ITINERARY

Menyesap Buku-Buku di Perpustakaan Batu Api

Pria berkacamata, berambut gondrong, dan berwajah dingin itu duduk di belakang meja yang dikelilingi tumpukan buku-buku—selalu seperti itu beberapa tahun berlalu. Sekilas, jika baru mengenalnya, memang seperti tak bersahabat. Namun, kalau kita mengenalnya lebih jauh, ia bukanlah sosok yang kaku.

Namanya Anton Solihin. Dua puluh empat tahun lalu, persisnya akhir 2002, saya pertama kali ke Perpustakaan Batu Api yang dikelolanya. Saat itu, saya masih mahasiswa baru di Universitas Padjadjaran. Mencari referensi untuk tugas kuliah. 

Bang Anton—begitu sapaan akrabnya—bergegas dari kursi di belakang meja, membantu saya mencari buku-buku yang dibutuhkan. Sejak itu, walau sudah lulus kuliah, setiap kali singgah di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, saya kerap menyempatkan diri ke sini. Bercerita apa pun dengan Bang Anton.

Pintu samping di Perpustakaan Batu Api dan tumpukan koleksi buku beraneka judul (Fandy Hutari)
Pintu samping di Perpustakaan Batu Api dan tumpukan koleksi buku beraneka judul /Fandy Hutari

Singgah di Batu Api

Perpustakaan mungil berukuran kira-kira 5 x 7 meter persegi ini dibangun pada April 1999. Bang Anton memanfaatkan halaman yang ada di depan rumahnya. Berbentuk L, seluruh dindingnya terdapat rak yang memuat ribuan buku yang hampir mepet ke langit-langit. Letaknya ada di Jalan Raya Jatinangor Nomor 142 A, Sumedang, Jawa Barat. 

Namun, Bang Anton lebih suka memakai alamat Jalan Pramoedya Ananta Toer 142 A. Dahulu, nama jalan itu bahkan disematkan di papan di depan perpustakaan. Alasannya, Bang Anton sangat mengagumi pengarang Tetralogi Pulau Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca

Meski bangunannya ada di pinggir jalan, tetapi tak sedikit orang-orang yang baru ke sini kesulitan mencarinya. Perpustakaan ini memang mungil. Menempati halaman rumah berpagar besi berwarna putih. Tak jauh dari Jatinangor Town Square (Jatos), sebelah Toko Buku AA. 

Sesampainya di depan pintu perpustakaan, seakan-akan semua kebisingan lenyap. Kita seperti ditarik ke sebuah masa yang berbeda. Ada empat kursi kayu dan satu meja kecil bundar. Di atasnya, terdapat asbak besar berwarna emas.

Di meja pojok teras, terdapat papan kayu bertulis “Perpoestakaan Batoe Api: Boekoe, Gambar Idoep, Muziek.” Tertempel pula peta besar Nusantara, poster penyair WS Rendra, serta poster band Sex Pistols. Banyak juga foto dan stiker yang tertempel di kaca perpustakaan.

Teras tempat bersantai di Perpustakaan Batu Api (Fandy Hutari)
Teras tempat bersantai di Perpustakaan Batu Api/Fandy Hutari

Di dalam perpustakaan, buku-buku tampak tersusun acak. Padahal, kalau kita perhatikan, buku-buku itu ada yang disatukan tergantung jenis atau tema buku. Misalnya, buku tentang musik akan dihimpun di rak atau bagian yang juga terdapat buku-buku serupa. Tema bukunya beragam, mulai dari komik, sejarah, filsafat, agama, sastra, hingga politik.

Tak ada kode-kode penamaan rak buku yang lazim kita temui di kebanyakan perpustakaan. Jika pengunjung kesulitan mencari buku yang dibutuhkan, cukup menanyakan saja kepada Bang Anton. Sudah pasti, dia mengetahui di mana letak buku itu berada.

Selain buku, Batu Api punya koleksi kaset, film, majalah, serta kliping koran dan majalah. Dahulu, saat saya kuliah, Batu Api pun menyewakan film-film lawas maupun terbaru dalam rental yang ada di bangunan berbeda. 

Bang Anton mendapatkan koleksi buku-buku dan yang lainnya dari mana saja. Bahkan membeli di tukang loak. Ada juga hibah dari pengunjung setianya. 

Bagi saya, Batu Api ibarat oase di kawasan pendidikan Jatinangor, yang berdiri beberapa kampus, seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB)—sewaktu saya kuliah masih kampus Universitas Winayamukti, dan Institut Koperasi Indonesia (Ikopin). Tak jauh dari sini, ada pula Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati.

Barangkali satu-satunya perpustakaan paling representatif di Jatinangor, di luar perpustakaan-perpustakaan yang ada di kampus. Sependek pengetahuan saya, saat ini hanya ada satu toko buku. Tak jauh dari gerbang Unpad. Dahulu, ada beberapa. Yang paling sering saya kunjungi, perpustakaan di pinggir jalan, tak jauh dari Jalan Kolonel Achmad Syam. Namun, kini toko buku itu sudah tidak ada.

Koleksi buku di Perpustakaan Batu Api dikelompokkan berdasarkan genre atau tema (Fandy Hutari)
Koleksi buku di Perpustakaan Batu Api dikelompokkan berdasarkan genre atau tema/Fandy Hutari

Zaman Berganti

Batu Api menolong saya berkali-kali. Dahulu, saya tertolong untuk mengakses rujukan tugas kuliah. Sekarang, saya tertolong pula dalam mencari referensi untuk keperluan menulis artikel atau riset buku.

Sering kali, ada sumber sejarah yang saya temukan di sini. Jarang sekali ditemukan di perpustakaan lain. Majalah Aktuil—majalah musik yang terbit pertama kali pada 1967 di Bandung—misalnya, saya tidak menemukannya di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta. Namun di sini, Bang Anton menyimpannya dalam bentuk digital, kliping, maupun majalah fisiknya.

Beberapa waktu lalu, saya saya duduk di tumpukan buku menyoal musik, ada skripsi tebal yang teronggok. Skripsi bersampul kuning itu sangat tebal—kira-kira berjumlah 400 halaman. Ada nama yang tak asing: Soleh Solihun.

Soleh, yang kini dikenal orang sebagai pelawak tunggal, aktor, dan jurnalis itu, lulus tahun 2004 dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran. Selain tebal, skripsi Soleh bertajuk Perjalanan Majalah Musik di Indonesia itu melibatkan beberapa tokoh penting media, semisal Arswendo Atmowiloto dan Remy Sylado.

“Dulu, dia ngerjain skripsi di sini. Itu, selalu duduk di pojok sana,” kata Bang Anton, menunjuk salah satu sudut di perpustakaan yang dikelolanya.

“Dia ngasih skripsi itu waktu lulus. Katanya, cuma disimpan di sini. Jadi, yang mau nyari skripsinya, ya, ke sini.”

Skripsi Soleh Solihun (kiri) dan hiburan televisi di perpustakaan/Fandy Hutari

Koleksi lainnya yang menarik adalah buku Sedjarah Nasional yang terdiri dari 20 jilid terbitan tahun 1950. Buku ini, walau tak ada nama penulisnya, kuat dugaan ditulis sejarawan Moh. Ali.

Beberapa waktu lalu, Bang Anton mengeluhkan pengunjung yang sepi. Saya pun, sewaktu berkunjung kala itu, merasa situasinya berbeda dari zaman masih berkuliah. Kami lantas berdiskusi soal perkembangan zaman, dalam hal ini teknologi internet, yang memengaruhi kondisi perpustakaan.

Saya bilang, anak-anak sekarang lebih tertarik menonton video ketimbang membaca. Sebab, dari menonton video soal sejarah di YouTube misalnya, mereka bisa mendapatkan informasi secara instan, tanpa perlu lagi memaksa diri dengan kemalasan membaca buku.

Dahulu, Batu Api meriah karena dipantik diskusi kecil-kecilan dan menonton film. Namun, sekarang rupanya diskusi sudah amat jarang dilakukan. Setidaknya barangkali sejak pandemi Covid-19 lima tahun silam.

Akan tetapi, kondisi berubah beberapa bulan kemudian. Perpustakaan kembali ramai mahasiswa. Ada yang membaca buku di lantai, ada yang ngobrol ke sana-kemari dengan Bang Anton, ada pula yang sekadar foto-foto buat diunggah di media sosial.

Selain informasi dari mulut ke mulut, menurut Bang Anton, ramainya Batu Api juga secara tak langsung akibat perkembangan media sosial. Sekarang, banyak anak muda yang mengabadikan diri di perpustakaannya, lalu diunggah di Instagram. Istilahnya sekarang bookstagram—akun seseorang atau komunitas yang membagikan ulasan, rekomendasi, maupun foto estetik terkait buku.

Bang Anton (kiri) sedang berbincang dengan pengunjung (Fandy Hutari)
Bang Anton (kiri) sedang berbincang dengan pengunjung/Fandy Hutari

Zaman memang berganti. Dan, tampaknya kita perlu menyesuaikan diri.

Perpustakaan Batu Api pun kini sangat aktif di Instagram. Berisi buku-buku rekomendasi, foto-foto pengunjung, serta tangkapan layar artikel Bang Anton di beberapa media. Akunnya tercatat sudah dibuat pada 2013. Saat ini, Instagram Batu Api punya hampir 6.000 pengikut. Sayangnya, walau kita bisa menemukan banyak video dengan kata kunci “Perpustakaan Batu Api” di YouTube, perpustakaan ini belum mengelola platform berbagi video tersebut dengan serius.

Terlepas dari itu, untuk meminjam buku di sini hanya perlu menjadi anggota dengan mengisi formulir dan membayar Rp25.000. Kartu anggota, tentu dengan nomor dan nama pemiliknya, bakal diberikan langsung. Satu buku dalam sepekan dikenai tarif Rp5.000.

Mengunjungi perpustakaan ini, di samping bisa menemukan buku atau apa pun yang menjadi referensi, kita pun dapat mengenal beragam karakter orang-orang yang berkunjung. Mulai dari siswa SMA, mahasiswa, dosen, peneliti, dan penulis, jika kita sudah duduk di kursi rotan di hadapan Bang Anton—yang hanya dibatasi sebuah meja besar—sekat mengobrol pun runtuh. Kita bisa mengobrol apa pun, mulai dari buku-buku yang kita minati hingga gosip kampus yang tak pernah berkesudahan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Fandy Hutari

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pulau Pari: Luka di Balik Panorama