Travelog

Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

Debu mengikuti roda belakang motor kami saat memasuki Dusun Ujung, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Para pekerja terlihat sedang mengoperasikan alat berat. Kendaraan kami terus bergerak lambat, beberapa kali kami harus berhenti sejenak saat berpapasan dengan truk dan kendaraan besar lain karena sempitnya jalan yang kami lalui ini. Di beberapa titik aspalnya sudah tidak terlihat karena tertutupi oleh tanah yang jatuh dari truk-truk pembawa material.

Tujuan perjalanan kami pada Minggu, 5 September lalu adalah untuk melihat pembangunan Sirkuit  Mandalika lebih dekat. Tapi sebelum ke sana saya dan teman perjalanan saya akan mengunjungi seseorang yang tinggal di Dusun Ebunut terlebih dulu. Dusun Ebunut merupakan satu-satunya dusun yang berada di sekitar areal sirkuit, dusun ini masih dihuni oleh warga. Sepanjang perjalanan ia bercerita tentang pengalamannya selama mengikuti proses pembangunan sirkuit dan cerita-cerita menarik yang ia temui selama liputan.

Terowongan
Terowongan/Nirma Sulpiani

Obrolan kami berhenti sejenak saat melihat kepulan debu dari roda belakang truk ketika akan memasuki terowongan (tunnel) sirkuit. Kami menghentikan perjalanan, merapatkan masker, menutup kaca helm guna menghindari debu tersebut, barulah kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah melewati dua terowongan, kami kemudian mengikuti jalan hitam beraspal, dan dari titik ini lintasan sirkuit terlihat dengan jelas sebab posisi kami saat ini hanya berjarak sekitar satu meter dengan pagar besi berwarna hijau yang mengelilingi sirkuit. 

Proses pembangunan tidak hanya berlangsung di dalam area lintasan sirkuit, di luar lintasan sirkuit pembangunan juga tetap berjalan, beberapa mesin besar berwarna oranye terlihat sedang  beroperasi, ada pula yang terparkir, tak jauh dari tempat mesin besar itu terparkir terlihat warung beratapkan terpal dengan beberapa makanan ringan tergantung di depannya.

Pembangunan di luar sirkuit
Pembangunan di luar sirkuit/Nirma Sulpiani

Kami terus bergerak pelan hingga jalan hitam beraspal pun tak terlihat, kami sudah memasuki Dusun Ebunut. Perjalanan  yang cukup jauh ditemani dengan panasnya terik matahari siang itu membuat kami merasakan dahaga, sebelum melanjutkan perjalanan kami singgah sejenak di sebuah warung untuk membeli air.

Senyum ramah pemilik warung menyambut kami. Ia pun bertanya, “Mau ke pantai ya? Sekarang sudah banyak yang berubah, jadi wajar kalau salah jalan,” katanya. Mendengar pertanyaan tersebut, kami tersenyum dan memberitahunya bahwa kami hendak menemui seseorang di Dusun Ebunut.

Perjalanan kami terus berlanjut, hingga motor kami berhenti di tengah lahan yang ditumbuhi rumput liar dengan tinggi hampir selutut. 

Berjalan dari tempat parkir, kami menghampiri dua perempuan yang sedang beristirahat di bawah pohon asam yang duduk beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Teman saya tentu cukup akrab dengan mereka, sebab ia sudah beberapa kali bertemu dan mengobrol bersama jika ia berkunjung ke dusun Ebunut. 

Yamin dan anaknya Desi, belum sempat bertanya kami sudah diberitahu, bahwa sang suami amaq (bapak) Kangkung atau akrab disapa amaq Bengkok masih pergi melaut. Ia kemudian mengajak kami duduk dan mengobrol bersama,

“Di dalam (rumah) panas, kita duduk di sini saja lebih enak,” kata Yamin. 

Ajakan Yamin terasa sangat tepat karena pemandangan yang kami jumpai saat duduk di sana terasa mengesankan, sebab posisi kami hanya berjarak beberapa meter saja dari lintasan sirkuit, tak hanya itu dari sini terlihat bukit yang berada di tengah lintasan dan bertuliskan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). ITDC merupakan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Jika nanti perhelatan MotoGP telah digelar, rasanya tempat kami duduk saat ini merupakan salah satu lokasi yang strategis untuk menyaksikan kejuaran dunia ini.

Yamin dan Desi banyak bercerita tentang pengalamannya yang tinggal di dekat lintasan sirkuit siang itu, salah satu yang paling saya ingat, yaitu cerita Yamin memberanikan dirinya mengendarai motor untuk mengantar anaknya pergi ke sekolah. 

“Sampai sekarang sebenarnya masih takut, kalau berpapasan dengan truk saya harus berhenti dulu,” kata Yamin sambil tersenyum. Cukup lama mengobrol tak terasa hari sudah sore, meskipun belum sempat bertemu dengan amaq Bengkok, berbagi cerita dengan Yamin dan Desi rasanya sudah lebih dari cukup, kami pun pamit berharap di lain kesempatan bisa bertemu kembali.

Service Road
Service road/Nirma Sulpiani

Tujuan utama dari perjalanan kami hari hari itu pun dimulai. Jalan yang kami lalui saat pulang berbeda dengan yang kami lewati ketika datang ke Dusun Ebunut. Ketika pulang kami melewati  service road. Service road merupakan sebuah jalan pendukung yang ada di lingkaran dan lingkaran luar Main Track Lane. Service road digunakan untuk jalur evakuasi ketika ada insiden kecelakaan. 

Ketika berpapasan dengan pekerja yang ada di service road, salah satu dari mereka ada yang mengangkat tangan sambil tersenyum dan berteriak, “Halo guys!” Rasanya wajar saja, sebab saat mulai melintasi service road saya selalu mendokumentasikan perjalanan menggunakan ponsel.

Sebelum meninggalkan sirkuit mandalika, kami berhenti sejenak untuk melihat dengan dekat Main Track Lane, mengambil beberapa gambar dan video untuk dokumentasi kami sebelum pembangunan sirkuit selesai.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Nirma. Menyukai perjalanan dan menonton film

Nirma. Menyukai perjalanan dan menonton film
    Artikel Terkait
    Pilihan EditorTravelog

    Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (2)

    Pilihan EditorTravelog

    Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (1)

    Travelog

    Taman Radio Bandung dan Kenangan Masa Kejayaan Musik Rekaman

    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    MotoGP Bakal Digelar di Mandalika, Intip 5 Tempat Wisata Sekitarnya