ITINERARY

Perjalanan Kampus di Museum ITB

Ada yang baru di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Di lantai empat gedung itu, Museum ITB diresmikan sebulan lalu. Berkunjung ke sana, saya disuguhkan pengalaman yang berbeda dari museum lain. Fasilitasnya memadukan teknologi dan arsip fisik.

Museum ITB melengkapi berdirinya beberapa museum milik kampus di Indonesia. Sebelumnya, ada Museum dan Galeri IPB Future milik IPB University dan Museum UGM milik Universitas Gadjah Mada, serta Museum Pendidikan Nasional milik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).1

Layar interaktif yang bisa digerakkan hanya dengan menggerakkan tangan di Museum ITB (Fandy Hutari)
Layar interaktif yang bisa digerakkan hanya dengan menggerakkan tangan di Museum ITB/Fandy Hutari

Profil Museum

Sejatinya, pembangunan Museum ITB sudah dilakukan sejak Agustus 2025. Peluncuran pembangunan itu menandai 105 tahun lahirnya ITB—sejak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920. Museum ITB digagas 11 orang sejak 2017.2

Kemudian, ITB melakukan kerja sama terkait donasi renovasi Museum ITB dengan Purnomo Yusgiantoro Center dan Dato Dr. Low Tuck Kwong pada November 2025.3 Purnomo Yusgiantoro Center adalah organisasi nirlaba dan pusat kajian strategis yang didirikan oleh mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro pada 2016. Sementara Dato Dr. Low Tuck Kwong merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Tahun 2022 bahkan Kwong tercatat sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia versi Forbes. Ia adalah raja batu bara kelahiran Singapura, yang kemudian menjadi warga negara Indonesia (WNI).4

Bisa jadi, Kwong pendonor paling besar untuk terwujudnya Museum ITB. Selain tersemat paling besar di plakat perak yang terpatri di ruang depan museum, di antara nama-nama lain seperti Nurhayati Subakat dari Paragon Corp, Yani Panigoro dari Medco Energy, Hari S. Budiarto, Purnomo Yusgiantoro Center, Pramono Anung, Ricky Wargakusuma, Bakti Santoso Luddin, Susilo Siswoutomo, Laboratorium Kontrol Teknik Fisika ITB, Nyoman Nuarta, T.P. Rachmat, Sakti Wahyu Trenggono, PT Chandra Asri Pacific, Cyril Noerhadi, Ateng Surachmat, dan Mohamad Deddy Gamawan. Nama Dato Low Tuck Kwong pun tersemat di dinding sebelah kiri dekat pintu akhir ruangan museum.

Pada Jumat, 3 Juli 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon ikut meresmikan pembukaan Museum ITB. Menurut Fadli, Museum ITB telah bisa mengadopsi melalui pendekatan yang lazim diterapkan di museum-museum dunia, seperti visualisasi digital, audio interaktif, dan pengalaman imersif.5

Ruang teater dome di Museum ITB (Fandy Hutari)
Ruang teater dome di Museum ITB/Fandy Hutari

Arsip Fisik hingga Digital

Sebelum masuk ke ruangan pamer yang luas berisi panel, arsip, dan sebagainya di Museum ITB, sebaiknya kita harus memahami dahulu alurnya. Di museum ini, terbagi dalam empat zona. Pertama, zona akar sejarah Institut Teknologi Bandung. Di bagian ini, saya diajak menelusuri perjalanan kampus, mulai sejak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng tahun 1920 hingga peresmian kampus ITB Jakarta pada 1 Agustus 2024 dalam panel yang dilindungi kaca.

Di setiap periode panel-panel itu, terdapat buku akademik kampus, dokumen, dan foto-foto. Terdapat mesin layar sentuh yang memuat koleksi 337 foto peresmian kampus ITB pada 2 Maret 1959, yang dihadiri Presiden Sukarno dan Mohammad Hatta. Ada pula layar sentuh yang memuat dokumentasi digital buku akademik ITB.

Di depannya terdapat panel panjang berwarna biru, yang memuat foto-foto pimpinan ITB dari masa ke masa, seperti ketua majelis wali amanat, ketua senat akademik, dan rektor. Kita bisa membaca pula narasi dan foto terkait sumbangsih dan prestasi ITB. Misalnya, Technische Hoogeschool te Bandoeng yang didirikan untuk melahirkan insinyur-insinyur terkemuka guna pembangunan yang direncanakan pemerintah kolonial di tengah krisis global usai Perang Dunia I. Ada pula sumbangsih ilmu antariksa, yang diwujudkan dengan pengelolaan Observatorium Bosscha oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB sejak 1951.

Televisi dan kamera lawas di Museum ITB (Fandy Hutari)
Televisi dan kamera lawas di Museum ITB/Fandy Hutari

Panel itu memuat juga riwayat kampus Ganesha setelah Indonesia merdeka. Disebutkan dalam narasi, ITB mengalami beberapa perubahan nama. Ketika pendudukan Jepang bernama Bandung Kogyo Daigaku, pasca-kemerdekaan menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandung—sebelum kembali dikuasai Belanda sebagai Fakultas Teknik di bawah De Nood Universiteit, yang kemudian menjadi Universiteit van Indonesie. Transisi berakhir pada 1948, saat kampus ini sepenuhnya dimiliki Indonesia dan berada di bawah Universitas Indonesia.

Kita bisa mendengar rekaman pidato Sukarno: “[…] Memang saudara-saudara pada waktu itu teknologi atau pengetahuan teknologi oleh pihak Belanda di sini adalah sama sekali untuk kepentingan mereka, bukan untuk kepentingan kita […].” Terakhir, ada layar besar yang memuat gambar buku digital sejarah aula barat dan timur ITB, yang halamannya bisa dibolak-balik dengan hanya menggerakkan tangan.

Kedua, zona jejak pencerahan riset dan pendidikan. Menurut saya, ini zona paling menarik. Sebab, ada beberapa alat pamer digital interaktif. Sebuah panel beukuran besar di sebelah kanan saat masuk ke zona kedua, memukau saya. Ada replika gading besar. Lalu, muncul animasi gajah, manusia yang tengah berburu, babi hutan, tapir, dan rusa bertanduk. Tentu ini bukan pameran tanpa makna. Namun, visualisasi lukisan zoomorphic di kawasan Sangkulirang, Kalimantan Timur; lukisan dukun (Datu Saman) di Liang Tewet, Sangkulirang, Kalimantan Timur; dan lukisan Gua Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Lemari besar dengan kumpulan barang barang riset (Fandy Hutari)
Lemari besar dengan kumpulan barang barang riset/Fandy Hutari

Lalu, berjalan sedikit, saya mendapati sebuah lemari besar yang dipenuhi benda terkait riset. Di depannya, ada dua layar sentuh yang memvisualisasikan benda-benda itu beserta deskripsinya. Misalnya, model mesin uap stasioner, neraca analitik kuno, dan fosil Tridacna. Tak kalah menarik, dipamerkan pula tiga benda hasil riset ITB untuk keperluan industri dan kebutuhan masyarakat, seperti Varuna, yakni instalasi pengolahan air mobile yang berguna untuk akses air bersih dalam situasi darurat, pengolahan air untuk kebutuhan komunal, serta kapasitas layanan dan standar air bersih; lutut prostetik multisumbu sendi lutut buatan, yakni sendi lutut buatan yang punya lebih dari satu poros gerak; dan ZEKE-03, yakni drone mikro untuk inspeksi ruang terbatas.

Bagi anak-anak, di zona ini “belajar dari alam” barangkali yang paling menarik. Wujudnya berupa layar besar yang memperlihatkan animasi hewan-hewan di hutan, seperti harimau, burung, dan trenggiling yang masing-masing terdapat nama pembuatnya. Kita bisa menciptakan animasi hewan sendiri, yang bakal terlihat di layar besar itu. Caranya dengan mengetik nama, memilih foto hewan, dan menyusun puzzle hewan itu di mesin layar sentuh di hadapan layar besar.

Ketiga, zona kehidupan kampus dari masa ke masa. Terutama bagi alumni ITB, zona ini bakal menguras nostalgia mereka soal kampus. Di sini terdapat beragam artefak yang terkait dengan kegiatan sivitas akademika ITB, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Misalnya, yang menarik perhatian saya adalah atribut pergerakan mahasiswa berupa tiga ikat kepala, masing-masing bertuliskan “Solidaritas ’95”, “Deklarasi KM-ITB”, dan “Reformasi untuk Rakyat”. Kemudian sudut yang memamerkan beberapa televisi dan kamera yang merupakan perangkat belajar dan broadcasting di ruang studio dan control room.

Pengunjung mencoba alat peraga belajar dari alam (Fandy Hutari)
Pengunjung mencoba alat peraga belajar dari alam/Fandy Hutari

Ada pula panel panjang yang mencatat aktivitas dosen dan mahasiswa ITB. Kemudian, ada panel besar yang menampilkan berbagai acara di kampus ITB. Di sudut zona ini, terdapat ruangan yang tak terlalu besar, yang sepertinya didedikasikan untuk Teknik Kimia ITB. Terdapat panel yang memperlihatkan kontribusi teknik kimia untuk Indonesia dan tokoh di balik perjalanan teknik kimia Indonesia. Terdapat juga miniatur pabrik 5, yakni unit produksi terbesar milik Pupuk Kaltim.

Terakhir, zona inspirasi masa depan. Di sini, kita bisa mengetahui tokoh-tokoh inspiratif ITB dari mesin layar sentuh besar. Jika mengklik salah satu nama tokohnya, maka bakal memuat profil, foto, gagasan, dan kontribusinya.

Puas mengelilingi museum, saya dan pengunjung lain masuk ke ruangan berbeda. Ruangan ini dipenuhi bangku mirip bioskop, disebut 360° Teater Dome. Di sini, saya mendapat pengalaman imersif lewat teknologi audiovisual yang memuat narasi, foto-foto, dan animasi di bagian atas. Kita mendapat pengalaman sinematik berupa sejarah kampus, perjalanan ilmuwan, dan kontribusi riset ITB. Maka, dengan karcis masuk Rp50.000 untuk umum dan Rp20.000 untuk mahasiswa dan alumni ITB, pengunjung bisa menikmati museum yang ruang pamernya tidak kaku dan mati. Tidak membosankan.


  1. Ester Lince Napitupulu, “Berbagai Museum Hadir di Sejumlah Perguruan Tinggi”, Kompas.id, 2023, 14 Januari, https://www.kompas.id/artikel/museum-hadir-di-sejumlah-perguruan-tinggi. ↩︎
  2. M. Naufal Hafizh, “Peluncuran Pembangunan Museum ITB: Abadikan 105 Tahun Perjalanan Ilmu Pengetahuan dan Inovasi”, ITB, 2025, 9 Agustus, https://itb.ac.id/berita/peluncuran-pembangunan-museum-itb-abadikan-105-tahun-perjalanan-ilmu-pengetahuan-dan-inovasi/62718. ↩︎
  3. Muhammad Hanif Darmawan, “ITB, Purnomo Yusgiantoro Center, dan Dato’ Low Tuck Kwong Kerja Sama Renovasi Museum”, ITB, 2025, 19 November, https://itb.ac.id/berita/itb-purnomo-yusgiantoro-center-dan-dato-low-tuck-kwong-kerja-sama-renovasi-museum/63074. ↩︎
  4. CNN Indonesia, “Profil Low Tuck Kwong, Orang Terkaya di Indonesia Penyalip Duo Hartono”, CNN Indonesia, 2022, 26 Desember, https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221226085721-92-891976/profil-low-tuck-kwong-orang-terkaya-di-indonesia-penyalip-duo-hartono/#goog_rewarded. ↩︎
  5. Anggun Nindita, “Menteri Kebudayaan Fadli Zon Resmikan Museum ITB, Hadirkan Ruang Pembelajaran Sejarah Sains, Teknologi, dan Inovasi”, ITB, 2026, 3 Juli, https://itb.ac.id/berita/menteri-kebudayaan-fadli-zon-resmikan-museum-itb-hadirkan-ruang-pembelajaran-sejarah-sains-teknologi-dan-inovasi/63588. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Fandy Hutari

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jejak Charlie Chaplin di Garut