Travelog

Berkah dari Limbah

Bagi sebagian orang, limbah hanyalah limbah yang berakhir di tumpukan sampah. Bagi Jony, limbah adalah sebuah kesyukuran. Dengan sedikit ketelatenan dan kreatifitas, limbah kayu ulin disulapnya menjadi alat-alat rumah tangga yang memiliki nilai jual.

Jony Stiawan alias Jony Fink menyambut kedatangan kami dengan ramah di rumahnya yang terletak di Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut. Rumah kayu sederhana menyambut kami yang datang dari jauh, meneduhkan kami yang baru saja berpanas-panasan. 3 jam perjalanan yang melelahkan, ditambah dengan perbaikan jalan sedikit melambatkan laju motor kami. Sambutan Jony sekeluarga yang ramah mampu membuat kami merasa betah.

“Silahkan diminum,” ucapnya sembari menyodorkan gelas dan ceret. Kami disuruh mencoba banyu lahang atau air nira, yang untuk pertama kalinya saya cicipi. Kami bercengkrama mengenai usaha kerajinannya yang terbuat dari limbah kayu ulin. “Usaha kerajinan ini adalah usaha keluarga, jadi dibina sama-sama.” Dari bapaknya lah yang merintis kerajinan ini hingga diteruskan oleh Jony. Dari tahun 2016 mereka menggeluti usaha ini, yang bertahan hingga sekarang. Sang bapak mendapatkan keahlian ini dari belajar otodidak, mengikuti alur pikirannya yang memang kreatif. 

Limbah-limbah kayu ulin bekas pembuatan rumah dan lainnya seringkali berakhir jadi arang-arang kayu untuk keperluan dapur. “Di tangan kami, limbah-limbah tadi dikumpulkan, diolah, kemudian dijual sebagai alat-alat rumah tangga,” paparnya. Jony sangat bersemangat dalam membuat cobek. Menurutnya, cobek dari limbah ulin ini merupakan solusi dari cobek batu, yang bisa aus dan menimbulkan butiran pasir dan dibandingkan dengan cobek kayu biasa, tentu keawetannya berbeda. “Kalau dengan bahan ulin ini kan nggak ragu lagi (bakal aus),” ucapnya. 

Bahan limbah yang didapatkan tidak semerta-merta hasil mencari sendiri, ia juga bisa membelinya dari pihak ketiga. Jony menegaskan bahwa membeli dari pihak ketiga ini menjadi rentetan-saling menguntungkan- dalam menumbuhkan ekonomi. Dia seringkali menyuruh teman-temannya untuk mencarikan limbah kayu ulin dan kemudian membelinya dengan harga yang sepadan. Roda ekonomi berjalan dengan menghubungkan satu sama lain. Dalam proses pembuatannya, Jony juga mengupayakan teman-temannya yang mau ikut bekerja untuk membantunya, hitung-hitung bisa menafkahi dan mengajarkan yang lain.

Limbah Kayu Ulin
Limbah-limbah kayu ulin yang belum diolah/M. Irsyad

Limbah kayu memang tidak seperti balokan kayu yang ukurannya besar. Ukuran limbah bervariasi tergantung hasil olahan sebelumnya, kadang besar dan kadang kecil. “Bagaimanapun bahan yang datang, kita akan mencoba mengolahnya menjadi suatu barang yang bernilai lebih,” imbuhnya. Gergaji kayu dan peralatan lainnya tersedia lengkap untuk menangani berbagai ukuran limbah.

Saya disodorkan berbagai macam peralatan yang sudah jadi; sendok, garpu, centong, cobek, spatula. Saya mengambil sendok dan garpu, merasakan beratnya menjalari ujung jari saya; terasa kuat dan kokoh dibanding sendok kayu biasa. Cobeknya juga terlihat kokoh dan mengkilap karena sudah dipoles dengan polish yang aman untuk digunakan pada makanan. Siapa sih yang tidak kenal ketangguhan kayu ulin yang juga biasa disebut ‘kayu besi’? Dengan statusnya yang semakin langka, alih-alih menyelamatkannya, pemerintah malah mengeluarkan 10 tumbuhan dari jenis yang dilindungi (termasuk ulin), demi mengakomodasi kepentingan para pemodal dan pengusaha.

Limbah Kayu Ulin
Hasil kerajinan dari limbah kayu ulin buatan Jony/M. Irsyad

Pemasaran barang sekarang hanya bisa melalui media daring. Ketiadaan pameran-pameran akibat pagebluk mempengaruhi penjualan kerajinan Jony. Bagi Jony, pameran-pameran yang pernah ia ikuti bukan merupakan ajang jual beli, tetapi lebih kepada pengenalan tentang kerajinannya ke khalayak umum. Barang-barang kerajinan pun bisa dipesan sesuai selera, tingkat kerumitan yang semakin tinggi tentu akan menaikkan harga jual, tetapi sepadan dengan apa yang didapat. Jony berusaha keras mengisi celah ini dengan menyediakan apa kemauan konsumen. Untungnya, penjualan kerajinannya tidak hanya mengisi produk di Kabupaten Tanah Laut saja, tetapi sudah sampai keluar pulau seperti Jakarta. Karena masih ada ketidakstabilan, usaha kerajinan ini bukan menjadi usaha utama keluarga Jony.

Meskipun tanpa pesanan, Jony tetap rajin membuat kerajinan olahannya. Pasalnya dia menjalankan usaha ini lebih ke condong sebagai hobi, karena apapun hobi yang dilakukan tidak akan membuat bosan.

Uluran tangan dari pemerintah, terutama dari Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian disambut dengan baik oleh Jony. Pemerintah memberikan beberapa alat untuk mempermudah pembuatan kerajinan ini. Jony berkisah tentang bagaimana salah satu program yang diinisiasi dinas setempat yaitu Galianan (Gerakan Membeli Olahan Kawan), dia menceritakan bahwa program ini cukup membantunya. Pemerintah daerah juga menyediakan gedung Dekranasda dan pusat promosi, para pengrajin bisa menitipkan kerajinan mereka di rumah pasar tersebut.

Saya meminta izin untuk melihat tempat pembuatan kerajinan yang berada di samping rumahnya. Bekas bekas potongan kayu terlihat berserakan. Limbah yang belum diolah juga ada; ukuran besar dan kecil dengan berbagai warna yang memperlihatkan usia kayu. Saya perhatikan di belakang rumahnya terdapat bukit kecil. Desa ini memang terletak di antara bukit bukit yang berjejer. Sepanjang perjalanan menuju kemari, tiada henti saya menatap alam sekitar, yang menurut saya agak menjengkelkan. Sepanjang jalan yang hijau, 60% didominasi oleh perkebunan sawit. 

Dua pasang sendok dan garpu yang dibuatnya saya beli sebagai buah tangan untuk dibawa ke rumah. Sembari menikmati suguhan, saya menceritakan kepadanya bahwa saya juga ingin ekonomi daerah saya untuk terus berkembang, mampu menghidupi orang-orang sekitar. Jony adalah contoh pemuda yang mampu berdiri dengan kreativitas dan ketelatenannya. Dengan kreativitas yang terus diasah dan kejelian melihat peluang; saya yakin orang sepertinya yang akan membawa perubahan, utamanya untuk keluarga dan masyarakat sekitar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

Travelog

Singgah ke Masjid Tiban

Travelog

Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

Travelog

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun