Pilihan EditorTravelog

Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)

Setelah sore hari mengeliling Hotel Niagara, malamnya para peserta berkumpul di ruang tengah. Acara makin seru ketika panitia membagikan doorprize bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan. Kegiatan penelusuran dan menginap di Hotel Niagara yang berlangsung dua hari satu malam makin meninggalkan kesan tak terlupakan bagi para peserta. Keesokannya, setelah salat Subuh kami diajak menikmati matahari terbit di rooftop (atap) bangunan.

Tentu saja untuk ke sana kami harus menaiki anak tangga terlebih dahulu menuju lantai empat dan lima. Kedua lantai tersebut tidak difungsikan pihak pengelola. 

Hawa dingin langsung menyelimuti begitu kaki kami tiba di bagian paling atas Hotel Niagara. Sekitar satu setengah jam saya dan peserta lainnya menikmati pemandangan kota Lawang dari atap bangunan. Udara terasa menusuk tulang. Belum lagi angin lumayan kencang turut menemani kami selama berada di sini. Uniknya, di bagian atap tersebut terdapat empat patung dewa orang Tionghoa yang ditempatkan di beberapa sudut. Keberadaan patung ini berfungsi sebagai dewa pelindung.

Beberapa peserta tak melewatkan kesempatan menaiki sebuah anjungan pandang berbentuk melingkar. Bangunan itu menjadi bagian dari lift yang ada di Hotel Niagara. Tak ketinggalan, saya pun turut naik. Namun, hanya sebentar saja karena harus bergantian dengan peserta lain.

Matahari yang menyerupai kuning telur sedikit demi sedikit naik dari ufuk timur. Sungguh pemandangan mengesankan yang tak mungkin dilewatkan. Sama seperti peserta lain, saya juga tak lupa mengabadikannya melalui kamera ponsel.

  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)
  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)

Menjelajahi Dua Lantai Teratas Hotel Niagara

Selesai menikmati pemandangan dari atap, kami langsung turun ke lantai empat dan lima. Dengan diantar seorang pekerja hotel, kami menjelajahi ruangan demi ruangan yang berada di dua lantai tersebut.

Berbeda dengan ketiga lantai di bawah yang masih kentara dengan kemewahannya dan terawat dengan baik, kondisi beberapa ruangan di lantai lima amat memprihatinkan. Dinding ruangan yang lembap sehingga cat tembok bercampur dengan warna hijau dari lumut. Tak ketinggalan pula debu yang menyelimuti lantai.

Meskipun begitu, tidak terawatnya ruangan-ruangan lantai lima justru memberi kesan tersendiri bagi para penikmat bangunan lawas. Kesannya tetap elok ketika didokumentasikan, baik foto maupun video.

Sebagaimana di lantai bawah, sisa-sisa kemewahan di lantai lima juga masih tampak. Mulai dari kusen pintu dan kaca patri di beberapa bagian jendela hingga lantai teraso bermotif yang sudah kusam.

Saya juga menyempatkan diri untuk menengok kamar mandi di area lantai yang sama. Bagian dalamnya berantakan. Mata saya juga menangkap keramik-keramik putih di tembok terlepas karena semen perekatnya sudah termakan usia. 

Karena tak digunakan, tentu saja saya menangkap suasana agak angker pada lantai paling atas yang tak terurus ini. Untung saja, kami menyusuri ruangan tersebut di pagi hari. Tak terbayangkan bagaimana kondisinya begitu malam tiba. Hal ini pula yang sempat menjadi guyonan antarpeserta untuk uji nyali dengan berdiam diri di ruangan lantai lima.

Kami kemudian turun satu tingkat ke lantai empat. Dibandingkan sebelumnya, lantai empat masih terawat meski tidak difungsikan. Pada lantai ini terdapat ruang tambahan, yaitu ruang doa yang biasa digunakan pemilik hotel. Di lantai ini juga kami sempat berada di balkon. Berbeda sekali dengan teraso di bagian dalam yang masih mulus, teraso luar menjadi kasar akibat paparan sinar matahari.

  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)
  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)

Mengingat Hotel Niagara sendiri menerapkan ornamen bergaya Art Nouveau, tidak mengherankan pada beberapa bagian ruangan terdapat hiasan menyerupai fauna dan flora untuk memperindah bangunan. Salah satunya di lantai teraso luar yang terdapat lukisan ayam, harimau, dan buah-buahan.

Setelah melihat sisa-sisa kemewahan yang masih tersisa, kami kemudian diajak menuju sebuah ruangan yang cukup luas. Sepasang mata saya langsung tertuju kepada lantai teraso bermotif bunga dengan lubang di tengahnya.

“Dulunya, ruangan ini adalah bar. Lubang-lubang yang berada di lantai teraso itu untuk menancapkan tiang-tiang kursi atau stool bar dan meja counter bar. Jadi, di tempat inilah dulunya para tamu Tuan Liem bersenang-senang. Pemandangan dari luar jendela ini mengarah langsung ke Gunung Arjuno,” kata Arief kepada para peserta sembari mengarahkan telunjuknya.

Berada dekat bar, ada beberapa ruangan lain. Menurut perkiraan Arief, ruangan-ruangan tersebut adalah kamar tidur. Sembari bercanda, ia berseloroh bahwa setelah para tamu Tuan Liem minum-minum hingga mabuk, mereka bisa langsung menuju kamar-kamar tersebut.

  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)
  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)

Kunjungan Pakubuwana X ke Vila Liem Sian Joe

Usai menjelajahi sejumlah ruangan, saya bersama peserta tur lainnya turun ke lantai tiga. Kami lalu diajak melihat mesin lift Hotel Niagara yang sudah tak berfungsi. Berdasarkan penjelasan Arief, sejak 1990-an, lift tidak dioperasikan lagi karena membutuhkan daya listrik yang sangat besar untuk menjalankannya.

“Saya memperkirakan, saat berkunjung ke Amerika, Tuan Liem melihat gedung yang ada liftnya sehingga ia pun ingin agar vilanya juga dilengkapi dengan lift. Mesin lift ini dibuat perusahaan ASEA dari Swedia yang berdiri sekitar tahun 1880-an. Jadi, mesin ini didatangkan langsung dari Eropa,” jelasnya.

Telunjuk Arief lalu menunjuk pada sebuah mesin berwarna merah yang terpasang di salah satu sisi ruangan. Mesin itu menggerakkan lift yang berada tepat di samping benda tersebut. Sementara pintu lift sendiri terdiri dari dua daun pintu kayu dan dijalankan seorang operator. Lift ini hanya mampu menampung empat orang.

Saya melongok untuk membuktikan ucapan Arief bahwa pada mesin tersebut terdapat tulisan ASEA yang memang terbukti ada. Diyakini Hotel Niagara menjadi satu-satunya bangunan tinggi yang menggunakan lift di zaman itu.

“Sebuah koran zaman Belanda pernah memuat tulisan mengenai keinginan Tuan Liem untuk membeli lift yang sama persis, baik itu bentuknya, ukurannya, dan mereknya seperti yang pernah ia lihat di gedung di Amerika sewaktu melakukan perjalanan bisnis ke sana,” tambah pria kelahiran tahun 1973 ini.

Hal menarik lainnya yang saya dapati dari Hotel Niagara adalah kepercayaan orang-orang Tionghoa berdasarkan fengsui. Mereka tidak menempatkan kamar mandi di ruang tidur. Dalam artian, kamar mandi dalam baru ditambahkan di kemudian hari. Kamar mandi yang berada di luar ruang tidur juga masih asli. Uniknya, kamar mandi dan toilet dibuat terpisah di setiap lantai.

  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)
  • Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)

Selanjutnya, ketika menjelajahi lantai dua saya juga mendapati hal menarik lainnya terkait ruang kamar tidur yang saya tempati. Kepada para peserta, Arief mengemukakan asumsinya jika dulunya ruangan dengan dua kamar ini adalah tempat tidur Liem Sian Joe.

Tentu ada alasan mengapa ia berani berpendapat demikian. Sebelum masuk ke kamar tidur, ada semacam lorong dengan gerbang berbentuk melengkung. Menurut Arief, lengkungan ini diperkirakan terpengaruh gaya arsitektur Arab yang banyak diadopsi di Eropa. Lorong tersebut tak ditemui di ruangan lain alias satu-satunya. Keyakinan alumni Universitas Pancasila Jakarta itu juga makin bertambah, tatkala mendapati inisial Liem Sian Joe di lantai teraso lorong dengan gerbang berlanggam Timur Tengah tersebut.

Berbicara mengenai kamar-kamar di Hotel Niagara, nyaris semuanya sudah berkurang keasliannya. Hanya ada sebuah kamar di lantai tiga yang bagian dalamnya masih sama sejak hotel ini dibangun. Tak ada kamar mandi di dalam ruangan. Selain itu seluruh tembok kamar juga dihiasi keramik. 

Sebagai bangunan mewah di masanya, cerita menarik tentang vila Liem Sian Joe ini ternyata menarik perhatian Sri Susuhunan Pakubuwana X dari Surakarta. Bersama rombongannya, ia pernah mengunjungi bangunan tersebut pada 1924 sebagaimana diberitakan sebuah surat kabar dari Semarang. Pemimpin Keraton Surakarta itu juga tak ketinggalan untuk mencoba lift yang ada di vila.

Memasuki Mesin Waktu di Hotel Niagara Lawang (2)
Para peserta foto bersama di atap Hotel Niagara dengan latar belakang Gunung Arjuno/Dokumentasi Panitia

Selesai menyusuri bagian dalam Hotel Niagara, saya mengempaskan tubuh ke kursi di ruang tengah yang berada di lantai satu. Kedua mata saya lalu menyapu pandangan. Dalam hati, saya bersyukur rasa penasaran akan bangunan ini akhirnya tuntas terjawab.

Ya, bisa dibilang Hotel Niagara masih terjaga dengan baik. Setidaknya, pemilik bangunan saat ini, Ongko Budiarto mampu mempertahankan keaslian bangunan tersebut sebagaimana yang dilakukan ahli waris Tuan Liem ketika lelaki itu meninggal tahun 1920. 

Keluarga Ongko Budiarto sendiri membeli bangunan vila ini pada 1960. Dua tahun kemudian bekas tempat peristirahatan keluarga Liem Sian Joe tersebut difungsikan sebagai hotel sampai sekarang. Meskipun termasuk bangunan peninggalan era kolonial, tetapi Hotel Niagara tidak masuk sebagai bangunan cagar budaya karena Kabupaten Malang belum memiliki peraturan daerah tentang cagar budaya.

Hotel Niagara menjadi pilihan wajib bagi pencinta bangunan heritage yang wajib dikunjungi seandainya datang ke Malang. Begitu memasuki bangunan ini, pengunjung seakan tersedot mesin waktu ke era kolonial Belanda.

Foto sampul:
Menikmati matahari terbit di atap Hotel Niagara Lawang/Yohannes Catur Leonardus


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang