Pembelajaran mengenai budaya kerap kali memperlakukan manusia–dan kebudayaannya–sebagai sesuatu yang statis. Salah satunya adalah seperti pengetahuan mengenai senjata tradisional, rumah tradisional, atau pakaian tradisional suatu daerah. Bukannya hal tersebut tidak penting sama sekali, tetapi sayangnya pembelajaran seperti itu menyederhanakan cerita panjang soal bendanya, budayanya, manusianya, dan cerita-cerita di balik itu semua.
Acciaioli dalam artikelnya yang berjudul “Culture as Art: From Practice to Spectacle in Indonesia” di jurnal Canberra Anthropology (1985) mengkritik fenomena tersebut sebagai pemisahan antara budaya dengan manusianya, yang hidup dan bergerak dalam sejarah. Kerap kali budaya tidak bisa disederhanakan hanya ada di daerah tertentu, begitu pula suatu daerah hanya punya satu kebudayaan tertentu. Alih-alih mengajarkan keragaman, pengenalan budaya seperti itu justru menyeragamkan kenyataan yang ada.
Maka, jadi suatu yang menarik bila ada kisah sejarah yang menelusuri bukan hanya cerita manusia, melainkan juga artefak kebudayaan itu sendiri, misalnya pakaian. Soal pakaian jadi lebih menarik karena hal ini yang kerap dianggap sebagai budaya yang banyak ditinggalkan generasi sekarang. Namun, apakah perubahan memang sesederhana tentang “budaya yang ditinggalkan”? Atau justru ada sejarah yang perlu kita pahami terlebih dahulu untuk dapat memahami fenomena yang ada di depan mata kita?
Buku Mengurai Simpul Kelanggengan Domestikasi: Perempuan Yogyakarta dan Drama Kesehariannya (2020) dapat menjadi salah satu titik untuk bisa menjawabnya. Terlebih lagi, buku ini membahas sejarah busana di Yogyakarta, wilayah yang kerap digadang-gadang sebagai pusat budaya Jawa. Poin yang jadi sangat penting juga adalah soal busana yang ternyata jadi bentuk pengekangan perempuan.


Gaya Busana Punya Cerita
Karya Hendra Afiyanto dan Hervina Nurullita tersebut memang bukan satu-satunya atau yang pertama membahas soal sejarah penampilan. Beberapa tulisan lain dikaji kedua penulis ini untuk memperlihatkan betapa menariknya, dan penting, sesungguhnya menelusuri transformasi gaya berpakaian untuk memahami masyarakat. Berangkat dari pengalaman pribadi pula, yang melihat keragaman gaya berpakaian, sungguh beresonansi dengan banyak pengalaman keseharian kita. Kedua penulis memilih suatu periode penting, yakni 1950–1970 untuk diamati, terlebih karena pada era inilah masifnya perubahan penampilan masyarakat Yogyakarta semenjak Indonesia merdeka (hal. 7).
Ada tiga poin utama yang jadi perhatian. Pertama, soal penerimaan masyarakat terhadap apa yang sering disebut Westernisasi. Kedua, soal pembagian masyarakat dalam menghadapi Westernisasi tersebut, terlebih bila bertolak dari pakem budaya yang sudah ada di Yogyakarta di bawah Kesultanan. Ketiga, soal penampilan yang bukan hanya gaya, melainkan juga komunikasi sosial (hal. 6-7).


Karena ketiga poin itu, perlu sekali untuk melihat sejarah busana di Yogyakarta dengan bertolak dari sejarah masyarakat di Yogyakarta itu sendiri, baik secara kependudukan, lingkungan, infrastruktur, maupun kelas sosial. Dari segi geografis, makin bertumbuhnya kawasan perkotaan menekan dikotomi agraris dan pesisir. Tumbuhnya perkotaan diikuti dengan peningkatan infrastruktur seperti fasilitas pendidikan, yang turut mengundang migrasi tetapi sekaligus meningkatkan capaian tingkat pendidikan warga Yogyakarta sendiri dengan makin banyaknya sarjana (hal. 36). Perubahan kependudukan ini diikuti dengan penyebaran gagasan dari luar yang makin intensif, bahkan melalui sarana rekreasi seperti bioskop (hal. 46).
Segala perkembangan tersebut, menurut Afiyanto dan Nurullita, menghasilkan Yogyakarta yang penuh keragaman. Keragaman ini yang bisa kita lihat dari gaya pakaian berbagai golongan.
Bagi golongan yang berteguh dengan gaya tradisional, model pakaian seperti pinjungan dan lurik (bagi perempuan) maupun surjan dan jarik (bagi laki-laki). Jenis-jenis pakaian tersebut kerap digunakan dalam keseharian penggunanya. Bagi perempuan, dalam beberapa keperluan resmi, pakaian yang digunakan adalah kebaya. Walaupun kebaya juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi penggunaan kebaya dianggap lebih resmi, seperti untuk keperluan sekolah di Taman Siswa.
Selain budaya Jawa, Yogyakarta tidak terlepas dengan budaya Islam. Terlebih lagi, pendidikan sebagai wahana penyebaran ide di Yogyakarta juga diisi oleh kampus Islam seperti IAIN Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga) dan UII (Universitas Islam Indonesia). Menariknya, pada masa itu, gaya berpakaian Islam di Yogyakarta tidak ditandai dengan dominasi kerudung atau hijab, tetapi justru tidak berbeda jauh dengan kelompok lain, yakni menggunakan terusan maupun kebaya. Kerudung juga sudah digunakan, tetapi sebagai pelengkap yang cara pakainya diselempangkan di kepala. Kondisi ini tidak terlepas dari pranata keIslaman itu sendiri yang pada saat itu belum menekankan gaya berpakaian tertentu.
Gaya pakaian terusan sebenarnya didorong oleh infiltrasi ide Barat, khususnya pendidikan Belanda, seperti yang dikenakan para guru. Namun, bukan hanya Belanda, melainkan ide Barat lain juga mulai masuk dan membawa tren berpakaian lain, seperti pakaian bebe dan rok petticoat. Bukan hanya pada bentuk pakaian, perubahan juga terjadi pada pola pakaian itu sendiri, seperti mulai maraknya motif bunga dan polkadot.
Tentu, bukan cuma ide yang memungkinkan lenggak-lenggok ragam pakaian itu terjadi. Modiste, alias para tukang jahit cum desainer, adalah pihak yang memungkinkan itu semua terjadi. Pelanggan mereka pada saat itu bahkan kebanyakan adalah kelas atas karena tarif jasa mereka yang mahal. Selanjutnya, segala pakaian indah yang dikenakan tersebut dilengkapi dengan riasan, yang saat itu bertumpu pada keberadaan salon.




Tangkapan gambar di dalam buku yang menunjukkan perbedaan model busana
Norma Mengatur Pakaian, Pakaian Mengatur Norma
Perubahan pada tataran material pasti selalu beriringan dengan perubahan pada tataran gagasan. Dalam hal ini, gaya berpakaian jadi medan berjumpanya ragam gagasan yang berseliweran di Yogyakarta kala itu, baik budaya Jawa, Barat, maupun Islam. Perjumpaan tersebut tidak selalu menghasilkan harmonisasi, tetapi juga gesekan. Sayangnya, yang paling terimpit gesekan tersebut adalah perempuan.
kelompok seperti Muhammadiyah dan Taman Siswa mempermasalahkan masuknya budaya Barat dalam tren berpakaian orang muda di Yogyakarta kala itu. Namun, perempuan lebih sering menjadi pusat pembicaraan, terutama menyoal “kecantikan ideal”. Kepribadian seorang perempuan dianggap sangat penting sebagai penyeimbang kecantikan tubuhnya. Seorang perempuan dianggap menjadi pemelihara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Bukan berarti laki-laki tidak terdampak oleh ide-ide soal norma tersebut. Ironisnya, justru dalam gaya berpakaian laki-laki, gaya ala Barat menjadi dominan dengan konsep necis. Necis jadi patokan berpakaian laki-laki, yang mengutamakan bersih dan rapi. Namun, bersih dan rapi di sini bukan kata sifat yang sepenuhnya netral, melainkan bersih dan rapi ala gaya berpakaian Barat.
Pada dasarnya, kedua pola tersebut menunjukkan bahwa pakaian bukan cuma cerminan budaya, melainkan juga turut menggeser norma-norma itu sendiri di masyarakat. Apalagi, pakaian juga kemudian makin bertaut dengan banyak urusan lainnya, seperti simbol sosial. Norma sebagai patokan kemudian menjadi berlapis, dari norma kesopanan, kesusilaan, agama, dan norma-norma lainnya. Menariknya, gender kemudian menjadi salah satu variabel penting dalam pergeseran maupun pergesekan norma-norma tersebut.
Apa yang terjadi kini punya kesinambungan maupun keterputusan dari berbagai kondisi di atas. Karya Afiyanto & Nurullita ini bukan cuma memaparkan apa yang terjadi, melainkan juga menjelaskan berbagai titik-titik yang memungkinkannya terjadi, seperti penyebaran bioskop, keberadaan modiste dan salon, sampai kemunculan lembaga pendidikan. Pengemasan berbagai perjalanan tersebut jadi menarik karena disertai dengan arsip-arsip seperti foto, iklan, maupun grafik. Untuk hal-hal tersebut, buku ini layak dibaca.
Judul buku: Mengurai Simpul Kelanggengan Domestikasi: Perempuan Yogyakarta dan Drama Kesehariannya
Penulis: Hendra Afiyanto & Hervina Nurullita
Penerbit: Penerbit Samudra Biru
Tahun terbit: Desember 2020 (cetakan pertama)
Tebal: xiv + 102 halaman
ISBN: 978-623-261-143-6
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Karunia Haganta. Peneliti independen.


