Travelog

Menjadi Manusia Pertama yang Bermalam di Curug Lojahan

Saya sedang berencana mencari tempat untuk menenangkan diri, tempat yang masih asri atau, paling tidak, yang jarang dikunjungi manusia, ketika tiba-tiba seorang kawan karib mengirimkan gambar sebuah air terjun via pesan singkat.

“Ayo ke sini akhir pekan nanti,” ia membubuhi gambar itu dengan ajakan.

Setelah menanyakan nama air terjun itu, saya lalu menelusuri internet untuk mencari informasi. Sehabis membaca banyak artikel tentang air terjun itu, saya berteriak dalam hati: “Inilah tempat yang saya cari!” Ajaibnya lagi, kawan saya itu seolah-olah mampu membaca pikiran saya. Sebelum mengatakan padanya bahwa saya ingin menenangkan diri, ia langsung saja bilang, “Kita bawa tenda. Bermalam kita nanti di sana.”

curug lojahan

Perjalanan menuju Desa Kali Tengah/Jenar Aribowo

Biasanya saat mood saya sedang seperti ini, berada di tempat sunyi hanya dalam hitungan jam takkan terasa cukup. Bermalam, minimal satu malam, selalu jadi pilihan yang akan bikin pikiran saya kembali jernih dan hati saya kembali tenang. Maklum saja, soalnya sudah sekian lama dibikin butek oleh aktivitas harian yang menjemukan.

Disebut-sebut penduduk setempat sebagai air terjun tertinggi di Jawa Tengah

Tempat itu adalah sebuah air terjun bernama Curug Lojahan. Penduduk setempat menyebutnya sebagai air terjun tertinggi se-Jawa Tengah. Letaknya di Kabupaten Batang, tepatnya di Kecamatan Blado. Tingginya sekitar 40 meter.

Menurut saya bukan ketinggian atau bentuknya yang bikin air terjun ini pantas untuk dikunjungi petualang, melainkan tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanan ke sana. Hutannya masih rapat dan medannya benar-benar ekstrem!

curug lojahan

Loket Curug Lojahan/Jenar Aribowo

Untuk ke pintu gerbang Curug Lojahan, perlu waktu sekitar dua setengah jam dari Semarang naik kendaraan roda dua. Tapi, supaya waktu tempuh jadi efisien, aplikasi penunjuk jalan di ponsel saja tidak cukup. Saya hanya membuka aplikasi peta sekadar untuk menghafalkan patokan-patokan di mana mesti berbelok, misalnya mini market, pasar, sekolah, atau kantor pemerintahan. Selebihnya, supaya cepat sampai, saya mengandalkan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias tanya sana-sini.

Setelah menggunakan “jurus” itu, kami pun tiba di lokasi dalam tempo yang telah kami prediksi. Namun di pintu masuk kami hanya menjumpai dua orang petani. Tak ada penjaga yang menarik tiket. Kami mengobrol banyak dengan bapak-bapak petani itu. Karena kami berniat pasang tenda di Curug Lojahan, kedua petani itu menyarankan agar kami menemui pengelola terlebih dahulu.

Di perkampungan, sekitar 300 meter dari pintu masuk curug, saya dan kawan kemudian bertamu ke rumah pengelola, seorang pemuda yang dipanggil Kang Udin. Ia menyambut kami dengan baik. Setelah menyampaikan maksud kami, Kang Udin pun memberi izin. Ia bahkan mempersilakan kami untuk memarkir motor di rumahnya.

curug lojahan

Rehat sejenak di trek terjala/Jenar Aribowo

“Anda berdua akan menjadi orang-orang pertama yang bermalam di sana,” ujarnya sebelum kami beranjak pergi menuju lokasi. Kami hanya meresponnya dengan senyuman kecil.

Lalu, petualangan kami menuju Curug Lojahan pun dimulai.

Dua jam jalan kaki menuju Curug Lojahan

Dari loket masuk, perlu waktu sekitar dua jam ke Curug Lojahan dengan berjalan kaki. Di awal perjalanan, kami melewati kebun teh kecil milik warga, kemudian menyusuri jalan setapak hutan.

Vegetasi sepanjang jalan begitu lebat, hampir seperti jalur turun Gunung Ungaran via Gedong Songo. Aroma yang khas—lumut hutan, kayu lapuk, dan tanah basah—menyeruak sepanjang perjalanan.

Hutan itu begitu redup dan sunyi. Hanya suara burung dan, sepertinya, owa jawa yang sering terdengar. Namun, yang paling mengganggu adalah serangga kecil, entah tawon atau nyamuk, yang sepanjang perjalanan terus mengerubungi muka. Meninggalkan lotion anti serangga di rumah adalah sebuah kebodohan.

curug lojahan

Tali pengaman di trek/Jenar Aribowo

Dua jam kami terus menempuh jalan naik turun. Beberapa sungai kecil dan kira-kira tiga shelter kami lewati sebelum tiba di lokasi. Jalur paling ekstrem adalah yang membentang setelah shelter terakhir. Di bawahnya langsung jurang curam. Tali dan akar pohon berperan sangat penting untuk keselamatan. Kami mesti hati-hati ketika melewati jalur ini. Salah satu langkah saja akan fatal akibatnya. Dari situ, masih sepuluh persen lagi jarak perjalanan yang harus kami tempuh.

Setelah perjalanan panjang yang lumayan mendebarkan, akhirnya kami tiba. Tapi, rasanya tak sia-sia. Saya jadi teringat jawaban dua orang petani tadi ketika saya bertanya apakah tempat yang akan kami datangi itu bagus atau tidak.

“Wah, bagus banget, Mas,” jawab salah seorang dari mereka dengan pancaran sinar mata yang gembira, seolah-olah keindahannya tak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya merasa jawaban itu seolah sejenak menghentikan waktu.

curug lojahan

Mengintip Curug Lojahan dari hutan/Jenar Aribowo

Dan memang begitulah yang ada di depan saya setiba di lokasi. Tempat itu hanya dikelilingi hutan dan tebing, begitu tenang dan terpencil. Suara hanya berasal dari burung-burung kecil dan air yang turun berisik dari ketinggian. Tapi sungguh, sebuah tempat yang begitu sederhana dan menenangkan.

Tantangan pamungkas

Kami kemudian mencari tempat agak lapang untuk mendirikan tenda. Kami mesti bergegas sebab hari sudah menjelang petang. Setelah tenda berdiri, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari air untuk memasak mie instan dan menyeduh kopi. Maka kami berhadapan dengan tantangan pamungkas curug ini, yakni menuruni tangga kayu 20 meter hampir vertikal menuju kaki air terjun!

Benar-benar perlu ketelitian untuk menuruninya. Tangga itu benar-benar tidak aman. Hanya rotan dan tali saja yang bisa dijadikan pegangan. Bebatuan tebing sangat licin, sebab tepat di atas tangga ada aliran kecil yang sumbernya entah dari mana.

Meski Curug Lojahan sudah dua tahun dibuka untuk umum, tangga kayu ini baru ada dua bulan terakhir. Kami bisa dibilang beruntung. Konon, dahulu pengunjung hanya mengandalkan rotan dan tali saja untuk turun. Tidak ada tangga! Orang yang fobia ketinggian pasti sudah lemas dan pusing sebelum sampai di bawah sana.

curug lojahan

Kaki air terjun/Jenar Aribowo

Dua botol air dari kaki curug pun berhasil kami bawa ke atas. Segera kami keluarkan peralatan masak, lalu kami menjerang air dan menyeduh dua cangkir kopi.

Hari perlahan menjadi gelap. Kabut tak turun meski katanya curug ini hanya satu jam saja terpaut dari Dieng. Burung-burung malam segera unjuk suara. Hujan turun sebentar. Namun, tak ada sedikit pun kegelisahan yang terasa di hati. Kami bercengkerama dalam tenda sewajarnya kawan karib, sebelum terninabobokan lelah badan dan pegal di kaki.

Ini benar-benar pengalaman berharga. Apalagi saya baru saja bangkit dari sakit panjang. Menjelajahi Curug Lojahan adalah perjalanan lumayan ekstrem pertama setelah rehat bertahun-tahun dari bertualang di alam bebas. Rasanya saya ingin kembali ke masa remaja; penuh energi menelusuri hutan dan gunung, mengenal alam lebih dekat, dan belajar lebih mencintai keindahan-keindahan yang dilimpahkan Tuhan ke bumi. Semoga.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ke pantai dan gunung untuk merasakan hidup

Ke pantai dan gunung untuk merasakan hidup
Artikel Terkait
Travelog

Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

Travelog

Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

Travelog

Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

Travelog

Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.