TRAVELOG

Jalan Memutar menuju Candi Merak 

Candi kecil yang saya kunjungi di Kecamatan Karangnongko, Klaten, ini mampu menarik perhatian saya dengan cerita masa lalunya. Sebuah candi yang mampu menarik gotong royong warga sekitar dalam pembangunan ulang candi.

Namun, sebelum ke candi tersebut, saya tidak menyangka bisa melihat candi lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Saya melihat sebuah papan nama dan sebuah area yang hampir bisa saya pastikan itu adalah milik sebuah situs cagar budaya. Saya menepikan motor sejenak, lalu turun dan bertanya kepada seorang warga yang tengah mencabuti gulma di sawah.

“Iya, Mas, di sana memang ada candi,” jawab bapak itu dalam bahasa Jawa, “itu ada jalan kecil, bisa masuk lewat situ.” Ia menunjukkan sebuah jalan kecil, yang mungkin hanya cukup untuk dilewati satu motor berukuran besar. Saya berterima kasih dan segera ke sana. 

Sebuah papan nama segera terlihat jelas. Tercantum nama “Candi Karangnongko” lengkap beserta papan keterangan cagar budaya. 

Reruntuhan Candi Karangnongko (Muhammad Nur Azza)
Reruntuhan Candi Karangnongko/Muhammad Nur Azza

Candi Lain yang Minim Informasi

Saya memarkirkan motor di depan gerbang area candi yang cukup luas daripada jalan kecil tadi. Setelah berjalan melewati gerbang, saya tertegun. Candi yang saya kunjungi ini sudah runtuh total. Menyisakan alas yang berada di bawah permukaan tanah. 

Juru pelihara candi segera menghampiri dan meminta saya agar mengisi buku kunjungan. Ia lalu antusias menceritakan candi ini.

Ia menjelaskan, candi ini baru ditemukan di era modern yang tanpa sengaja ditemukan seorang petani yang sedang menggarap sawah. Namun, candi ini masih sangat kekurangan informasi. Sehingga, belum dapat dipastikan apakah corak keagamaan candi ini Hindu atau Buddha. 

Saya mengamini. Hampir semua batuan reruntuhan candi tak memberikan petunjuk. Saya lalu mencoba mengonfirmasi dengan menunjuk sebuah artefak yang saya kira sebuah lingga (tentu jika ada lingga, pasti ini adalah candi Hindu).

Juru pelihara candi menggelengkan kepala. “Bukan, Mas. Sejauh ini belum bisa dipastikan itu lingga sejati atau bukan. Bisa jadi itu adalah lingga semu yang mungkin sebuah patok area.”

Lingga semu
Lingga semu/Muhammad Nur Azza

Saya mengangguk. Sedikit kecewa lantaran tak menemukan petunjuk corak keagamaan candi. Namun demikian, saya masih bisa melihat banyak ornamen menarik, seperti relief fauna, floral, atau bahkan potongan relief manusia. 

Juru pelihara candi lalu mengajak saya kembali berkeliling. Kali ini saya dibawa ke tempat bagian-bagian candi yang masih terkubur dalam tanah. “Ekskavasi belum selesai dilakukan, Mas. Ada kemungkinan area candi masih lebih luas lagi.”

Ia lalu menunjuk sebuah fragmen candi—mungkin sebuah gawang pintu—yang sebagian masih terkubur tanah. “Ada indikasi bahwa candi ini runtuh karena terseret aliran lahar, Mas.” Sembari menggosok-gosok tanah yang ia sebut kemungkinan adalah lahar yang sudah mengeras. “Lihat, Mas, arah runtuhnya candi seakan-akan mengikuti arah aliran lahar.”

Memang demikian. Saya bisa memastikan karena di dekat sini ada sebuah sungai—lebih tepatnya jurang—yang merupakan aliran lahar dari Gunung Merapi. 

Saya kemudian diajaknya berjalan ke tempat lain. Ia menyebut ada mata air kuno di sana. Tempat itu hanya berjarak beberapa meter dari candi. Hanya saja, jalannya menuruni sebuah tebing yang tak terlalu tinggi. 

Sesampainya di bawah, saya menjumpai sebuah kolam air mata tepat di samping tebing. Kolam itu dikelilingi batuan candi. “Boleh cuci muka kok, Mas. Bersih!” Seakan mengetahui isi pikiran saya, ia mempersilakan saya untuk “menjajal” air tersebut. Airnya sungguh segar.

Jika ini memang merupakan mata air yang berkaitan dengan kompleks candi, bukan tidak mungkin tempat ini dahulu memiliki peran penting sebelum seseorang memasuki area suci. Namun, saya tidak menemukan keterangan yang dapat memastikan fungsi mata air tersebut. 

Mata air dekat candi (kiri) dan potongan-potongan keramik yang ditemukan di sekitar candi/Muhammad Nur Azza

Kemudian, setelah saya selesai membasuh muka, juru pelihara mengajak saya kembali ke atas. Katanya, ia ingin menunjukkan sesuatu sebelum saya pergi.

Sesampainya di area candi, ia lalu masuk ke pos jaga. Tak lama, ia keluar dengan membawa sebuah kotak plastik kecil. Ia lalu membukanya.

“Lihat, Mas, saya nemu banyak pecahan keramik.” Ia dengan antusias memperlihatkan isi kotak itu yang penuh pecahan-pecahan keramik indah. “Kemungkinan dari Cina, Mas. Yang ini baru saya temukan kemarin.” Ia melanjutkan sembari mengulurkan tiga potong pecahan keramik warna putih, biru, dan cokelat yang ia sebut.

Setelah puas menyibak isi kotak tersebut, saya kembali teringat tujuan awal perjalanan hari itu. Saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju candi yang sejak awal ingin saya kunjungi.

Candi Merak
Candi Merak/Muhammad Nur Azza

Ketika Warga Ikut Gotong Royong di Candi Merak

Candi berikutnya berjarak sekitar 800 meter ke arah barat laut dari Candi Karangnongko. Candi ini berlokasi di pinggir jalan pedesaan sehingga sangat memudahkan saya untuk menemukannya.

Segera terlihat pemandangan yang cukup menakjubkan: candi jangkung berdiri dengan megah dikelilingi reruntuhan batu. Berbeda dengan Candi Karangnongko yang penuh misteri, Candi Merak membawa banyak detail informasi berdasarkan laporan arkeologi Belanda.

Hal yang pertama kali menarik perhatian saya adalah Ganesha kecil yang duduk di relung candi yang menghadap jalan. Seakan-akan Ganesha tersebut siap menyambut para pelancong yang datang, termasuk saya. Namun, perlu diketahui juga, penempatan Ganesha pada candi memiliki fungsi sebagai pelindung marabahaya dan penolak bala.1

Saya segera berjalan menuju pos juru pelihara untuk mengisi buku tamu dan meminta izin dokumentasi. Di sela-sela berkeliling melihat-lihat detail candi, saya menanyakan hal utama yang membuat saya penasaran kepada juru pelihara: Mengapa dinamai Candi Merak, padahal saya tidak menemukan unsur burung merak di sini?

Menurutnya, dahulu terdapat sarang burung merak di sekitar candi. Oleh karena itu, warga sekitar menamainya Candi Merak. Cukup sederhana. 

Ganesha di relung barat candi (Muhammad Nur Azza)
Ganesha di relung barat candi/Muhammad Nur Azza

Penjelasan juru pelihara ternyata hanya membuka sebagian cerita. Selebihnya saya temukan dalam Laporan Arkeologi Hindia Belanda tahun 1925. Candi ini pertama kali dilaporkan oleh seorang pangeran Surakarta, Pangeran Hadiwijoyo. Mulanya nama candi ini adalah Candi Batara Gana yang dinamai demikian karena keberadaan patung Ganesha pada area reruntuhan candi tersebut.2

Cukup mengejutkan bagi saya karena ternyata candi ini sempat berganti nama. Nama tersebut diganti, lantaran penduduk setempat lebih mengenal nama Candi Merak. Sedangkan nama Batara Gana sendiri kemungkinan pemberian dari bekel (pejabat rendah keraton) atau panewu (pejabat setingkat distrik di Keraton Surakarta) setempat yang lebih mengerti ihwal pewayangan.3

Dari luar, bangunan ini tampak utuh. Baru ketika saya membaca laporan ekskavasi lama, saya mengetahui bahwa kondisi candi pada awal penemuannya cukup unik. Bagian atap dan kaki relatif utuh, sedangkan bagian tengah candi hilang. Penjelasannya cukup sederhana: bagian atap adalah yang pertama kali runtuh oleh gempa bumi. Reruntuhannya kemudian tertimbun di bawah tanah oleh lapisan humus bersama bagian kaki candi. Sementara, bagian tengah yang tetap menonjol di atas tanah dibongkar oleh penduduk setempat untuk keperluan bangunan, bahkan oleh pabrik setempat.4

Walau kemudian, hal yang mengharukan terjadi. Penduduk dan pengelola pabrik sangat bersedia untuk mengembalikan batuan-batuan candi tersebut guna kepentingan rekonstruksi. Bahkan salah seorang pengelola pabrik memerintahkan pembongkaran gudang yang lantainya berasal dari batuan candi tersebut untuk dikembalikan.5

Durga di relung utara (kiri) dan relung kosong Agastya/Muhammad Nur Azza

Setelah membaca laporan tersebut, saya kembali mengelilingi tubuh candi. Sulit membayangkan bahwa batu-batu yang kini tersusun rapi itu pernah menjadi lantai gudang sebuah pabrik. Jika cerita pada laporan itu benar, maka sebagian batu yang kini saya sentuh pernah menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. 

Pada sisi timur candi, terdapat tiga candi perwara yang menghadap candi utama. Ketiganya telah runtuh total, hanya menyisakan kaki candi. Sedangkan di sisi barat terdapat sisa gapura kuno dan sisa yang menunjukkan bahwa mungkin terdapat pagar keliling candi.

Pada candi utama, selain arca Ganesha di relung sisi barat, terdapat dua relung lain. Di sisi utara, ditempati oleh Durga dengan enam tangan. Di relung sisi selatan yang seharusnya dihuni arca Agastya, ternyata kosong. Menurut juru pelihara candi, sejak awal memang belum ditemukan arca Agastya. Maka lengkap sudah bahwa candi ini memiliki corak keagamaan Hindu. Terutama dengan keberadaan yoni pada bilik utama candi.

Saya akhirnya meninggalkan Candi Merak menjelang sore. Kontras rasanya. Awalnya saya berangkat hanya untuk mengunjungi Candi Merak. Namun, tanpa saya duga, perjalanan itu justru diawali dengan pertemuan tak sengaja dengan Candi Karangnongko. Dari sana saya menemukan mata air kuno, pecahan-pecahan keramik yang diduga berasal dari Cina, hingga kisah sebuah candi yang masih menyimpan begitu banyak tanda tanya. Di Candi Merak, saya justru menjumpai cerita lain tentang gotong royong warga mengembalikan batu-batu candi.


  1. Adhitama, S. (2023). Analisis Keharmonisan Antara Agama Hindu Dan Buddha Pada Candi Jawi. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(3), 330-345. https://doi.org/10.37329/jpah.v7i3.2461. ↩︎
  2. Oudheidkundig verslag … Geraadpleegd op Delpher op 08-09-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKITLV3:002512002:00001. ↩︎
  3. Ibid., hlm. 70. ↩︎
  4. Oudheidkundig verslag … Geraadpleegd op Delpher op 08-09-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKITLV3:002512002:00001 ↩︎
  5. Ibid. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Reruntuhan Kuno Tersembunyi di Parakan