IntervalPerjalanan Lestari

Pulau Plastik: Membawa Plastik Lebih Dekat ke Dalam Diri Kita

Semua orang tahu bahwa plastik sangat berguna untuk membantu kehidupan manusia, tapi sebagian besar pasti tidak mau tahu bahwa salah satu ancaman kehidupan manusia dan bumi yang terbesar adalah plastik. Pulau Plastik, sebuah film dokumenter yang mengangkat Pulau Jawa dan Bali sebagai latar belakang tempat, mengisahkan bagaimana ancaman plastik bukan lagi senda gurau, tetapi sudah masuk ke dalam tahap memprihatinkan kehidupan laut.

Dokumenter ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Rahung Nasution dan dibintangi oleh Gede Robi, Tiza Mafira, dan Prigi Arisandi.  Juga diproduksi oleh Visinema Pictures yang bekerja sama dengan Watchdoc, Kopernik, dan Akarumput.

Dalam lima menit pertama, kita disuguhkan pemandangan sampah-sampah plastik yang ada di perairan Bali dan perairan lain di Indonesia. Pelbagai fakta juga disuguhkan; seperti 70% sampah yang ada di laut berasal dari daratan, yang mengakibatkan satu juta hewan laut mati karena sampah plastik. Kemudian adegan beralih kepada pemakaian manusia pada plastik sekali pakai dan bagaimana orang-orang dengan mudahnya membuang sampah sembarangan. Plastik yang telah jadi urat kehidupan manusia, justru sudah menjadi ancaman dalam 50 tahun terakhir.

Pulau Plastik
Poster film Pulau Plastik via Facebook/Pulau Plastik

Sudut pandang yang ditelusuri pada paruh pertama film ini adalah sudut pandang Gede Robi—vokalis band Navicula, yang juga merangkap sebagai aktivis sosial dan lingkungan. Sebagai orang Bali, Robi percaya akan hukum karmapala, apa saja perbuatan manusia pasti akan mendapat balasannya. 

Sudut pandang kemudian beralih kepada Tiza Mafira, seorang spesialis  hukum dan kebijakan perubahan iklim, yang sedang membersihkan sampah bersama para relawan di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Melihat paparan serta perjuangan keduanya dan komitmen mereka untuk berjuang melawan plastik sekali pakai, membuat saya mempertanyakan, sampai kapan plastik sekali pakai terus menghiasi laut serta pantai kita? 

Adegan beralih ke Prigi Arisandi—ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur—yang melakukan unjuk rasa mengenai impor sampah dari Amerika Serikat yang dilakukan Indonesia. Ia memprotes kebijakan yang menurutnya perlu dipertanyakan karena tampak jelas menyalahi logika berpikir. “Hanya Indonesia yang menerima impor sampah dari Amerika, yang lain menolak,” pekiknya.

Pulau Plastik
Pulau Plastik/pulauplastik.org

Masalah impor sampah plastik ini merupakan masalah yang terjadi karena regulasi Indonesia yang diakali oleh para eksportir. Negara maju enggan mengolah sampah plastik yang pengolahannya selain memakan biaya yang lebih besar, juga berdampak buruk pada lingkungan. Akibatnya, jalan keluar yang paling mudah adalah mengekspor sampah tersebut bersamaan dengan sampah kertas yang memang diimpor.

Sampah yang sudah terlanjur diimpor itu akhirnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembuatan tahu. Bukan tanpa resiko, tahu yang menjadi konsumsi manusia ini akan mengandung dioksin dari hasil pembakaran sampah plastik. Resiko yang sedikit orang ketahui di balik pemakaian sampah sebagai bahan bakar olahan makanan. 

Fakta lainnya, sampah-sampah yang mengalami degradasi berubah menjadi mikroplastik, mengisi tanah dan air dan terkandung dalam panganan yang dikonsumsi manusia seperti ikan, ayam, kambing, dan lainnya. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan permasalahan kesehatan bermacam-macam. Sebegitu mengerikannya dampak mikro plastik, saya jadi membayangkan berapa miligram mikro plastik yang sekarang menempel di tubuh ini.

Pulau Plastik
Mengumpulkan sedotan di pantai tidaklah sesusah yang kita bayangkan via YouTube/Visinema Pictures

Sebagai dokumenter, tentu saja film ini banyak menyorot fakta-fakta yang terjadi di lapangan tanpa ada kesan tabu dalam menampilkan orang membuang sampah sembarangan di jalan, di sekolah, di laut, dan di mana pun.

Meskipun sepanjang film terkesan dijejali banyak fakta, namun ada beberapa adegan yang lumayan mengistirahatkan emosi penonton sejenak seperti adegan menyanyi di keramaian, adegan mengendarai truk, dan adegan panorama kota.

Porsi antar karakter disajikan dalam waktu yang sesuai, berhasil menampilkan tiap tokoh yang mempunyai latar belakang berbeda dengan tujuan yang sama. Konklusi akhir dari film ini juga menyadarkan kita bahwa solusi mengganti plastik konvensional dengan plastik biodegradable adalah hal yang sia-sia. 

Saya bisa bilang, mustahil bagi kita untuk bebas dari plastik 100% tapi kita bisa mengurangi konsumsi plastik, apalagi plastik sekali pakai. Dokumenter ini pun hanya mengingatkan bahaya plastik bagi kehidupan kita. 

Selanjutnya, dengan fakta-fakta yang telah dibeberkan dari awal hingga akhir film, maukah kita mengurangi plastik dalam hidup kita? 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro:Geliat Sejarah dalam Literasi Media Sosial

Interval

Mengenal Budaya Toraja yang Diceritakan Faisal Oddang dalam ‘Puya ke Puya’

Perjalanan LestariTerkini

Pendekar Lingkungan: Berbagi Kebaikan untuk Bumi

Perjalanan LestariTerkini

Mengurangi Sampah dengan Memakai Pembalut Kain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Berkah dari Limbah