Travelog

Bermain dan Belajar bersama “Art For Children” di TBY

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah salah satu tempat dilaksanakannya kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta, seperti pentas seni, pameran seni dan budaya, seminar-seminar seni dan budaya, workshop seni dan budaya, dan lain-lain.

Art For Children (AFC) salah satunya. Program TBY yang satu ini jadi tempat bagi anak-anak untuk berkreasi dengan seni. Ada beberapa kelas seni yang bisa diikuti di AFC, di antaranya teater, tari klasik, tari kreasi baru, melukis, olah vokal, dan musik.

Pada hari Minggu di bulan Februari yang lalu, orangtua mengenalkan saya pada AFC. Saya langsung tertarik dan didaftarkan untuk bergabung dengan kelompok seni teater AFC TBY.

Kami berlatih setiap hari Minggu. Setiap latihan, saya sangat bersemangat dan gembira karena saya bisa bertemu dengan teman-teman baru yang semuanya menyenangkan. Ada juga teman yang berkebutuhan khusus, yang dengan mereka kami tetap bisa kompak dan saling bekerja sama saat latihan. Usia teman-teman yang tergabung dalam teater ini bervariasi, mulai 6 hingga 15 tahun.

Concert Hall TBY dengan poster Pekan Seni Art For Children 2019/Bimo Padika

Dalam teater, kami dilatih untuk tidak malu ketika tampil di depan orang banyak, berteman dengan baik, dan saling menjaga. Kami juga berlatih ekspresi dan olah vokal. Tidak jarang guru teater kami memberi tugas membuat dialog dan menciptakan karakter sendiri yang kemudian kami tampilkan di depan. Setelah tampil, kami akan dikritik soal apa saja yang masih kurang. Supaya tidak tegang dan malu, guru teater kami selalu menyelipkan candaan ditengah-tengah kritikannya.

Hampir setahun bergabung dan berlatih di teater AFC ini, saya menjadi semakin percaya diri dan berani tampil di depan orang banyak. Selain itu, saya juga dapat mengisi waktu libur sekolah dengan kegiatan bermanfaat.

Setelah berlatih setiap minggu, tibalah saatnya pentas pentas tahunan yang menurut tradisi diadakan di akhir tahun. Pentas ini adalah buah dari latihan kami selama hampir setahun. Dalam pentas ini setiap murid akan mendapatkan peran. Kali ini saya berperan sebagai “Sampah” dalam operet “Puteri Air.” Teman-teman saya yang lain berperan sebagai hewan-hewan hutan, Pohon, Bunga, Api, Raja Api, Pangeran Sampah, dan Puteri Air. Operet ini adalah kolaborasi semua kelas seni di AFC TBY.

Sebelum pentas, saya dan teman-teman dari kelas-kelas seni lainnya berlatih bersama hampir setiap hari. Sepulang sekolah, tanpa beristirahat, saya langsung berangkat berlatih operet. Kadang kami berlatih hingga malam. Memang ada rasa lelah, tapi saya dan teman-teman lebih merasa senang; kami berlatih serius tapi santai.

Opret Puteri Air sedang ditampilan AFC/Istimewa

Kami akan pentas di Concert Hall TBY yang merupakan panggung besar bagi kami. Karena ini adalah pentas pertama saya, jelas saja ini pengalaman yang sangat berkesan. Saya merasa nervous tapi berusaha tampil dengan baik.

Hari Minggu, 17 November 2019, adalah hari besar bagi kami. Kami melakukan persiapan bersama, termasuk merias wajah dan memakai kostum sesuai karakter yang kami perankan. Pertunjukan dimulai dengan pembukaan, kemudian pertunjukan gamelan, tari-tarian dari kelas tari, pantomim, dan komedi, yang semua pelakonnya adalah anak-anak.

Ruang di Concert Hall TBY penuh sesak oleh penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan “Puteri Air.” Untuk menghilangkan grogi, saya dan teman-teman kadang melontarkan candaan. Sebelum pentas, kami berdoa bersama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Saat di panggung, adegan demi adegan kami tampilkan dengan sebaik mungkin. Pertunjukan berjalan dengan lancar dan kami mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Kami semua bersyukur.

Pertunjukan baru saja selesai tapi saya sudah rindu untuk pentas lagi, rindu proses yang kami jalani bersama, rindu dengan panggung pertunjukan. Mungkin terdengar lebay, tapi, serius, ini benar-benar proses yang menyenangkan dan berkesan. Saya bisa belajar sekaligus bermain dalam waktu yang bersamaan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Related posts
Travelog

Kulineran di Semarang dalam 4 Jam

Pilihan EditorTravelog

Depok-Dieng: Berdua di atas Roda

Travelog

Menelusuri Jejak Bosscha di Pangalengan

Pilihan EditorTravelog

Jakarta-Jogja 20 Jam: Migrasi dan Imajinasi tentang Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *