Travelog

Menonton Pertunjukan Float2Nature di Teluk Kiluan

Sebagai seorang pribadi yang tiap hari mendengarkan musik dan pecinta traveling, saya pernah bermimpi untuk dapat menyaksikan musisi favorit sekaligus menikmati keindahan alam negeri ini. Akhirnya, mimpi tersebut dapat saya wujudkan di tahun 2014.

Pada tahun tersebut juga, saya dapat menghasilkan pendapatan sendiri alias sudah sah menjadi seorang pekerja yang berupah tiap bulannya. Dimulai dari sahabat saya yang mengajak kala itu untuk dapat bergabung ke salah satu konser anniversary para musisi indie tanah air di kawasan Lampung, tepatnya di Teluk Kiluan. Tanpa pikir panjang, tentu saya setuju dengan apa yang ditawarkannya. Selain itu, saya bisa menikmati hak cuti untuk pertama kalinya.

Teluk Kiluan
Gerbang Teluk Kiluan/Ruth Stepanie

Bermalam di Atas Kapal Feri Menuju Pelabuhan Bakauheni

Entah mengapa setiap akan melakukan perjalanan, saya selalu bersemangat. Terlebih untuk kali ini. Semalaman saya telah menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang peserta Float2Nature.

Stasiun Gambir adalah titik poin pertama para peserta Float2Nature. Tentu saja saya sudah bersama sahabat saya sore itu, sambil mengisi perut sebelum menaiki bus khusus menuju Pelabuhan Merak di Banten. Walau bus kami cukup nyaman, tapi tetap saja ada rasa bosan di perjalanan dari Gambir menuju Merak yang  cukup menyita waktu karena memang macet di beberapa ruas tol yang kami lalui. Seperti biasa, untuk melepas rasa bosan tentu saya mendengarkan musik dari berbagai playlist musisi favorit.

Langit telah gelap saat kami tiba di Pelabuhan Merak. Beberapa jam lagi, hari akan berganti saat bus ini memasuki salah satu kapal feri yang siap menyebrang ke kawasan Lampung. Kemudian, para penumpang dipersilakan untuk meninggalkan bus dan dapat menuju ke arah geladak kapal.

Setibanya di geladak, tentu saja saya langsung memesan segelas kopi instan dan mie dalam cup. Ah, betapa nikmatnya menikmati dua sejoli camilan ini di atas kapal yang tengah bekerja. Sesekali juga mengobrol dengan sesama penumpang kapal feri ini.

Kira-kira pukul empat pagi, saya dapat memandang cerahnya Menara Siger berdiri megah dari atas kapal ini. Benar, kami telah tiba di tanah Lampung. Untuk melanjutkan perjalanan menuju Teluk Kiluan memang masih butuh beberapa jam lagi. Oleh karena itu, tiap bus peserta berhenti sejenak di warung makan lokal untuk dapat menyantap sarapan pagi dan jika ada yang ingin membersihkan diri dipersilakan.

Setelah itu, perjalanan kembali dimulai.

Dari Lampung Selatan menuju Kota Bandar Lampung juga tidak dapat dibilang dekat. Dengan perut kenyang dan lumayan segar, saya membuka catatan perjalanan dan menulis ‘Lampung’, pertanda provinsi satu ini telah saya kunjungi.

Bus kami berhenti di salah satu perhentian, dan kami diminta panitia untuk berganti transportasi ke roda empat. Di tiap mobil yang digunakan untuk melanjutkan perjalanan menuju Teluk Kiluan ini ditempati oleh tujuh peserta. Seru!

Sepanjang perjalanan, saya dan sahabat saya dapat memiliki kenalan baru yang juga sama-sama menyukai traveling dan musik. Lebih dari tiga jam kami di mobil, dan harus berhenti beberapa kali untuk istirahat. Hingga akhirnya, pada jam dua belas siang mobil kami telah berhenti di gerbang Teluk Kiluan, samar-samar suara ombak telah menyambut kami.

Float2Nature, Pagelaran Musik di Alam Terbuka

Float2Nature yang saya ikuti bersama sahabat saya itu memang bukan edisi pertama. Tetapi entah mengapa event yang digawangi oleh band Float ini sungguh menarik dan dapat memuaskan para pesertanya.

Fasilitas yang didapat sama sekali tidak membuat kami menyesal mengikuti rangkaian acara ini selama dua hari satu malam. Selain Float, ada juga dua band lainnya yang tak kalah memesona, yakni Payung Teduh dan Banda Neira. Tiap lagu yang mereka bawakan seakan menjadi latar musik di alam terbuka nan indah di kawasan Lampung di bawah terangnya bulan saat itu.

Pagelaran seperti ini memang memiliki batasan untuk pesertanya. Manfaat yang didapatkan setelah mengikuti acara ini tentu saja memiliki kenalan dari berbagai kalangan, serta lebih dekat dengan idola.

Para peserta dapat mengobrol bahkan berenang bersama dengan para musisi indie tersebut. Tempat yang dipilih saat itu juga sangat cocok untuk menampung peserta dan para panitia. Salut saya kepada para panitia yang dapat mengorganisir pagelaran Float2Nature di Teluk Kiluan, Lampung.

Melalui perjalanan Float2Nature inilah pertama kalinya saya dapat menginjakkan kaki di Teluk Kiluan, Lampung. Di pagi hari saat hari terakhir, saya dapat menikmati lumba-lumba langsung dari habitatnya. Belasan lumba-lumba yang bermain-main di habitatnya ini tentu saja membuat kami takjub memandanginya dari atas perahu nelayan.

Seruan demi seruan dapat terdengar dari para peserta tiap kali ada lumba-lumba yang melompat keluar. Seakan mereka tahu ada tamu yang datang. Benar, tak lengkap rasanya jika ke Teluk Kiluan tidak bermain-main langsung dengan para lumba-lumba yang menggemaskan itu.

Hari terakhir Float2Nature ditutup dengan membeli oleh-oleh khas Lampung sebelum beranjak kembali menuju Pelabuhan Bakauheni. Bus kami sudah siap kembali mengantarkan menuju Ibu kota Jakarta.

Di perjalanan menuju pulang sambil berkali-kali memandang hasil jepretan foto di ponsel, saya menyadari bahwa momen perjalanan seperti ini akan sulit dilupakan seumur hidup. Bahkan saya dapat mengatakan bahwa perjalanan Float2Nature di Teluk Kiluan ini adalah salah satu self-reward terbaik yang pernah saya lakukan.

Energi saya telah bertambah untuk bekerja esok hari, dan entah perjalanan ke mana lagi akan membawa langkah saya ini selanjutnya.

Terima kasih Float2Nature. Terima kasih Lampung. Dan, tentu saja terima kasih untuk diri saya sendiri.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Melihat Lebih Dekat Rupa Perjalanan dari Kupang ke Rote Kala Pandemi