ItineraryPilihan Editor

Indonesia Graveyard: Merawat serta Belajar dari Makam Kuno

Setelah menjalani hidup yang panjang, setiap manusia akan berakhir dengan kematian. Makam adalah tempat peristirahatan terakhir umat manusia dan juga salah satu bentuk kebudayaan tertua yang masih bertahan, makam menjadi pengingat bagi yang hidup untuk kematian yang akan datang dan sebagai monumen bagi yang telah mati. Kita seringkali menemui makam-makam tua yang tidak diurus bahkan digusur untuk kepentingan yang lain. Orang-orang sangat menghindari yang namanya makam tua, banyak yang percaya semakin tua makam maka akan semakin angker. Selalu ada kesan mistis yang menyelubungi sebuah makam. 

Bagaimana bila ada yang menyukai berkunjung ke makam-makam tua dan menganggap makam adalah salah satu sumber pengetahuan?

Indonesia Graveyard
Kenangan Ruri dan Deni ketika menjelajah pemakaman/Ruri Hargiyono

Jawabannya bisa ditanyakan kepada Ruri Hargiyono, pendiri Indonesia Graveyard. Mengunjungi makam tua bukan lagi baginya sekedar melihat-lihat, tetapi sudah menjadi hobinya semenjak dahulu. Saya mengetahui Indonesia Graveyard dari salah seorang kontributor TelusuRI dan tertarik dengan kisah mereka sebagai salah satu komunitas pecinta makam. Ruri yang memang menyukai sejarah, mengikuti salah satu grup penggemar sejarah di Jakarta yakni Ngopi Jakarta. Di grup itu dia kemudian rajin membagikan foto-foto makam. 

“Saya kan senang ke kuburan semenjak dahulu tapi bukan karena kleniknya, kebetulan suka bangunan-bangunan tua gitu,” kata Ruri.

Di grup WhatsApp itulah akhirnya Ruri bertemu dengan Deni Priya Prasetia, yang juga gemar menyambangi makam-makam tua. Secara spontan Deni kemudian mengajak Ruri untuk pergi bersama mencari makam tua, dan pertama kalinya mereka pergi bersama pada Januari 2017 ke Tanah Cepe di Tangerang. Seusai kunjungan, masing-masing dari mereka mulai mengunggah foto yang mereka berhasil dapatkan di Instagram. Ternyata respon yang didapatkan Ruri dan Deni dari kolega mereka kurang menyenangkan.

“Ngapain sih upload foto kuburan! Menuh-menuhin timeline gue aja!” kenang Ruri tentang reaksi teman-temannya. Teman-temannya yang sempat protes tadi memberi mereka ilham untuk membuat akun khusus untuk mengunggah foto-foto makam. Dari ketidaksengajaan tersebut maka lahirlah Indonesia Graveyard. Awal mula pendirian Indonesia Graveyard ini adalah bertujuan untuk menampung hasil foto yang mereka abadikan sebagai kenangan. Tidak ada misi khusus yang diusungnya, hanya murni untuk unggah foto-foto kunjungan mereka.

Secara kebetulan, salah seorang istri dari anggota Ngopi Jakarta menawari Deni untuk tampil di salah satu stasiun TV swasta. Awalnya mereka ragu untuk menerima tawaran ini. Setelah dibujuk dan dirayu, mereka berdua akhirnya setuju untuk diwawancarai dan tampil. Dari situlah, akhirnya Indonesia Graveyard berkembang dengan semakin banyak jumlah pengikutnya di Instagram. Karena respon yang bagus, mereka sepakat untuk membagikan pengetahuan yang mereka dapat dari makam kepada khalayak umum. 

Dua tahun berselang, Deni kemudian dipanggil menghadap Sang Kuasa. Ruri diselimuti duka yang mendalam kehilangan sosok sahabat tempat dia berbagi dan mendukungnya. Deni yang mendedikasikan sebagian waktunya untuk mencintai tinggalan-tinggalan budaya masa lalu yang tersisa dalam bentuk makam. Mencintai sejarah dan pengetahuan kemudian berbagi dan saling berdiskusi. Ruri sempat kehilangan hasrat mengelola akun media sosial Indonesia Graveyard. Perlu waktu setahun bagi Ruri untuk memulihkan diri dan melanjutkan apa yang telah mereka berdua bangun. “Saya tetap blusukan ke makam, tetapi tidak saya posting karena energi untuk berbagi tiba-tiba lenyap sejak Deni tiada.” 

“Berat rasanya melakukan hal yang mengingatkan kita dengan seseorang yang dekat dengan kita,” ucapnya kepada saya.

Indonesia Graveyard sebenarnya tidak mempunyai misi yang muluk-muluk. Ruri menegaskan dirinya ingin memberikan sudut pandang baru tentang sebuah makam, bukan hanya dikenal sebagai tempat yang menyeramkan ataupun sesuatu yang berbau klenik. Makam juga bisa menjadi sumber data pengetahuan yang bisa menjelaskan kepada kita bagaimana kondisi si empu makam sebelumnya ataupun bagaimana masa saat si empu hidup. Awal mula berbagi, Ruri dan Deni ragu apakah banyak orang yang akan menyukai postingan mereka tentang makam. Lambat laun, orang-orang mulai tertarik dan juga membagikan foto-foto mereka dengan menandai Indonesia Graveyard.

Dalam menjangkau pengikutnya, terjadi dengan spontanitas, semisal Ruri lagi ada di suatu kota, Ruri mengumumkan dirinya berada di sana dan menanyakan tentang makam yang bisa dikunjungi bersama. Adanya orang-orang yang menyukai makam-makam kuno menunjukkan kepada kita bahwa antusias akan sejarah bangsa tidak pernah pudar, meski tidak begitu nampak di permukaan.

Indonesia Graveyard
Setiap nisan bisa berkisah mengenai empunya/Ruri Hargiyono

“Saya membuat Indonesia Graveyard itu sebagai ajang belajar bersama, berbagi pengetahuan dan sejarah melalui makam.”

Indonesia Graveyard juga sempat dihubungi oleh salah seorang warga asing asal Selandia Baru, Mario Grinwis, meminta tolong untuk mencari makam almarhum pamannya, Cornelis Grinwis. Mario Grinwis tahu tentang Indonesia Graveyard dari salah satu media asal Australia.  Deni dan Ruri diberi petunjuk lokasi yang ada di balik foto makam Cornelis Grinwis yang bertuliskan “Petamboeran”. Pencarian makam di TPU Petamburan yang memuat sekitar 15 ribu makam tersebut memakan waktu yang cukup lama, namun sayang usaha pencarian itu belum membuahkan hasil. Ada juga seorang perempuan paruh baya dari Inggris yang meminta tolong untuk dicarikan makam nenek buyutnya, namun pencarian tidak mungkin dilakukan karena petunjuk yang sangat minim.

Ruri seringkali dibantu oleh teman-teman yang mengikuti Indonesia Graveyard di Instagram. Ada salah seorang temannya yang bernama Emir yang ahli membaca huruf Jawa dan Arab Pegon. Dalam beberapa pertanyaan, Emir aktif membantu Ruri dalam menjawab pertanyaan para pengikut Indonesia Graveyard. Ketika saya tanya apakah Indonesia Graveyard kedepannya akan kerja sama dengan epigraf/arkeolog yang ada di Indonesia untuk penceritaan kisah selanjutnya, Ruri menjawab diplomatis. “Saya juga tidak terlalu berharap sih, karena saya melakukan hal ini karena hobi. Ketika ada orang yang berterima kasih itu sudah lebih dari cukup buat saya,” jawabnya.

Indonesia Graveyard
Makam-makam yang terlihat indah setelah dibersihkan/Ruri Hargiyono

Salah satu kegiatan Ruri lainnya ketika berkunjung ke makam adalah membersihkan makam. Buat Ruri, orang-orang yang sudah meninggal lebih mudah untuk ditolong, cukup dengan membersihkan makam mereka, selain sudah menampakkan kembali makam yang usang, juga membantu mereka yang di dalam makam beristirahat lebih tenang. “Ibaratnya makam yang sudah kita bersihkan, doa-doa keluarganya lebih cepat ketemu tempatnya. Intinya sih bagaimana kita berbuat baik untuk mereka yang sudah tiada,” jelas Ruri.

Ruri tidak berharap Indonesia Graveyard bisa berbuat banyak, tetapi setidaknya satu; menumbuhkan kesadaran masyarakat akan tinggalan budaya berupa makam. Saya melihat Ruri sebagai seorang yang berjiwa arkeolog–meski dirinya sama sekali tidak memiliki latar belakang arkeologi. 

“Ibu saya juga menyukai sejarah, mungkin saya meniru dia jadi juga menyukai sejarah.” Komunitas-komunitas kecil yang tumbuh membantu bangsa kita menjadi cerdas di luar sekolah. Dalam himpitan teknologi yang membuat generasi muda menjadi acuh dengan sejarah, sudah sepatutnya kita mulai mendorong mereka mengenal kisah dan perjuangan orang-orang terdahulu.

Menyukai sesuatu tidak mesti mengetahui dengan dalam, apabila kepedulian sudah mulai timbul, maka tinggal menunggu waktu saja untuk merawatnya.

Dalam profil Indonesia Graveyard tertulis: Bagi kami, nisan bukan hanya sebuah penanda makam, namun sebuah keindahan dan nilai budaya yang terekam dari masa silam. Salam lestari!

Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang Almarhum Deni Priya Prasetia dan segala kontribusinya pada pengetahuan tentang makam kuno.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Hutan Kota Srengseng, Denyut Jantung Biodiversitas di Tengah Deru Kendaraan Jakarta 

IntervalPilihan Editor

Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

Pilihan EditorTravelog

11 Jam Menuju Surabaya: Adu Cepat di Pemalang dan Mati Lampu di Semarang

ItineraryNusantarasa

Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Aku Kembali ke Jogja dan ke Kuburan