ItineraryNusantarasa

Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

Karena sejak lahir hingga mati, babi sudah jadi budaya di tanah Batak.”

Beberapa hari lalu saat ada acara keluarga, saya mengunggah makanan yang ada di atas meja makan ke media sosial. Tentu saja ada lomok-lomok lengkap yang menjadi sajian wajib saat acara patio mata ni mual—acara yang dilakukan anak laki-laki pertama untuk minta izin kepada tulang, saudara laki-laki dari pihak Ibu, saat ingin menikah—diadakan.

Beragam komentar dari teman-teman hingga kolega pun menghampiri. Bagi mereka yang awam dengan acara tersebut, merasa kaget hingga tak percaya ternyata babi sangat disakralkan dalam adat masyarakat Batak.

Bagaimana tidak? Dari kelahiran, acara pernikahan, hingga upacara kematian, hewan bermoncong khas ini wajib ada keberadaannya, dan tentu saja memiliki arti tersendiri dari siapa yang memberi dan menerimanya. Hal-hal memberi dan menerima memang terlihat sederhana, tetapi tidak bagi mereka yang berdarah Batak, terlebih jika memberi makanan dari olahan babi.

Lantas, kira-kira ada apa ya dengan babi dalam budaya masyarakat Batak? Berikut ini merupakan ulasan singkat dari boru—perempuan—Batak asli yang bisa teman-teman TelusuRI sedikit pahami mengapa babi menjadi sangat identik dengan budaya Batak.

Daging babi
Daging babi yang diperjualbelikan/Ruth Stephanie

Mungkin saja setelah membaca tulisan satu ini, teman-teman sudah mengerti arti kode dari B2 hingga B1 jika ingin sesekali berkunjung ke lapo—restoran khas Batak, serta apa itu saksang dan BPK yang terkenal lezat dan gurih.

Ada Apa dengan Babi?

Perlu diketahui bahwa di Indonesia tidak hanya suku Batak yang mengonsumsi daging babi. Ada suku Toraja, Dayak, Manado, Papua, hingga Bali. Selain itu, daging babi juga sebenarnya telah diternak dan tentu saja dikonsumsi oleh bangsa Eropa dan Asia lebih dari ribuan tahun lalu. Kemudian, menjadi konsumsi umum di Nusantara sebelum masuknya ajaran Islam dari Timur Tengah.

Maka, jangan heran jika kawan ingin berkunjung ke rumah bolon—rumah panggung khas Batak—kemudian melihat kolong yang lapang dari rumah tersebut menjadi kandang babi. Karena pada dasarnya memang dari zaman dahulu suku Batak telah mengenal beternak babi. Terlebih babi adalah termasuk hewan yang perkembangbiakannya cepat dan sangat mudah untuk dirawat.

Sekadar informasi juga, bahwa hewan satu ini memiliki sifat prolifik, yakni bisa memiliki banyak anak dalam satu kelahiran. Dalam satu kali kelahiran, induk babi dapat melahirkan 8-14 ekor anak babi. Dalam satu tahun, induk babi bisa mengalami dua kali kelahiran. Jadi, di sini kawan bisa bayangkan bagaimana keuntungan memelihara babi di rumah bolon bagi orang Batak. Selain bisa menjadi cadangan makanan, pun juga bisa menjadi mata pencaharian yang menghasilkan uang.

Dalam bahasa Batak, babi biasa disebut dengan pinahan. Sementara untuk babi yang berumur di bawah tiga bulan biasa disebut dengan lomok-lomok.

Kemudian menurut beberapa ahli budaya Batak juga menjelaskan bahwa sebenarnya dalam kehidupan suku Batak terdapat empat hewan peliharaan yang sangat istimewa yang biasa digunakan dalam pesta-pesta adat. Keempat hewan tersebut adalah babi, lombu (lembu atau sapi), hoda (kuda), dan horbo (kerbau).

  • Lomok-lomok
  • Sop babi
  • patio mata ni mual

Dari sini, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pada faktanya daging babi dapat dipandang sebagai level terendah daging yang bisa dikonsumsi dalam pesta-pesta adat Batak. Babi juga lebih ditonjolkan kepada daging termurah, yang dapat dibeli oleh berbagai lapisan masyarakat. 

Tetapi perlu dicatat juga, walau babi tidak mendapatkan perlakuan khusus pemeliharaan seperti halnya hewan kerbau dan kuda, namun hewan bermoncong ini tetaplah menjadi sebuah komponen adat. Salah satu alasan juga mengapa daging babi menjadi semacam makanan wajib pada pesta atau upacara adat Batak adalah untuk menyatukan komponen yang berbeda dalam satu ruangan yang sama.

Hak Pemberian dan Penerimaan atas Daging

Jika kawan sudah menonton film garapan sutradara Bene Dion Rajagukguk, Ngeri-Ngeri Sedap, pasti sangat hafal dengan adegan si bontot, Sahat, terheran-heran melihat seorang Ibu yang menyimpan daging berkali-kali di tasnya. Sontak adegan tersebut membuat penonton tertawa, terlebih untuk mereka yang bersuku Batak.

Adegan tersebut memang benar kerap dilakukan oleh para Ibu Batak saat pesta besar diadakan. Biasa disebut marpalas—membawa pulang makanan pesta dengan plastik. Tetapi, selain marpalas dalam adat Batak juga ada simbol khas yang biasa dikenal dengan jambar.

Budaya Batak menyebutkan ada tiga jenis jambar, yakni jambar juhut atau hak untuk mendapatkan mendapat bagian atas hewan sembelihan, jambar hata atau hak untuk berbicara, dan jambar ulaon atau hak mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan.

Oleh karena itu, jika melihat dalam pertemuan-pertemuan adat Batak bukan hanya hasil pembagian hewan itu saja saja yang penting, tetapi juga proses pembagiannya. Proses pembagian jambar ini juga harus dilakukan dengan terbuka atau transparan serta melalui perundingan kesepakatan dari semua yang hadir, dan tentu saja tidak boleh dimonopoli oleh tuan rumah atau para tokoh.

Jika pesta sudah selesai, dan terlebih sudah mendapatkan jambar untuk di rumah, maka biasanya esoknya akan diolah menjadi masakan-masakan khas Batak. Sebut saja bisa diolah menjadi saksang—olahan daging babi khas Batak yang bisa juga dilumuri dengan darah babi, sup B2—B2 adalah kode untuk daging babi, dan B1 adalah untuk daging anjing—, hingga yang paling lezat adalah BPK—Babi Panggang Karo yang biasa dilengkapi dengan sambal andaliman.

Lapo
Makanan khas Batak yang tersedia di lapo

Percayalah, ketiga menu di atas tentu tersedia lengkap di lapo-lapo yang biasanya sudah tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

Pada intinya, tiap suku di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing dalam menjalankan budayanya. Babi bukan hanya sekedar hewan. Babi adalah penanda identitas yang memiliki arti penting di kehidupan orang Batak. Kelahiran, pernikahan, memiliki anak, memiliki rumah, hingga kematian, babi bukan hanya sekadar hiasan di sana.

Selain itu, saya juga sangat meyakini bahwa budaya dari tiap-tiap suku bukan hanya dijalankan saja, melainkan ada makna mendalam dalam prosesnya. Proses menjalani kehidupan yang sejatinya sudah tersimbolkan dalam ritual budaya, yang kini lambat laun seakan ditinggalkan karena modernisasi semata.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!

Perempuan berdarah Batak yang lahir di Jakarta, besar di Tangerang, dan kemudian menetap di Jakarta Selatan. Penggila film, kuliner, dan tentu saja traveling!
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Sepenggal Cerita dari Kerkhof Wonosari, Klaten

    Desa WisataItinerary

    Geliat Ekowisata Desa Santuun

    ItineraryNusantarasa

    Gudeg Yu Yah, Kuliner Malam Favorit Mahasiswa Jogja

    ItineraryNusantarasa

    Mencicipi Sega Pager, Menu Sarapan Khas Godong

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...