Travelog

Keramaian yang Sama Akan Datang Lagi ke Lapang Merdeka

Minggu pagi tiba. Waktunya jalan-jalan santai sekaligus memerdekakan diri dari belenggu rutinitas harian. Tujuanku untuk jalan-jalan Minggu pagi itu adalah Lapang Merdeka di pusat Kota Sukabumi.

Karena saat itu sedang tinggal di daerah Sukaraja, yang kucegat adalah angkot berwarna merah jambu trayek Sukaraja-Kota. Tatkala kuhentikan, angkot itu sudah berisi dua orang penumpang. Keduanya pria. Sesaat setelah aku menempati tempat duduk di sebelah pojok, angkot pun meluncur. Tak berapa lama, dua orang itu kemudian turun di daerah Selakaso. Buntutnya, penumpang cuma aku sendiri.

Sembari mengemudi, supir celingukan dan beberapa kali menghentikan angkotnya tatkala melihat ada orang keluar dari mulut gang atau jika ada orang hendak menyeberang jalan. Tampaknya supir berspekulasi, siapa tahu mereka itu adalah calon penumpang. Aku pun berharap pula ada penumpang lain yang naik. Namun, nyatanya tak ada tambahan penumpang hingga aku turun di Jalan Zaenal Zakse.

Angkot merah jambu trayek Sukaraja-Kota/Djoko Subinarto

Terus terang sekarang ini boleh dibilang sulit menyaksikan angkot-angkot yang melaju dengan full penumpang. Bahkan di jam-jam sibuk sekalipun. Ini bisa dijadikan tanda bahwa penumpang angkot sudah mengalami penyusutan signifikan. Jika ada yang menyebut bahwa zaman keemasan angkot telah lewat, itu sama sekali tidak berlebihan. Dulu sekali, angkot pernah jadi primadona transportasi umum. Nyaris semua kalangan terbiasa naik angkot.

Di masa silam, penumpang cenderung mengejar-ngejar angkot, karena masih banyak warga yang menjadikannya sebagai sarana transportasi utama. Sekarang justru terbalik keadaannya, angkotlah yang cenderung mencari-cari penumpang.

Era keemasan angkot mulai pudar paling tidak tatkala booming sepeda motor melanda negeri ini berkat adanya berbagai program kredit supermurah sepeda motor. Dengan uang muka cuma beberapa ratus ribu rupiah, sepeda motor anyar gres kinyis-kinyis bisa segera kita bawa pulang. Buntutnya bisa ditebak. Makin banyak saja warga memiliki sepeda motor dan kemudian memilih menggunakan sepeda motor ketimbang naik angkot. Selain menciptakan mobilitas yang lebih tinggi, menggunakan sepeda motor juga lebih irit. Katakanlah, jika menggunakan angkot ke tempat kerja harus mengeluarkan ongkos Rp75.000 per minggu, dengan motor biaya yang dikeluarkan cukup Rp20.000 per minggu. Jauh lebih irit.

Minat masyarakat menggunakan angkot kian melorot ketika muncul transportasi berbasis online yang siap dipesan setiap saat dan sigap menjemput dan mengantar konsumen langsung ke depan pintu rumah mereka. Angkot pun makin terpinggirkan.

Lagu pujian

Untuk sampai ke Lapang Merdeka, dari Jalan Zaenal Zakse aku memilih berjalan kaki menyusuri Jalan Baldes dan Jalan Mayawati yang merupakan jalan tikus menuju kawasan pusat kota. Di salah satu sudut Jalan Mayawati, sayup-sayup aku dengar lagu pujian yang dilantukan paduan suara dari sebuah gereja.

Kurang dari 15 menit, aku pun telah sampai ke depan Lapang Merdeka. Di sisi timur, tempat orang-orang masuk, tampak sebuah galon biru, lengkap dengan keran, sabun, dan wastafelnya, disediakan khusus untuk mencuci tangan. Lapang sudah disesaki pengunjung dan para pedagang yang mencari peruntungan di hari itu.

Begitu melewati pintu masuk sisi timur Lapang Merdeka, telingaku langsung disambut sayup-sayup irama lagu senam yang datang dari ujung barat lapangan. Tiga orang perempuan muda yang baru datang dari arah yang sama denganku langsung bergegas bergabung dengan orang-orang lain yang sudah mulai melakukan senam massal. Beberapa pria terlihat nyempil ikut senam di antara kaum hawa.

lapang merdeka sukabumi
Orang-orang sedang senam di Lapang Merdeka/Djoko Subinarto

Seorang anak umur sekitar 5 tahun tampak merajuk kepada ibunya ketika melihat seorang penjual mainan gelembung sabun. Anak itu merengek-rengek. Sang ibu tak kuasa. Sebotol cairan gelembung sabun berwarna merah darah beserta peniupnya pun beralih tangan dari si penjual ke anak tersebut. Sejurus kemudian, ia sudah asyik bermain gelembung sabun di salah satu sudut lapang.

Tak jauh darinya, kudapati beberapa anak muda duduk-duduk di tengah lapang. Entah apa yang mereka sedang obrolkan. Sementara, kulihat juga ada sekelompok goweser yang sedang kongkow—mungkin sedang mendiskusikan rute gowes hari itu sambil menunggu kawan-kawan mereka.

Di beberapa sudut lapang, orang-orang tampak ceria bermain bulu tangkis. Pada saat yang sama, beberapa pria muda dengan penuh semangat melakukan lompat tali (skipping). Mereka menyewa tali dari seseorang. Harga sewanya Rp5.000 per jam. Sementara, di lintasan lari beberapa orang melakukan joging ringan. Sebagian lagi hanya jalan kaki mengelilingi Lapang Merdeka untuk beberapa putaran.

lapang merdeka sukabumi
Seorang pemuda sedang bermain papan luncur/Djoko Subinarto

Dari sisi timur, aku beranjak ke ujung barat laut Lapang Merdeka. Suara musik membahana. Musik itu datang dari sebuah pengeras suara milik penyedia jasa odong-odong dan korsel mini. Tak jauh dari fasilitas odong-odong dan korsel mini ada pusat jajanan yang menawarkan makanan mulai dari sate, lontong kari, hingga bubur ayam.

Lapang Merdeka punya fasilitas yang lumayan komplet. Selain lintasan lari, juga ada lapangan voli, basket, fasilitas fitness sederhana, hingga tempat untuk bermain papan luncur.

Kini, kulihat para peserta senam sedang melakukan gerakan pendinginan. Selang sebentar, para pesenam itu berhamburan. Acara senam telah selesai. Sejurus kemudian beberapa badut karakter menampakkan diri. Mereka menyambut anak-anak yang sedang wara-wiri bersama orangtua mereka.

Badut-badut sedang berinteraksi dengan anak-anak/Djoko Subinarto

Beberapa anak memilih berfoto bersama badut-badut itu. Usai sesi foto, anak-anak itu atau orangtua mereka memasukkan sejumlah uang ke kotak di depan sang badut.

Agak jauh dari para badut, beberapa anggota Peribumi (Perkumpulan Pecinta Reptil Sukabumi) sedang melakukan unjuk kabisa memamerkan atraksi bersama seekor ular sanca batik. Orang-orang yang penasaran merubung untuk menyaksikan atraksi mereka. Ada beberapa pengunjung yang meminta berfoto dengan anggota komunitas ini.

Pagi bergeser menuju siang. Cuaca kian terik. Keramaian di tengah Lapang Merdeka menyurut. Satu per satu pengunjung beranjak meninggalkan Lapang Merdeka. Suasana mulai lengang. Di beberapa sudut, sampah terlihat berserakan. Beberapa pemulung dengan gesit memunguti sampah plastik yang akan disetorkan kepada pengepul rongsokan.

Semakin siang Lapang Merdeka pun semakin sepi. Namun, jangan khawatir, keramaian yang sama akan kembali datang ke sini Minggu pagi pekan depan.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Sampah KitaTravelog

Berkemah Tanpa Sampah, Apakah Jadi Susah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *