Selepas Pos 2, jalur mulai terbuka dan punggungan Gn Sumbing mulai terlihat
Selepas Pos 2, jalur mulai terbuka dan punggungan Gunung Sumbing mulai terlihat/Rizky Triputra

Selepas Kazu Sawa, sekitar setengah jam berjalan, kami melewati Camp Area Watu Talang. Tempatnya cukup lapang untuk mendirikan beberapa tenda dan masih terlindungi pepohonan. Dari sana perjalanan menuju Pos 3 Gajah Mungkur masih sekitar satu jam. 

Aku dan Loekman terus berjalan. Semakin tinggi, pepohonan semakin jarang. Tanah kering semakin menjadi debu yang menempel di sepatu, celana, bahkan wajah yang menembus buff kami. Lereng Sumbing mulai terlihat terbuka sepenuhnya, didominasi rerumputan yang menguning diterpa kemarau.

Sesekali aku dan Loekman berhenti menyalakan rokok. Minum. Mengatur napas. Lalu berjalan lagi.

Tidak ada lagi Maul dan Adit dalam pandangan. Mereka tentu sudah jauh di depan. Namun, kami tahu apa yang sedang mereka kerjakan. Mudah-mudahan ketika kami tiba, setidaknya ada tenda yang sudah berdiri.

Menjelang sore kami melewati Pos 3 Gajah Mungkur. Jalur menjadi semakin terbuka dan matahari mulai rendah. Dari sini perjalanan masih berlanjut menuju Sunset Camp, kemudian jika diteruskan akan mencapai Kandang Kidang, Pos 4 Gelar Wangi, dan akhirnya Puncak Rajawali di 3.371 mdpl.

Potret menjelang sunset di Pos 3 (Rizky Triputra)
Potret menjelang sunset di Pos 3/Rizky Triputra

Sunset Camp

Pukul 17.30, setelah sekitar 7,5 jam sejak meninggalkan BC, aku dan Loekman akhirnya tiba. Alhamdulillah, rencana di Pos 2 ternyata bekerja. Maul dan Adit sudah sampai lebih dahulu dan tenda telah dibuka. Ada kepuasan melihat tempat bermalam sudah tersedia ketika badan sudah mulai enggan melakukan pekerjaan tambahan.

Carrier langsung kuturunkan. Rasanya seperti melepaskan sebagian berat badan sendiri.

Kami tidak punya banyak waktu sebelum matahari tenggelam. Langit sore sudah mulai berubah, sementara awan perlahan memenuhi lembahan di bawah kami.

Tak lama kemudian, awan menutup daratan hingga yang terlihat hanya hamparan putih. Gunung-gunung di kejauhan muncul seperti pulau. Matahari turun perlahan, menyentuh rerumputan kering dengan cahaya keemasan. Langit berubah dari biru menjadi kuning, jingga, kemudian merah muda.

Kami berdiri melihatnya. Beberapa jam sebelumnya perhatian kami hanya pada tanah dan tanjakan. Sore itu semua keluhan tersebut mendadak terasa lenyap.

Malam hari di camp area Pos 3 (kiri) dan potret gugusan Bima Sakti/Adit

Malam Bertabur Bintang

Malam datang bersama dingin khas Agustus: kering dan menusuk. Tenda-tenda mulai menyala, sementara lampu permukiman Wonosobo terlihat seperti kumpulan titik kecil jauh di bawah. Namun, pertunjukan terbaik malam itu justru berada di atas kepala.

Langit sungguh sangat bersih. Bentang Bima Sakti terlihat jelas, melintas ke arah Sagitarius dan pusat galaksi. Adit mengarahkan kamera ke langit, lalu memotret dengan mode malam 30 detik lewat ponselnya.

Di tengah malam Sumbing itu aku teringat Wormser. Dalam Het Graf op den Soembing, ia menggambarkan kawah dengan dinding terjal, edelweis, laut pasir, embusan angin, dan langit berbintang. Di sana pula muncul jejak tiga orang Jawa dari desa-desa di lereng Sumbing yang melakukan perjalanan ziarah dan bermalam di sebuah gua.

Mereka datang ke Sumbing dengan bekal nasi, ikan, dan keperluan ziarah. Kami, lebih dari seabad kemudian, datang membawa carrier, kamera, kompor, dan makanan instan.

Suasana pagi dan pemandangan lautan awan di area camp Pos 3 (kiri). Foto bersama dengan latar belakang Gunung Sindoro sebelum turun/Rizky Triputra

Lautan Awan Pagi Hari

Keesokan paginya, aku membuka tenda dan mendapati lautan awan belum pergi. Cahaya matahari perlahan mengubah warna awan dari kebiruan menjadi merah muda. Sindoro berdiri di kejauhan, sesekali terselubung awan.

Dari kami berempat, hanya Maul yang ternyata memutuskan melanjutkan perjalanan menuju puncak sejak pukul 03.00 pagi. Aku, Loekman, dan Adit tidak. Agak lucu sebenarnya. Dua orang yang baru pertama kali datang ke Sumbing tidak muncak. Aku yang sudah ketiga kali juga tidak. Adit menikmati sunrise sambil menyantap bubur kacang hijau. Sementara aku dan Loekman menikmati pemandangan sambil menyeruput kopi. Sementara Maul, dalam kunjungan keduanya, menjadi satu-satunya yang pagi itu meneruskan langkah.

Ketika Maul kembali, kami membongkar tenda dan bersiap turun. Tas berat kembali menempel di punggung. Perjalanan sehari sebelumnya kami balik: Sunset Camp, Pos 3 Gajah Mungkur, Watu Talang, Kazu Sawa, Sengaran, lalu Gapuro Rahayu.

Dalam perjalanan turun masih kuingat kisah Wormser. Kiai Makoekoean dikisahkan tidak dimakamkan di pemakaman desa. Jenazahnya dibungkus kain putih dan dibawa naik oleh penduduk menuju Sumbing. Orang-orang di depan membuka jalan dengan parang, sementara rombongan membawa tandu menyusuri punggungan yang semakin terjal.

Tentu saja Het Graf op den Soembing hanyalah sebuah roman, bukan catatan sejarah yang bisa diterima mentah-mentah. Namun, kisah itu cukup menarik karena menunjukkan betapa gunung sejak dahulu menjadi tempat manusia membawa berbagai urusan.

Ada yang datang untuk berziarah. Ada yang mengejar puncak. Ada yang mencari matahari terbit. Ada pula kami: empat orang dari Jakarta yang tiga di antaranya justru merasa cukup berhenti di Sunset Camp. Dan yang terpenting adalah puncak akan tetap di sana. Mungkin lain waktu kami bertiga akan kembali untuk menemuinya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pendakian ke Gunung Karang dan Seni Menunggu