TRAVELOG

Gunung Kencana 2, Pendakian yang Menipu Perasaan

“Tiga jam saja sampai Puncak Gedongan.”

Kalimat itu diucapkan seorang warga lokal ketika aku bertanya mengenai jalur Gunung Kencana 2 sebelum memulai pendakian. Jawabannya terdengar meyakinkan. Dengan titik tertinggi sekitar 1.798 meter di atas permukaan laut, aku membayangkan gunung ini tidak akan terlalu menyulitkan. Bisa dibilang, pendakian ini masih dapat dinikmati tanpa benar-benar menguji batas kemampuan. Aku sempat melakukan riset kecil dengan menonton beberapa video di TikTok dan YouTube yang menyebut gunung ini ramah bagi pemula. Namun, ternyata aku keliru.

Pagi itu, Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 08.30, kami memulai pendakian dari base camp yang berlokasi di Kampung Rawa Gede, Desa Sirnajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Papan besar bertuliskan “Tiga Puncak Satu Jalur” menyambut kami. Tiga puncak itu adalah Puncak Gunung Terowongan (1.430 mdpl), Puncak Agung (1.725 mdpl), dan Puncak Gedongan (1.798 mdpl).

Pos retribusi pendakian Gunung Kencana 2 (Rizky Triputra)
Pos retribusi pendakian Gunung Kencana 2/Rizky Triputra

Dari Kebun menuju Hutan

Pendakian dimulai dengan melewati permukiman dan kebun warga. Rumpun pisang, talas berdaun lebar, pohon aren, dan tanaman kopi tumbuh di sekitar jalur. Kami kemudian melintasi Sungai Cidulang yang airnya mengalir jernih di antara bebatuan. Obrolan warga masih ramai dan suara kendaraan yang melintas dari arah jalan besar masih bisa kami dengar dengan jelas.

Selepas sungai, jalur membawa kami menuju Pintu Rimba. Dari sana suasana berubah. Kehidupan desa perlahan tertinggal, digantikan pepohonan besar yang menaungi jalan setapak. Akar mencuat dari tanah, lumut menyelimuti batang dan bebatuan, sementara aroma tanah basah semakin kuat tercium.

Aku mengamati sekeliling. Vegetasi hutan pegunungan bawah di Jawa Barat pada umumnya memiliki kemiripan. Di sepanjang jalur, beberapa pepohonan sekilas menyerupai puspa, rasamala, dan saninten. Pohon-pohon tersebut membentuk kanopi yang rapat dan menyediakan lingkungan teduh bagi berbagai tumbuhan di bawahnya. 

Tidak jauh setelah memasuki Pintu Rimba, kami tiba di Pos Bayangan dan berhenti sebentar untuk membasahi kerongkongan. Meski jejak kebun warga masih terlihat di sekitarnya, tempat itu seperti batas terakhir sebelum jalur benar-benar masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dari sinilah pendakian mulai terasa semakin menantang.

Setelah satu jam berjalan, kami menjumpai papan bertuliskan “Tanjakan 4G”. Namanya terdengar lucu, seolah-olah tempat itu menjanjikan sinyal telepon yang kuat. Adit sempat mengecek ponselnya dan benar saja, ia masih menerima sinyal pada titik tertentu sekitar dua hingga tiga meter dari papan tersebut.

Kami terus berjalan di tengah kemiringan jalur. Tanah, batu, dan akar yang menjadi pijakan. Di salah satu sisi berdiri kokoh pohon tua dengan banyak batang dan akar yang saling berkelindan.

Mendekati Pos 1 Leuweung Kolot, jalur semakin menanjak. Pada beberapa bagian terdapat susunan batang kayu yang dijadikan anak tangga. Setelah menaikinya satu per satu, barulah terasa betapa cepat otot paha kami bekerja lebih keras.

Anak tangga menantang setelah Pos 1 Leuweung Kolot (Rizky Triputra)
Anak tangga menantang setelah Pos 1 Leuweung Kolot/Rizky Triputra

Selepas Pos 1, kami kembali berhadapan dengan Tanjakan Rindu. Setiap undakan tangga memberi harapan bahwa tanah akan segera mendatar. Beberapa langkah kemudian, tanjakan lain kembali terlihat.

Di tengah perjalanan, suara gemericik terdengar dari balik pepohonan. Sebuah papan bertuliskan “Sumber Air” berdiri di samping aliran yang meluncur di antara batu-batu berlumut. Di sekelilingnya, pakis tumbuh subur. Beberapa memiliki pelepah panjang seperti payung kecil, kemungkinan berasal dari kelompok pakis pohon. Ada pula pakis epifit yang tumbuh menempel pada batang hanya untuk mendapatkan tempat, cahaya, dan kelembapan.

Membasuh wajah dengan air pegunungan yang dingin rasanya seperti menyegarkan kembali tubuh yang mulai kelelahan. Namun, hutan yang lembap rupanya juga mempunyai penghuni lain yang menunggu kesempatan.

Seketika saja Loekman menunjuk ke arah lengan kanannya.

Sumber air di jalur pendakian (Rizky Triputra)
Sumber air di jalur pendakian/Rizky Triputra

“Ky, ini apa?”

Aku menoleh. Seekor pacet rupanya sudah lebih dahulu menikmati makan siangnya. Tubuhnya yang semula kecil mulai membesar karena mengisap darah, sementara Loekman sama sekali tidak menyadari kapan mulai menempel. Kami tertawa sambil melepaskannya. Setelah itu, kami memeriksa tangan, kaki, sepatu, dan kaus kaki mendadak menjadi kebiasaan setiap kali berhenti. Sedikitnya aku menemukan tiga lainnya di tubuh Loekman yang menjadi sasaran pacet, sensasi perih dan gatal mulai ia rasakan selama perjalanan. 

Pacet sendiri merupakan hewan dari kelas Hirudinea, kelompok yang juga mencakup lintah. Sebutan pacet umumnya digunakan untuk jenis yang hidup di daratan lembap, seperti lantai hutan, tumpukan daun, atau semak basah. Saat menempel, pacet mengeluarkan zat antikoagulan yang membuat darah tidak cepat membeku. Itulah sebabnya bekas gigitannya kadang masih mengeluarkan darah meskipun hewan tersebut telah dilepaskan. Walau dianggap mengganggu, pacet tetap menjadi bagian dari rantai makanan dan keseimbangan ekosistem hutan.1

Setelah memastikan tidak ada lagi pacet yang menempel, kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur masih menanjak di antara pepohonan hingga akhirnya membawa kami menuju puncak pertama.

Salah satu pacet yang menempel dan mengisap di tangan (Rizky Triputra)
Salah satu pacet yang menempel dan mengisap di tangan/Rizky Triputra

Tiga Puncak dengan Ceritanya

Kami akhirnya mencapai puncak pertama, Puncak Gunung Terowongan. Kami duduk menikmati pemandangan sambil menyalakan sebatang rokok. Sadar bahwa masih ada dua puncak yang menunggu, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan.

Selepas puncak pertama, jalur sempat menurun sebelum memanjang datar dan berkelok menuju Pos 3 Galang Panjang. Pohon-pohon tumbang melintang di beberapa bagian sehingga kami harus menunduk atau melangkahinya. 

Bagian ini benar-benar banyak “bonus”, tetapi jaraknya terasa seperti tidak habis-habis. Kelelahan menumpuk sedikit demi sedikit. Gunung ini tidak menyerang kami dengan satu tanjakan berat, tetapi melalui lintasan yang terus naik dan turun tanpa memberi kepastian kapan benar-benar selesai.

Tampak Adit (depan) dan Loekman berjalan menyusuri jalur berkontur menurun sebelum Puncak Agung (Rizky Triputra)
Tampak Adit (depan) dan Loekman berjalan menyusuri jalur berkontur menurun sebelum Puncak Agung/Rizky Triputra

Mendekati Pos 4, kami menjumpai Tanjakan Awang-awang. Vegetasi bawah semakin rapat. Pakis memenuhi lereng, sulur merambat di antara pepohonan, sementara tumbuhan berdaun menyirip yang menyerupai rotan tumbuh di sisi jalur. Kami kembali mendaki dalam diam dengan keringat yang mengucur deras.

Ketika papan “Puncak Agung 1.725 mdpl” akhirnya terlihat, aku langsung memeriksa jam tangan. Pukul 13.00. Empat setengah jam sejak meninggalkan base camp dan kami baru berada di puncak kedua.

Aku dan Loekman memutuskan berhenti di Puncak Agung. Kami membuka bekal, menyalakan kompor, menggoreng pastel, lalu menyeduh kopi. Di sisi utara, Gunung Luhur berdiri tenang di seberang lembah. Sementara itu, kuminta Adit melanjutkan perjalanan saja agar mencapai Puncak Gedongan, titik tertinggi Gunung Kencana 2. Tentu saja sebagai dokumentasi perjalanan kami.

Plang-plang tiga puncak di jalur pendakian Gunung Kencana 2/Rizky Triputra

Beberapa waktu kemudian, Adit kembali dengan membawa foto dari Puncak Gedongan. Puncak ketiga itu memang tidak kucapai sendiri, tetapi setidaknya perjalanan kami hari itu tetap meninggalkan jejak di sana.

Aku tidak merasa kecewa karena memilih berhenti di Puncak Agung. Setiap orang memiliki batas, ritme, dan cara sendiri dalam menikmati gunung. Mengetahui kapan harus melanjutkan dan kapan sebaiknya berhenti juga merupakan bagian dari pengalaman pendakian sekaligus cara menurunkan ego sendiri.

Dalam perjalanan pulang, aku sadar Gunung Kencana 2 sebenarnya tidak sedang menipu siapa pun. Akulah yang terlalu percaya bahwa gunung dengan ketinggian kurang dari dua ribu meter pasti mudah didaki. Kini aku dibuat belajar kembali untuk lebih rendah hati di hadapan Gunung Kencana 2.


  1. Rizky Ega Pratama, (2026, 19 Juni), “Mengenal Hewan Pacet: Ini Ciri, Klasifikasi, dan Perannya”, Kumparan, https://kumparan.com/rizky-ega-pratama/mengenal-hewan-pacet-ini-ciri-klasifikasi-dan-perannya-27cpZRiheQp. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pendakian ke Gunung Karang dan Seni Menunggu