Travelog

Kisah di Balik Kerkhof Gombong (1)

Seorang rekan mengajak saya jalan, kali ini ke selatan Jawa Tengah, tepatnya Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Tujuan kami yakni menelusuri makam Belanda atau kerkhof di Gombong. 

“Bro, minggu depan berangkat ke Gombong mau nggak?” begitu ajakannya.

Saya pun lantas menanyakan tujuan, “Mau ke mana, Rumah Martha Tilaar, apa benteng?”

“Jelajah Kerkhof Gombong, bagimana, setuju tidak?”

“Wah, pasti, berangkat kita!”

Ia mengajak saya berangkat sehabis Subuh, katanya sekalian ngabuburit di Gombong. Saya pun mengiyakan. Sehari sebelum keberangkatan, ia mengingatkan jadwal. Maklum, kami berbeda kota. 

Pagi-pagi sekali, kami berangkat menuju titik kumpul yakni Stasiun Balapan Solo. Kami membeli tiket kereta api pergi-pulang dari Solo menuju Gombong dan sebaliknya. Dari sini, butuh waktu sekitar empat jam untuk tiba di Gombong.

Setibanya di Stasiun Gombong, ada seorang rekan yang menunggu. Awalnya kami sama-sama bingung, benar orang yang saya maksud atau bukan. Sampai akhirnya ia menyapa terlebih dulu.

Berkumpul di Rumah Martha Tilaar

Jelajah Kerkhof Gombong saya awali dari Rumah Martha Tilaar di Jalan Sempor Lama. Melangkah masuk halaman Rumah Martha Tilaar, Alona Ong dan Mas Sigit, rekan saya di Gombong menyambut kedatangan kami.

Persiapan jelajah Kerkhof Gombong berlangsung sekitar satu jam. Mulanya, kami beranjak ke jalan menuju kerkhof  di Jalan Sempor Lama, Semanding Gombong Kebumen. Dari Rumah Martha Tilaar menuju lokasi tidak sampai 10 menit, lokasinya juga tidak jauh dari Benteng Van Der Wijck.

Gapura sederhana berpagar besi siap dibuka, menanti kedatangan siapapun untuk berziarah. Selepas dipersilakan masuk, yang pertama kali saya lakukan adalah mengirim doa untuk mereka yang beristirahat dengan damai di sini. Tidak ada rasa takut saat saya menginjakan kaki dan melihat-lihat nisan yang tersisa.

Mausoleum Familie Van Burm: Makam Keluarga yang Tersisa di Kerkhof Gombong

Tengah mengabadikan setiap sudut dan nisan makam, mata saya tertuju pada satu makam yang terlihat lebih besar dari sekitarnya. Ternyata, nisan ini adalah makam keluarga—mausoleum familie van Burm.

Menengok ke dalam, mausoleum ini sudah rusak dan penuh sampah. Lebih tepatnya terbengkalai, dengan meninggalkan satu nisan milik Loucia Burm dan Pieter Peelen. 

Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi Hans Boers. Menurut keterangannya, keluarga Van Burm tertua di Gombong adalah Charles Louis Burm kelahiran 27 September 1805, wafat 25 November 1895. Tidak diketahui tinggal di mana semasa hidupnya, hanya keterangan lahir dan wafat yang ditemukan. 

“Charles Louis Burm, menikah dua kali, pernikahan pertama dengan keluarga Hammerich, dan pernikahan kedua dengan keluarga Boomhoff,” jelasnya. “Cuma, semuanya tidak ditemukan catatan hidupnya.” 

Istri pertama Charles Louis Burm bernama Carolina Frederik Hammerich kelahiran 7 Maret 1838, wafat 5 Desember 1854. Pernikahan mereka dikaruniai sekitar 5 anak, salah satunya Loucia Burm kelahiran 12 Mei 1851. Istri kedua bernama C.W. Burm-Bomhoff kelahiran 23 September 1923, wafat 10 Oktober 1893.

Loucia Burm istri dari Pieter Peelen, seorang prajurit militer KNIL Gombog. Pieter Peelen kelahiran Den Haag 12 Januari 1837, wafat 10 Maret 1910. Pernikahan keduanya digelar di Karanganyar, Kebumen pada 02 Februari 1877. 

Pasca menikah mereka tinggal di Gombong dan mendirikan usaha penginapan bernama Hotel  Gombong. Sebuah penginapan prestisius di zamannya, tentunya. Selain usahanya Hotel Gombong, mereka juga membuka usaha jasa perjalanan wisata.

Wisata di Gombong? Kemungkinan iya. Wisata ke Geopark Karst Karangsambung dan Goa Jatijajar penuh dengan ornamen nama-nama orang Belanda yang bermukim di Kebumen dan sekitarnya.

Sepeninggal Loucia, penginapan yang mereka rintis berakhir. Hotel Gombong terjual pada tahun 1901, atas nama Mevrouw Loucia. Hotel dan jasa wisata dijual lagi oleh Pieter Peelen, namun hingga sepeninggal Pieter Peelen, Hotel Gombong belum laku. 

Makam Maria Anna Elisabeth Cooke

Dari mausoleum familie van Burm, saya melanjutkan menuju nisan tersisa lain. Tujuan selanjutnya yakni makam perempuan muda bernama Maria Anna Elisabeth Cooke. 

Maria Anna Elisabeth lahir pada 26 Februari 1882 dan wafat 18 Mei 1884. Maria Anna Elisabeth anak dari Richard Henry Cooke III dan Carolina Frederika Prager.

“Keluarga Cooke ini rekan dari saudara saya, sama-sama meninggal di Pulau Bawean, di atas kapal HMS de Ruyter tanggal 27 Februari 1942,” lanjut Hans Boers. 

Maria Anna Eliza Cooke
Nisan milik perempuan muda, Maria Anna Eliza Cooke/Ibnu Rustamadji

Pada nisan Maria Anna Elisabeth, terdapat ukiran heraldic rumit dalam kondisi rusak dan tidak mudah untuk dibaca kembali. Padahal kalau ukiran tersebut masih utuh, akan terlacak dimana dan siapa keluarga Maria Anna Elisabeth berasal.

Floris Kraake, Perwira Militer dari Gombong

Saya berhadapan dengan makam Floris Kraake, kelahiran Utrecht 23 Juni 1824, wafat di Gombong 9 Oktober 1886. Floris Kraake, putra Jacob Kraake dan Wilhelmina Elisabeth de Nigtere. Floris Kraake menikah dua kali. Pertama dengan Georgia Alexander dan kedua dengan istri Jawa, bernama Samiem di Karanganyar Kebumen, tanggal 29 Agustus 1877.

Georgia Alexander wafat di Semarang 2 Agustus 1868, dan memiliki anak Floris Karel dan Wilhelmus Jacobus. Floris Kraake wafat sebagai pensiunan ajudan militer di Semarang. Kedua anaknya, juga berprofesi sebagai perwira militer. 

Nisan Floris Kraak,
Nisan Floris Kraak, masih ada keluarga yang menziarahinya/Ibnu Rustamadji

Wilhelmus Jacobus Kraake, anak kedua Floris Karel dan Georgia Alexander, diketahui memiliki hubungan dengan Willem Hendrik Poepaart yang sama-sama perwira militer di Gombong. Saya langsung  menuju makam milik W. H. Poepaart.

Willem Hendrik Poepaart, Saksi Perang Aceh Pertama dari Gombong

Makam Willem Hendrik Poepaart berada di sudut kiri gerbang masuk Kerkhof Gombong. Bagian nisan bertuliskan, “Hier Rust. Mijn Dierbare Man en Vader Liner Dankbare Kinderen W.H. Poepaart, geboren 16 Agustus 1857, overladen 9 April 1936”. 

Saya kira nisan asli utuh, ternyata sudah pernah dirusak dan baru selesai diperbaiki. Nisannya bertuliskan, Di sini beristirahat, suami sekaligus ayah dari anak-anak terkasih Willem Hendrik (W.H) Poepaart, lahir 16 Agustus 1857, wafat 9 April 1936”.

Bagian atas nisan sejatinya patung dewi bergaya Yunani berbahan marmer Italia. Untung saja, patung dewi tersebut tidak hilang tapi hanya digeser demi keamanan. Patung dewi Yunani berada di sudut bawah makam W.H. Poepaart. 

W.H. Poepaart lahir di Belgia 16 Agustus 1857, dan wafat di Gombong 9 April 1936. “W.H. Poepaart menikahi perempuan Jawa bernama Karsina pada 21 September 1891 di Bagelen Purworejo dan. pernikahan mereka dikaruniai 12 anak,” lanjut Hans Boer. 

Anak-anaknya, diantaranya adalah Ronsina lahir di Gombong 1891 wafat tahun 1958 di Enschede, Gedion Frederik Teo seorang perwira militer kelahiran Gombong 9 November 1906. Selain itu, Johanna Catharina kelahiran Gombong 21 April 1896 istri dari Hendrikus Hendrik, Charles Hendrik kelahiran Gombong 3 Februari 1883. 

W.H. Poepaart merupakan perwira militer Gombong, penerima medali kehormatan dari Keraton Yogyakarta. Atas dasar apa, beliau mendapatkan medali kehormatan? Ternyata, yang pertama, W.H. Poepaart lulusan terbaik sekolah perwira militer Gombong. Tidak lama kemudian. W.H. Poepaart tergabung dalam ekspedisi Perang Aceh pertama 1873-1874, dan terlibat peperangan dengan rakyat Aceh dipimpin Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah. Pihak kolonial dipimpin oleh Kohler. 

Atas kontribusinya, W.H. Poepaart pensiun sebagai veteran Perang Aceh pertama. Tak ayal, beliau mendapat penghargaan yang luar biasa dari Keraton Yogyakarta. Adapun penghargaan yang diraihnya, Kraton-Medaille, Atjeh-Kruis, dan Zilveren Medaille. W.H. Poepaart memilih Gombong sebagai tempat peristirahatan terakhir karena “welk plaatsje hij zeer life had” artinya tempat yang sangat dicintai”

“Wilhelmus Jacobus Kraake, hadir dalam pemakaman rekan militernya, beserta rekan lama dan kenalan almarhum (W.H. Poepaart),” ucap Hans Boer. Pemakaman dilakukan secara militer, hanya ucapan terima kasih dari istri dan rekan W.H. Poepaart yang bergema. 

Jadi. W.H. Poepaart adalah warga Belgia, yang berkontribusi besar terhadap Gombong dan Indonesia secara luas melalui jasanya di bidang militer. 

Selain makam Van Burm, Maria Anna Elisabeth, Floris Kraake dan W.H. Poepaart, masih ada yang menarik untuk dikulik lebih jauh. Perjalanan saya dalam jelajah Kerkhof Gombong belum berakhir, nantikan kelanjutannya!

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Yang Tertinggal di Makam Kerkhof Jalan Hang Tuah, Tegal