Arah SinggahTravelog

Gelora Semangat Konservasi Karang Pemuda Penida

Beralih ke seberang laut , kami menuju Penida dari Lembongan menggunakan perahu dari arah timur pulau ini, dekat dengan hutan mangrove yang biasa jadi tujuan wisata. Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit tanpa hambatan. Kami diingatkan bahwa Penida bukan seperti Lembongan. Pada pagi hari, jalanan utama di Penida akan mengalami kemacetan karena mobil-mobil yang menjemput turis di pelabuhan, akan parkir di pinggir jalan.

Nuansa Pulau/Tim Arah Singgah

Sesuai petunjuk Jaya usai kunjungan kami ke kantor CTC (Coral Triangle Center), kami menemui kelompok pemuda Penida yang berfokus pada pelestarian terumbu karang. Kelompok ini bernama Nuansa Pulau, baru terbentuk saat pandemi COVID-19. Pemuda adalah sumber daya manusia yang harus selalu diberdayakan, ini juga yang akhirnya menginisiasi pembentukan kelompok Nuansa Pulau.

“Kenapa anak-anak muda kita libatkan di sini? Karena mereka adalah regenerasi kita. Bukan kita ingin menyingkirkan mereka yang sudah senior atau tua, tapi kalau generasi kita nanti selanjutnya cinta dengan alam, kemudian kita ajak konservasi, itu akan memberikan peluang yang lebih besar untuk kelanjutan terumbu karang yang ada di sini,” terang I Nyoman Karyawan, ketua Nuansa Pulau, memaparkan tujuan didirikannya Nuansa Pulau. 

Meski masih mengenyam pendidikan sekolah menengah atas, I Putu Wahyu Permadi begitu bersemangat mengikuti pembelajaran dari Nuansa Pulau/Tim Arah Singgah

I Putu Wahyu Permadi, salah satu anggota Nuansa Pulau yang ikut semenjak pertama kali dirintis, mengaku senang bisa menjadi bagian dari tim. “Kita dikasih tahu untuk menanam terumbu karang supaya di Nusa Penida tuh bagus. Kan dulunya bekas rumput laut, terumbu karang banyak yang rusak.”

“Karena kalau membuat kebun rumput laut, pasti merusak karang, karena kita menanam patok, tali,” lanjutnya. Rumput laut banyak menjadi mata pencaharian warga Penida sebelum mengenal pariwisata. Hingga kini petani rumput laut masih ada, meski tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan pelaku pariwisata. Salah satu mitra dari Nuansa Pulau adalah CTC, yang membimbing pemuda-pemuda ini untuk belajar konservasi terumbu karang. Umuran anggota mereka berkisar 10-25 tahun, berasal dari sekolah dasar hingga lulus SMA.

“Selama dua tahun berdiri, kami banyak mengenal jenis terumbu karang dan cara menanamnya. Setiap ada adopter, pasti kami menanam.”

Seperti yang Jaya informasikan sebelumnya, penyerahan donasi akan dilakukan setiap ada minimal 10 donatur dan Nuansa Pulau sudah melakukan banyak penanaman fragmen terumbu karang dengan metode ikat menggunakan tali pada struktur. Dalam sebulan, mereka bisa menanam sekitar hampir 1000 fragmen terumbu karang—dengan asumsi dalam per tali ada 10 fragmen terumbu karang. 

Bibit terumbu karang akan mendapat pengawasan dan pencatatan hingga beberapa bulan ke depan/Tim Arah Singgah

Saya bertanya, apakah Leong–sapaan akrabnya—tertarik untuk merantau dan bekerja di luar Penida? Mengingat kondisi di luar Pulau Bali yang banyak mengharuskan anak mudanya untuk mencari penghidupan di tempat lain–demi kehidupan yang katanya lebih baik.

“Sampai saat ini masih belum, masih suka di sini,” ucapnya. Kegiatan sehari-hari Leong, selain bersekolah, juga membantu orang tuanya menanam rumput laut, atau mencari ikan. Sebagai anak pesisir, Leong tahu bagaimana cara menangkap ikan yang baik agar tidak merusak terumbu karang atau mengurangi populasi ikan di sana secara drastis. 

Matahari semakin terik, Leong pamit untuk mengurus sesuatu. Tinggal kami dan beberapa anggota yang menikmati hembusan angin dari laut sambil bermalas-malasan. Panorama Gunung Agung gagah menjulang, menjaga laut yang kami hadap. Raksasa itu berbaju awan tipis dengan latar langit biru, seakan meminta kami untuk tidak merasa lebih tinggi daripada makhluk lainnya.

Monitoring dan Menanti Ombak di Lautan

Pagi-pagi sekali kami dikabari bahwa pada hari ini akan ada monitoring karang yang dilakukan bersama anak-anak magang di CTC dan juga anggota dan relawan dari Nuansa Pulau. Sesampainya di sana, beberapa anggota sudah menunggu kami dan mengabarkan bahwa sebentar lagi anak-anak magang CTC akan tiba bersama seorang ahli terumbu karang. Ketika mereka datang, kami bersalaman dan saling mengenalkan diri.

Persiapan sebelum monitoring/Tim Arah Singgah

Sebelum berangkat, Pak Pras, sapaan akrab Rahmadi Prasetyo memberikan penjelasan latar belakang dan tujuan monitoring ini. Perannya adalah sebagai Coral Reef Expert Coremap Program 2022 dalam upaya pelestarian terumbu karang yang diinisiasi CTC. Beliau ini juga yang memberikan rekomendasi, aturan, dan pembelajaran kepada anggota Nuansa Pulau dalam konservasi terumbu karang. 

“Hari ini saya mau lihat struktur atau substrat yang sudah ditenggelamkan teman-teman di sini, saya mau cek kondisinya, kemudian strukturnya di dalam air dan monitoring bagaimana penyebarannya.”

“Totalnya sekitar 200 pieces dari reef star. Kita akan tentukan metode monitoring yang terbaik untuk melihat tingkat pertumbuhan di sini,” lanjutnya. 

Selanjutnya, Pak Pras menerangkan jenis karang yang akan dilakukan transplantasi yaitu karang bercabang  bergenus Acropora. Penjelasan berlanjut pada alasan pemilihan ketiga tempat yang menjadi tempat konservasi: Lembongan, Desa Ped, dan Desa Suana. Penentuan lokasi berdasarkan kondisi perairan: arus, kondisi karang di sekitar, dan substrat sea bed. Mendengar penjelasan Pak Pras yang begitu rinci, saya membayangkan diri saya seketika sedang berada di dalam kelas kuliah.

Kami mempersiapkan diri pada penerjunan pertama di belakang markas Nuansa Pulau—Desa Ped. Dari kami bertiga, Syukron yang akan mendokumentasikan kegiatan bawah air sekaligus membantu kebutuhan Pak Pras dan teman-teman. Saya dan Ayu, bersama dua teman magang dari CTC, cukup melakukan selam permukaan, memantau dari atas, karena kami belum mahir untuk melakukan penyelaman.

Menemani Pak Pras sedang monitoring karang/Tim Arah Singgah

Saat pelayaran ke titik yang dimaksud sudah tiba, arus mengalir deras, menyulitkan kami memantau kegiatan di bawah sana. Pak Pras tampak sesekali menahan badan, pengalaman lebih dari 20 tahun menyelam membuatnya terbiasa menghadapi gelombang seperti ini. Kami berpegangan pada tali yang ditambatkan di kapal untuk menghindari terbawa arus. Pak Pras mencatat setiap detil yang ia temukan di kedalaman. Syukron mengikutinya untuk membantu proses dokumentasi. Setelah menyelam, Pak Pras menyuruh kami mengikutinya untuk menyisir area sekitar untuk memastikan semua terumbu karang di sekitar dalam kondisi yang bagus.

Setelah selesai, Pak Pras kemudian mengumpulkan seluruh kru dari Nuansa Pulau untuk menyampaikan kondisi yang dilihatnya. Berdasarkan catatannya, secara umum kondisi yang ada cukup baik, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki kedepannya seperti fragmen yang terlalu besar, tali tis yang kurang kuat, arah tumbuh yang menghadap ke bawah, beberapa fragmen mati, ruang yang terlalu rapat, dan lainnya. Mimik muka para anggota berubah, dari yang santai menjadi sangat serius memperhatikan setiap detail omongan Pak Pras. Saya jadi mengerti, di sinilah pentingnya peran Pak Pras yang berpengalaman untuk mengawasi mereka untuk tumbuh kembang dan belajar.

Pemasangan fish dome/Tim Arah Singgah

Setelah dari Desa Ped, kami mulai berpindah haluan ke arah timur laut, ke arah Desa Suana untuk mengecek pemasangan kubah ikan (fish dome/fish aggregating device) yang sudah diletakkan di dasar laut di kedalaman 7-8 meter. Bersama lima penyelam lainnya, Pak Pras memindahkan kubah-kubah yang tidak beraturan, disusun dan ditata sedemikian rupa untuk memudahkan ikan keluar masuk dan membuat koloni. Kami menunggu mereka selesai, sambil ber-snorkeling-ria dipanggang matahari siang yang terik. Jauh memandang ke arah timur, saya melihat Pulau Lombok dari kejauhan, teringat perjalanan yang saya lakukan bertahun-tahun silam. Ada seok kenangan yang menyeruak dari pikiran, mengingat itu perjalanan panjang pertama saya bersama seorang teman.

Melihat bagaimana semangat teman-teman Nuansa Pulau dalam menjaga laut yang menjadi tempat hidup mereka adalah melihat keharmonisan bak nada dan lirik yang mengalun bersama.

Bagaimana jika suatu saat laut yang masih bersih ini rusak dan tidak bisa lagi menjadi mata pencaharian mereka? Optimisme Leong menatap masa depannya dan keinginannya untuk menjaga alam Penida yang masih bersih, membuat rasa optimis dan pesimis saya tumbuh dalam waktu bersamaan. Akankah pemuda seperti mereka hanya menjadi kelompok minoritas dalam membangun dan menjaga alam di negeri ini?

***

Pada Agustus 2022, TelusuRI mengunjungi Bali, Kupang, Pulau Sabu, hingga Flores Timur dalam Arah Singgah: Menyisir Jejak Kepunahan Wisata, Sosial, Budaya—sebuah perjalanan menginventarisasi tempat-tempat yang disinggahi dalam bentuk tulisan dan karya digital untuk menjadi suar bagi mereka yang ceritanya tidak tersampaikan.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan tersebut. Nantikan kelanjutan ceritanya di TelusuRI.id. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Kembali ke Fatubraun

Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Demi Hidup Terumbu Karang