ItineraryNusantarasa

Filosofi di Sepiring Dekke Na Niarsik dalam Adat Batak

Apa yang ada di pikiran kita jika melihat seekor ikan yang telah dimasak kemudian disajikan di depan mata? Terlihat sangat lezat, dan tentu saja ingin sekali langsung menyantapnya. Tak ada yang salah, makanan yang sudah dimasak memang ditujukan untuk disantap. Tetapi ada yang berbeda dari adat Batak dalam melihat sepiring ikan, terutama ikan mas arsik atau dekke na niarsik yang disajikan. Hidangan khas Batak satu ini selalu ada dalam tiap prosesi adat yang dijalankan. Ikan mas arsik bukan hanya sekadar masakan biasa, filosofi yang dipegang orang Batak yakni simbol akan berkat hidup selalu dipegang tiap hidangan satu ini disajikan.

Jika di Korea, kimchi adalah menu wajib di setiap rumah, pun sama halnya dengan ikan mas arsik untuk tiap rumah tangga yang ada di kampung halaman Sumatera Utara sana. Cita rasa yang dimiliki ikan mas arsik ini sangat khas. Ada rasa asam yang kecut, asin, pedas, dan tentu saja yang membuat ikan mas arsik lebih istimewa adalah adanya campuran andaliman, asam gelugur dan bunga rias (atau biasa dikenal dengan kecombrang). 

Lapo (rumah makan khas Batak) mana yang tidak menyajikan makanan khas satu ini? Percaya atau tidak, memasak dekke na niarsik ini harus memiliki kemahiran yang cukup tinggi dalam meramunya. Siapapun dia yang dapat memasak hidangan satu ini pasti memiliki nilai lebih di mata keluarga.

Ikan Arsik
Ikan mas arsik/Ruth Stephanie

Filosofi mendalam untuk sepiring dekke na niarsik

Makanan Batak termasuk salah satu yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Terlebih untuk kuliner khas satu ini. Dekke na niarsik adalah salah satu makanan yang menjadi bagian dari adat Batak yang tentu saja memiliki cerita dari mulai kelahiran, perkawinan, hingga meninggal. Angka ganjil dalam sajian dekke na niarsik ini juga memiliki filosofi masing-masing. Satu ekor dekke (ikan) melambangkan untuk mereka yang baru saja menikah, tiga ekor untuk pasangan yang baru saja memiliki anak, lima ekor untuk mereka yang baru saja memiliki cucu. Hingga tujuh ekor dekke hanya diperuntukkan untuk pemimpin bangsa Batak.

Pemberian dekke na niarsik ini juga tidak bisa asal diberikan, tidak sembarang orang boleh memberikannya. Lantas siapakah yang memiliki hak memberikan dekke kepada orang yang tengah menjalankan acara adat? Jawabannya adalah hanya hula-hula atau kerabat dari pihak istri/perempuan saja yang boleh memberikannya (biasa dikenal dengan sapaan tulang), orang tua kandung istri, saudara laki-laki istri, dan komunitas marga pihak istri. 

Ikan Arsik
Dekke na niarsik/Kate.id

Oleh karena itu, karena kuatnya adat Batak ini maka pemilihan ikan masnya pun juga harus yang terbaik dan tetap dalam keadaan utuh mulai dari kepala hingga ekor. Pemilihan ikan mas juga memiliki kepercayaan bahwa ikan mas dikenal hidup di air jernih, juga ikan yang suka sekali berenang beriringan, memiliki usia yang panjang di kawasan Danau Toba.

Dalam penyajian dekke na niarsik, sisiknya pun tidak boleh dibuang, dan tidak boleh dipotong-potong. Selain itu juga disajikan dalam posisi berenang atau kepala menghadap ke orang yang akan menerimanya. Bila jumlahnya lebih dari satu, maka dekke harus diletakan sejajar. Mengapa demikian? Ikan yang sejajar dan menghadap ke penerima diartikan bahwa dalam kehidupan dapat berjalan beriringan menuju arah dan tujuan yang sama. Selain itu juga jika ada permasalahan yang menghalangi dapat diselesaikan secara bersama oleh setiap anggota keluarga. 

Ikan Arsik
Arsik di Lapo/Ruth Stephanie

Orang Batak juga percaya penyajian dekke tidak boleh dipotong-potong karena orang yang menerimanya tidak akan memperoleh keturunan. Begitulah filosofi gambaran utuh kehidupan bagi adat Batak dalam sepiring sajian dekke na niarsik. Makanan lezat khas Batak satu ini sangat mudah didapatkan di tiap lapo yang telah berjamur di berbagai kota besar, khususnya di Jakarta.

Kuliner khas Indonesia memang kaya akan budaya yang tentu saja diturunkan dari tradisi panjang kehidupan masyarakat. Hal seperti inilah yang seharusnya semakin membuat kita bangga menjadi bangsa Indonesia, yang kaya akan budaya bahkan hingga ke ranah kuliner atau makanan.

Di daerah kamu, ada kuliner khas apa?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!
    Artikel Terkait
    EventsNusantarasa

    30 Menit di Pameran ‘Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori’

    ItineraryNusantarasa

    Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

    ItineraryNusantarasa

    Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Tahu Pong, ‘Signature Dish’ Kota Semarang