Semasa Corona

Corona dan Bunga yang Mekar

Barangkali tak banyak yang menyangka bahwa virus misterius yang mulai diberitakan pada ujung tahun 2019 itu akan membuat semuanya berubah drastis. Gaya hidup tak lagi sama, mimpi terpaksa ditunda.

Aku tentu saja juga mengalaminya. Harapan agar mendapat rezeki berupa pekerjaan di awal tahun tak kunjung terkonversi jadi kenyataan. Situasi dan kondisi memang sedang tak memungkinkan. Kestabilan ekonomi sedang goyang. Tak sedikit perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan karena tak sanggup menanggung beban operasional.

Akhirnya kuputuskan untuk rehat sejenak dari kancah pencarian kerja. Aku pulang.

Di rumah, aku beralih profesi menjadi tukang kebun. Seingatku, itu pekan pertama Maret 2020. Awal mulanya adalah permintaan dari bapak untuk membersihkan pekarangan di samping rumah dari rumput liar dan tumpukan pot plastik (polybag) yang tak terpakai.

Bibit-bibit tanaman di kebun rumah kami/Haviz Maulana

Tapi kemudian terpikir olehku untuk memanfaatkan kembali tanah di kantong plastik hitam itu untuk menanam bunga. Bunga-bunga milik ibuku yang tadinya tak terawat satu per satu kubongkar dan kupindahkan ke dalam pot dan pot plastik baru. Agar pertumbuhan bunga-bunga itu baik, medium tanah kucampur dengan arang sekam dan kotoran kambing. Aku juga dihibahkan beberapa bunga oleh para tetangga baik hati yang melihat kegiatanku.

Ketika bunga-bunga itu mulai tumbuh, aku mulai berpikir untuk meletakkan pot-pot di anjang-anjang (rak bunga). Tempo hari aku melihat anjang-anjang bagus di tempat penjual bunga. Tapi itu cuma kujadikan referensi. Alih-alih membeli, anjang-anjang itu kubikin saja. Toh ada adik yang bisa kumintai bantuan.

Sepertinya aku perlu cerita sedikit soal aku dan adikku. Kami berdua sebenarnya sudah lama tidak tinggal satu atap. Sejak SMA aku sudah di Muntilan, Magelang. Lepas SMA aku ke Jogja untuk kuliah. Jika ditotal, delapan tahun aku bertualang menimba ilmu di tanah seberang. Meskipun tiap libur aku pulang barang satu-dua minggu, banyak sekali proses tumbuh-kembang adikku yang terlewat olehku. Tapi waktu berlalu begitu cepat. Sekarang ia sudah kuliah di sebuah kampus di Jogja.

Kebersamaan kami ini—bapak, ibu, adikku, dan aku—barangkali adalah salah satu hal baik yang kudapat dari situasi absurd ini. Jika tak ada pandemi, entah kapan kami bisa berkumpul dalam waktu yang lama. Keributan dan perselisihan kecil tentu saja masih terjadi sekali-sekali, membangkitkan kenangan kala kami berdua masih kanak-kanak dulu. Waktu kami bocah, tak sehari pun lewat tanpa pertengkaran untuk memperebutkan sesuatu, yang bikin bapak dan ibu nesu, yang sebagian besar berakhir dengan paduan suara tangis kami berdua.

Maka, dengan bantuan adik tersayang, aku memulai proses pembuatan anjang-anjang sederhana berbahan kayu dan bambu.

Salah satu alasan aku memilih bambu adalah karena mencarinya tidak sulit. Di kampungku, sebagian besar penduduk bertani. Karena bambu sangat berguna saat menanam palawija—kacang panjang, gambas, timun, dan pare—sebagai lanjaran (tiang untuk menjalarkan tanaman), banyak yang menanam bambu di pekarangan. Fungsi bambu ternyata tak hanya untuk bikin dinding dan pagar.

Kayu kubeli di toko bangunan. Bambu kami ambil bersama bapak di halaman belakang rumah simbah (kakek). Kami pilih batang mambu yang sudah tua, berdiameter besar, serta berbatang lurus sesuai kebutuhan kami. Kami tebang batang bambu itu satu per satu. Cabang-cabang kecilnya kami bersihkan agar bambu itu aman dipegang saat dibawa pulang.

Anjang-anjang yang sudah jadi/Haviz Maulana

Setelah batang bambu kami dapat, material itu perlu didiamkan dan dijemur beberapa hari agar kulitnya menguning pertanda sudah kering. Habis itu aku dan adikku mulai bekerja. Batang kayu kami potong dan belah menjadi empat bagian sesuai ukuran yang sudah kami rancang di kertas. Selanjutnya kami bersihkan pinggirannya dan mata ruasnya agar tak melukai tangan ketika dipegang. Asyik sekali proses itu sampai-sampai aku tak sadar bahwa anjang-anjang sudah selesai. Segera kami pindahkan bunga-bunga ke sana.

Selang beberapa minggu, sebagian bunga sudah mekar dan pekarangan kami tampak lebih indah dipandang. Lumayan, bisa jadi pengobat hati yang harus bersabar menghadapi situasi saat ini. Selain itu, senang juga rasanya bisa bikin “pabrik oksigen” sendiri.

Salam hangat dari rumah kami.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sedang berjuang membangun otak agar berlogika.

Haviz Maulana

Sedang berjuang membangun otak agar berlogika.
Artikel Terkait
Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

Pilihan EditorSemasa Corona

Bermodal Percaya, Mengajar Daring Semasa Corona

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (1): Menelusuri Trotoar Cikini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *