Travelog

Serunya Meracik Bubur India, Santapan Takjil Khas Masjid Jami Pekojan Semarang

Bunyi klakson yang cukup memekakkan telinga menyambut kedatangan saya sore itu. Jalan Pekojan, Semarang, sedang macet-macetnya. Lahan parkir—alias ruas jalan—juga sangat penuh. Terpaksalah saya berjalan kaki sepanjang 500 meter dari tujuan saya: Masjid Jami Pekojan.

Saya tiba tepat saat azan Asar berkumandang. Dari kejauhan, tampak bapak-bapak berpakaian rapi, bersarung dan berpeci, memasuki areal masjid. Beberapa di antaranya memberikan senyum sapa pada saya.

bubur india
Bubur India sedang dimasak/Mauren Fitri

Sebelum Ramadan tahun ini habis, saya memang ingin sekali mampir ke Masjid Jami Pekojan buat mencicipi menu buka puasa unik yang hanya tersedia di masjid itu, yakni bubur India.

Setelah beribadah, segeralah saya menuju dapur tempat takmir masjid memasak bubur India, menu buka puasa yang sudah mentradisi di masjid ini sejak 150 tahun lalu. Bubur ini selain disajikan untuk semua pengunjung masjid yang hendak berbuka puasa dan beribadah juga dibagikan kepada masyarakat sekitar.

bubur india
Pak Ahmad Ali biasanya mulai memasak bubur India selepas Zuhur/Mauren Fitri

Saya memperhatikan sosok lelaki tua yang sedang sibuk menuangkan bubur ke dalam mangkuk-mangkuk plastik. Tangannya tampak lincah sekali. Mangkuk yang ditaruhnya dari tangan ke meja menghasilkan irama beraturan: cetok… cetok… cetok… Keahliannya menuangkan bubur dari panci ke mangkuk dengan cepat patut diacungi jempol.

Ia adalah Pak Ahmad Ali, Takmir Masjid Jami Pekojan yang menjadi generasi keempat chef bubur India. Setiap harinya, Pak Ahmad bergulat dengan rempah-rempah seperti jahe, daun serai, kayu manis, dll. demi memasak bubur untuk sekitar 200 porsi. Biasanya ia mulai memasak bubur India selepas Zuhur.

bubur india
Bubur India dituang ke mangkuk/Mauren Fitri
bubur india
Masyarakat sekitar membungkus bubur India untuk dibawa pulang/Mauren Fitri

Di atas perapian kayu, semua bumbu yang sudah dicampur dengan 23 kg beras dan santan diaduk dalam sebuah panci tembaga besar. Pak Ahmad bilang, panci tembaga yang digunakan untuk memasak bubur India adalah panci kedua selama 150 tahun terakhir. Panci generasi pertama telah dipensiunkan karena retak sehingga tak bisa digunakan lagi.

Santapan yang diperkenalkan oleh saudagar India dan Pakistan

Sembari terus menuangkan bubur ke dalam mangkuk, pria keturunan Gujarat itu bercerita pada saya tentang bubur India.

masjid jami pekojan
Sebelum disajikan, bubur disirami kuah dan ditambahi lauk/Mauren Fitri

Ternyata, yang membawa bubur India adalah para saudagar India dan Pakistan yang dulu berdagang di Semarang. Kebiasaan menyantap bubur India ini diturunkan dari generasi ke generasi. Tentu saja, agar bisa terus dinikmati, resep dan teknik memasak bubur India juga mesti terus diturunkan.

Dari tangan Pak Ahmad, mangkuk-mangkuk berpindah ke tangan-tangan lain untuk dibawa masuk ke masjid. Selanjutnya, bubur-bubur itu disirami kuah dan dilengkapi dengan lauk. Sore itu menunya opor ayam.

takjil masjid jami pekojan
Mangkuk-mangkuk bubur yang sudah disirami kuah/Mauren Fitri

Ternyata tak hanya takmir masjid yang sibuk sore itu. Para relawan juga turun tangan menyiapkan takjil. Salah seorang relawan yang sempat saya ajak mengobrol sore itu ialah Pak Irawan. Selama Ramadan kali ini, pria yang bekerja di bank itu sepulang kerja selalu datang membantu takmir masjid.

Bahan-bahan untuk memasak bubur India berasal dari para donatur masjid. Jadi, kalau ada rezeki, kamu juga bisa datang ke Masjid Jami Pekojan membawa “oleh-oleh”—entah beras, susu, kurma, atau buah-buahan—untuk disajikan sebagai santapan takjil puasa bulan Ramadan.

masjid pekojan
Pak Irawan, relawan yang sepulang kerja selalu mampir untuk membantu takmir menyajikan bubur India/Mauren Fitri

Waktu berbuka puasa hampir tiba. Orang-orang berdatangan, para takmir dan relawan semakin tekun menyiapkan santapan. Berhubung saya mesti ke tempat lain sebelum azan Magrib berkumandang, dengan berat hati saya pun berpamitan dengan Pak Ahmad dan Pak Irawan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *