TRAVELOG

Reruntuhan Kuno Tersembunyi di Parakan

Hari itu, sebetulnya saya hendak bertandang ke Magelang untuk sekadar jalan-jalan menikmati angin siang yang segar. Namun, entah mengapa, hati saya berkeinginan lain. Di Google Maps, saya dengan mendadak terpikir untuk menelusuri situs yang “terabaikan”. 

Saya mengetik kata “situs” di kolom pencarian Google Maps. Sengaja saya arahkan di daerah yang menurut perkiraan saya memang seharusnya ada situs, tepatnya di Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Betul saja, ada dua titik situs reruntuhan kuno yang menarik perhatian saya. Letaknya di Desa Bagusan, tak jauh dari Jalan Raya Parakan–Weleri. Hanya saja, lokasi persis situs itu membuat saya ragu. Google Maps mengatakan, situs itu berada di dalam kerimbunan bukit.

Saya tak gentar. Malah merasa tertantang. Mendapatkan lokasi reruntuhan dengan cara blusukan menurut saya malah menjadi kesan tersendiri. 

Tampak depan Situs Setapan yang kemungkinan sengaja disusun (Muhammad Nur Azza)
Tampak depan Situs Setapan yang kemungkinan sengaja disusun/Muhammad Nur Azza

Situs Setapan, Reruntuhan Candi yang Menyatu dengan Alam

Mulanya, saya bertandang ke destinasi pertama, yakni Situs Setapan—begitulah yang ditampilkan Google Maps. Saya memilih ini sebagai yang pertama karena berada di urutan terdekat dari jalan raya. Meskipun jaraknya hanya beberapa meter dengan situs kedua.

Menurut Google Maps, situs ini berada di sekitar SDN Bagusan. Namun, tampaknya lokasi yang ditunjuk kurang akurat. Saya berhenti sejenak di pinggiran lapangan, di depan bangunan sekolah dasar tersebut. Melihat sekeliling, Barangkali ada petunjuk.

Saya hampir saja menyerah. Karena saya sudah berada tepat di lokasi pinpoint Maps, tetap saja tidak ada tanda-tanda artefak kuno di sana. Niatnya, saya hendak langsung saja ke situs kedua, tapi urung. Saya bertemu seorang warga. Kira-kira paruh baya usianya. Ia menyapa saya terlebih dahulu. Mungkin ia menangkap ekspresi kebingungan saya.

Nyari apa, Mas?” bapak itu bertanya. Ia meletakkan cangkul yang ia bawa—sepertinya dari kebun. “Anu, Pak, saya lagi nyari candi. Bapak pirsa napa mboten, nggih (Bapak tahu atau tidak, ya)?”

Terlihat relief yang mirip pinggang manusia. Di bawahnya terdapat sebuah fragmen antefiks/Muhammad Nur Azza
Terlihat relief yang mirip pinggang manusia. Di bawahnya terdapat sebuah fragmen antefiks/Muhammad Nur Azza

Bapak itu mengangguk, “Candinya ada di sana, di sebelah rumah itu. Pokoknya di pojok sana.” Ia menjelaskan sambil menunjukkan arah yang dimaksud. Saya segera mengiyakan dan berterima kasih karena melihat sebuah plang yang kemungkinan merujuk ke situs tersebut.

Saya segera bertandang dengan jalan kaki. Motor saya parkir karena jaraknya dekat. 

Memang betul dugaan saya. Pinpoint di Google Maps tidak akurat. Ternyata letaknya selisih sekitar 40 meter ke arah barat. Lokasi situs itu berada di samping rumah warga. Agak naik memang. Untungnya disediakan tangga yang memadai.

Sebuah papan terbuat dari besi segera terlihat. Judulnya “Candi Setapan”. Papan nama itu tampaknya sudah lama di sana. Warnanya sudah kusam dan kotor entah karena lumut atau semacamnya.

Situs ini betul-betul sudah runtuh. Bahkan sudah menyatu dengan alam. Beberapa pohon tumbuh lebat menyelimuti reruntuhan itu.

Susunan artefak yang kemungkinan bagian kaki candi (Muhammad Nur Azza)
Susunan artefak yang kemungkinan bagian kaki candi/Muhammad Nur Azza

Hal yang menarik perhatian saya pertama kali adalah reruntuhan ini kemungkinan sengaja disusun entah oleh siapa. Yang pasti, susunan itu menurut saya memang sengaja dibuat orang-orang modern.

Di sana saya menemukan beberapa fragmen batu berlumut yang masih menyimpan ukiran. Sebagian di antaranya saya kenali menyerupai bagian kaki candi dan antefiks sebagaimana dikenal dalam tipomorfologi bangunan candi Hindu-Buddha di Jawa.

Selain itu, terdapat pula susunan batu melingkar yang saya duga merupakan bekas stupa. Serta ada satu batu yang sebenarnya merupakan batu alam yang masih asli bentuknya, tetapi ada satu bagian yang entah oleh siapa sepertinya dipahat menyerupai sebuah relung memanjang super sempit dan pendek—tentu sekali lagi, ini sangat mengherankan.

Saya hanya kebingungan di sana. Salah saya karena belum riset, padahal biasanya saya selalu riset ketika akan berkunjung ke bangunan bersejarah. Setelah kembali, saya membaca artikel di Buddhazine. Dari sana saya mengetahui bahwa dari pengamatan saya, seperti dugaan mengenai bekas stupa dan susunan ulang reruntuhan, memang sejalan dengan penjelasan yang dituliskan. 

Susunan batu melingkar seperti bekas stupa/Muhammad Nur Azza
Susunan batu melingkar seperti bekas stupa/Muhammad Nur Azza

Situs Gunung Candi, Reruntuhan di Puncak Bukit

Situs kedua sebetulnya hanya berjarak sekitar 300 meter ke arah timur laut dari Candi Setapan. Hanya saja, sama sekali tidak ada akses ke sana. Situs ini memang berada di sebuah bukit yang saya lihat di peta. Posisi bukit itu betul-betul tidak ada akses jalan.

Maka yang bisa saya lakukan hanya mencari jalan terdekat yang bisa dilalui motor. Tibalah saya di sebuah tikungan yang menurut saya jadi akses terdekat. Memang betul, di sana terlihat sebuah bukit kecil yang penuh pohon di tengah lahan perkebunan warga.

Saya hanya terdiam. Sesekali melihat ke sana kemari. Mana jalannya? Saya tidak menemukan jalan ke bukit itu. Saya hanya bergumam, sudah sampai di sini masa tidak mau dilanjutkan?

Untung saja ada seorang perempuan, mungkin usianya 40 tahun. Saya menghampirinya untuk bertanya tentang candi tersebut.

“Oh, iya, Mas, memang ada candi di bukit sana. Tapi saya kurang ngerti posisinya di mana.” Ia tampaknya tak tahu menahu soal candi itu. Saya memaklumi. Ia segera menyambung kalimatnya, “Coba saya panggilkan bapak (suami) dulu, ya. Bapak biasanya suka ke sana.” Ia masuk ke rumah dan memanggil suaminya. Saya segera berterima kasih karena merasa merepotkan.

Tak lama, suami ibu itu pun segera keluar dari rumah. “Nggolek candi nggih mas (Nyari candi, ya, Mas)?” Saya mengangguk. “Tak antar, ya. Motornya diparkir di sini saja.” Ia menyuruhku untuk memindahkan motor saya yang terparkir di pinggir jalan ke halaman rumahnya.

Jalur terjal menuju situs Gunung Candi, dilihat dari arah puncak bukit (Muhammad Nur Azza)
Jalur terjal menuju situs Gunung Candi, dilihat dari arah puncak bukit/Muhammad Nur Azza

Saya diantar oleh bapak itu yang juga kemudian anaknya mengikuti. Kami melewati jalan kecil yang malah lebih mirip pematang sawah. Mungkin sekitar 100 meter dari rumah bapak itu ke kaki bukit. 

Setelah di ujung jalan itu, kami pun segera mendaki bukit. Elevasinya tidak tajam. Hanya saja memang cukup melelahkan. Mungkin sekitar setengah perjalanan, bapak itu memberhentikan kami.

“Saya nganterinnya sampai sini saja, ya. Njenengan (Anda) naik saja sampai puncak, nanti belok ke kanan, ada papringan (rumpun bambu). Candinya ada di sana.” Ia menjelaskan sambil menunjuk ke arah puncak bukit. Saya mengangguk dan berterima kasih. “Mboten napa-napa, to (Tidak apa-apa, kan)?” bapak itu memastikan. Saya mengiyakan dan paham, mungkin bapak itu sedang ada urusan lain.

Saya pun lanjut naik segera setelah bapak dan anak itu meninggalkan saya. Kini, jalannya menjadi cukup terjal. Bahkan tidak ada jalan. Saya hanya lewat di sela-sela tanaman dan pepohonan.

Sesampainya di puncak, saya segera menengok ke kanan. Benar saja, di sana terdapat rumpun bambu yang rimbun. Hanya saja, tidak ada jalan ke sana.

Dengan susah payah akhirnya saya berhasil melewati tanaman warga dan dahan-dahan pohon yang berserakan. Sampailah saya di rumpun bambu itu.

Artefak cakra (kiri) dan yoni (kanan) di situs Gunung Candi (Muhammad Nur Azza)
Artefak cakra (kiri) dan yoni (kanan) di situs Gunung Candi/Muhammad Nur Azza

Segeralah terlihat situs yang saya cari. Situs ini hanya menyisakan artefak yang bahkan jauh lebih sedikit jumlahnya daripada Situs Setapan. Terdapat sebuah papan bertuliskan “Gunung Candi” dengan jenis yang sama dengan papan di Candi Setapan. Hanya saja ada dua buah stiker yang tertempel. Tampaknya milik sebuah komunitas pegiat budaya.

Situs ini terdiri atas reruntuhan candi, yoni, dan sebuah artefak yang sangat menarik perhatian saya. yakni sebuah chakra. Sangat jarang saya melihat sebuah artefak chakra (cakra) apalagi sebesar ini. Menurut yang saya baca dari laman Buddhazine, cakra ini ternyata juga dijumpai di salah satu relief Candi Borobudur. Sangat menarik. 

Sisanya adalah reruntuhan batuan candi yang tampak seperti pojok-pojok candi, serta terdapat deret batuan yang kemungkinan adalah kaki candi. Jika mencari ketenangan, maka di sinilah tempat yang menurut saya sangat cocok. Sebuah “ruang” di tengah rindangnya rumpun bambu tampaknya cukup membuat saya bisa duduk santai di sini untuk sejenak.

Saya hanya penasaran, bagaimana artefak-artefak ini duduk diam di puncak bukit selama ratusan tahun. Apa saja yang telah “dilihatnya”?

Saya pulang tanpa benar-benar mengetahui dari masa apa kedua situs ini berasal ataupun fungsi aslinya. Justru ketidaktahuan itulah yang membuat perjalanan ini menarik. Di balik rimbunnya pepohonan, masih ada jejak-jejak masa lalu yang menunggu untuk dipahami melalui penelitian yang lebih mendalam. 


Referensi

Ana, S. (2020, Juni 17). Situs Setapan, Stupa yang Terserak. Buddhazine, https://buddhazine.com/situs-setapan-stupa-yang-terserak.
Ngasiran. (2020, Juni 16). Gunung Candi; Kecanggihan Seni Leluhur Nusantara. Buddhazine, https://buddhazine.com/gunung-candi-kecanggihan-seni-leluhur-nusantara.
Reading Borobudur. (2021, Juli 12). Candi Borobudur. Reading Borobudur, https://readingborobudur.org/candi-borobudur.
Snodgrass, A. (1992). The symbolism of the stupa. Delhi Motilal Banarsidass.
Tuyu, M., Rahadhian, P., & Herwindo, S. (2021). Relation of Typomorphology of Hindu and Buddhist Temples in the Ancient Mataram. Jurnal RISA (Riset Arsitektur), Volume 05, Nomor 02, edisi April 2021, hlm. 102-116, ISSN 2548-8074. https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4727/3260.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur