Pilihan EditorTravelog

Belajar Menumbuk Bedak Pupur, Tabir Surya Alami ala Bajo Mola

Dari jendela-jendela rumah, muka-muka berlapis warna kuning mengintip malu-malu. Di jalan-jalan yang bagaikan sebuah labirin raksasa, orang-orang dengan wajah putih seperti diberi masker tebal berjalan kasual ke sana kemari.

Sepenggal paragraf di atas bukan diambil dari adegan kartun Spirited Away dan orang-orang berwajah putih dan kuning itu bukan No-Face. Mereka adalah masyarakat Bajo yang sedang menggunakan tabir surya alami bernama bedak pupur.

bedak pupur
Seorang warga Bajo Mola memakai bedak pupur dalam rumah/Widhi Bek

Saya menyaksikan pemandangan itu akhir Maret lalu di Kampung Lepa Mola, permukiman suku Bajo di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi. Kampung itu terpaut sekitar 17 km dari Wanci, 26 km dari Bandar Udara Matohara. Ini adalah permukiman suku Bajo terpadat di Indonesia. Hanya saja, sebagian masyarakat Bajo di kampung ini sudah tidak tinggal di laut.

Selama mengulik soal bedak pupur dan budaya suku Bajo di Lepa Mola, saya ditemani seorang pemandu dari community-based tourism (CBT) setempat, Lembaga Pariwisata (Lepa) Mola, yakni Mak Nurul. Ia bercerita bahwa kabilah gipsi laut ini sudah turun-temurun memakai bedak pupur sebagai solusi masalah kecantikan dan kesehatan akibat paparan sinar matahari.

bedak pupur
Para “mamak” yang sudah terbiasa menumbuk bedak pupur/Widhi Bek

Karena sudah menjadi kultur, para penduduk Bajo Mola sama sekali tak risih pergi ke luar rumah dengan bedak pupur di wajah. Namun, pupur tak hanya mereka oleskan di wajah. Bagian-bagian tubuh lain seperti tangan dan leher juga.

Umumnya, bedak pupur yang terbuat dari campuran beras putih dan kunyit atau daun mangkok ini memang dipakai perempuan suku Bajo. Namun, kaum pria juga tidak dibatasi untuk menggunakannya. Sejak bayi sampai tua, bedak pupur menjelma menjadi skin care bagi masyarakat yang memang dekat dengan lautan itu.

bedak-pupur
Bahan-bahan bedak pupur sedang ditumbuk sampai halus/Widhi Bek

Belajar meramu tabir surya ala suku Bajo

“Mula-mula beras putih dibersihkan lalu ditumbuk,” ujar salah seorang mamak yang mengajarkan saya bikin bedak pupur. “Bisa ditambah kunyit atau daun mangkok.”

Kemudian saya diberi tahu bedanya pupur putih dan kuning. Bedak pupur putih terbuat dari beras—bisa ditambah dengan daun mangkok bisa pula tidak—dikhususkan untuk aktivitas di luar rumah. Sementara pupur kuning yang dicampur kunyit diperuntukkan bagi penggunaan dalam rumah.

bedak pupur
Serumpun daun mangkok/Widhi Bek

Ternyata, menumbuk dan meramu bahan bedak pupur bukanlah hal mudah, setidaknya bagi saya. Saya jelas kalah dari para mamak yang sudah terbiasa bekerja dengan penumbuk panjang dan berat itu. Mereka mungkin bisa santai saja berjam-jam menumbuk. Pengalaman dan kebiasaan tentu tak bisa bohong. Saya, belum beberapa menit saja sudah capai dan merasa berada di ambang kegagalan.

bedak pupur
Dua orang mamak sedang menumbuk pupur/Widhi Bek

Setelah bahan-bahan halus saya tumbuk—tentu dengan bantuan para mamak—bedak pupur ternyata tak bisa langsung begitu saja saya gunakan. Ia mesti dibentuk menjadi bulatan-bulatan terus dijemur. Kering, baru bedak pupur itu bisa dipakai. Tentu saja setelah diberi air.

Namun, berhubung perjalanan ini singkat saja, saya tak bisa menunggu lama sampai tabir surya alami itu kering. Saya ambil saja beberapa cuil dari lumpang, campur air, lalu saya oleskan ke wajah. Rasanya? Ada sensasi dingin seperti pakai masker, tak jauh beda rasanya dari pengalaman memakai masker wajah kekinian. Warnanya juga tak jauh beda dari masker kemasan industrial produksi pabrik. Wajar saja; bahan-bahan dasarnya juga sebenarnya sama dengan yang “dijual” produsen masker modern.

Belakangan saya tahu bahwa ternyata bedak pupur dipercaya punya khasiat mengurangi jerawat dan biang keringat. Pantas saja wajah orang-orang Bajo mulus-mulus sekali, padahal terik matahari setiap hari mereka hadapi—apalagi kalau sedang mengarungi lautan dengan perahu.

bedak pupur
Mencoba pupur racikan sendiri/Agung Hari Wijaya

Sebelum pulang, saya beli beberapa butir bedak pupur sebagai oleh-oleh sekaligus cadangan tabir surya untuk di rumah. Harganya? Amboi! Cuma Rp5.000 per bungkus!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *