Itinerary

7 Tips supaya Naik Gunung Ramai-ramai Jadi Asyik

Memang ada orang yang lebih suka naik gunung sendirian alias solo. Tapi lebih banyak yang gemar naik gunung ramai-ramai. Alasannya beda-beda. Tapi kayaknya alasan terbesarnya adalah soal keamanan. Kalau naik gunung berombongan, bakal ada teman-teman yang akan bantu kalau terjadi apa-apa sama kamu.

Kenyataannya nggak selamanya juga naik gunung berombongan bisa asyik. Tapi jangan khawatir. Ini TelusuRI kasih 7 tips supaya naik gunung ramai-ramai bisa asyik.

1. Naik gunung sama temen-temen sendiri

naik gunung ramai-ramai

Istirahat sambil bergurau/Fuji Adriza

Memang sekarang udah banyak banget komunitas pendaki gunung. Tinggal pantau di media sosial, kamu bakal bisa join open trip pendakian ke berbagai penjuru Indonesia.

Tapi, seseru-serunya naik gunung bareng komunitas lepas, lebih seru lagi naik gunung ramai-ramai bareng temen-temen sendiri. Tentunya mereka lebih mengenal kamu ketimbang orang-orang yang baru pertama kali kamu temui. Selain itu kamu nggak perlu basa-basi busuk dulu sebelum nanjak—menguras energi. Simpan saja energimu buat naik gunung!

2. Persiapkan fisik dan mental

naik gunung ramai-ramai

Hutan Gunung Ciremai/Fuji Adriza

Mau naik gunung sendirian atau naik gunung ramai-ramai, fisik dan mental wajib kamu persiapkan. Kamu nggak perlu punya otot kayak Agung Hercules atau otak kayak Professor X supaya bisa naik gunung; minimal kamu kenal kondisi fisik dan mentalmu sendiri supaya bisa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Pas naik gunung, kamu jauh dari peradaban. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, nanti yang repot adalah teman-temanmu sendiri atau komunitas pengelola base camp yang bakal nge-SAR kamu.

3. Persiapkan logistik pribadi

naik gunung ramai-ramai

Linggarjati/Fuji Adriza

Selain logistik kelompok, kamu juga mesti mempersiapkan logistik pribadi, misalnya obat-obatan, pakaian penghangat ekstra, atau air minum ekstra. Taruh ini dalam ranselmu. Jangan titipkan ke orang lain!

Memang benar kalian naik gunung bareng-bareng. Tapi kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di atas. Kamu nggak bisa serta merta mempersalahkan teman-temanmu yang lebih kuat yang jalan duluan, terus bilang mereka tega ninggalin kamu. Lha? Siapa yang egois di sini? Mereka yang sudah mempersiapkan semuanya (sehingga bisa naik-turun dengan santai) atau kamu yang enggan mempersiapkan semuanya dan cuma mengharapkan bantuan mereka?

4. Usahakan buat nggak merepotkan orang lain

naik gunung ramai-ramai

Puncak Sindoro/Fuji Adriza

Hal ini cuma bisa kamu lakukan kalau kamu sudah mempersiapkan semuanya sebelum naik gunung. Kalau enggak, besar kemungkinan kamu bakal ngerepotin orang lain.

Nggak serius mempersiapkan fisik, teman-temanmu mungkin bakal dua kali lebih capek karena harus membawakan ransel gunungmu misalnya. Mental nggak siap, ada kemungkinan suasana bakal nggak enak. Inget: kamu naik gunung ramai-ramai, bukan sendirian.

5. Kalau naik gunung ramai-ramai, bagi rombongan menjadi beberapa grup kecil

naik gunung ramai-ramai

Makan malam di Pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho/Fuji Adriza

Kalau ngadain pendakian massal, biasanya kelompok-kelompok pencinta alam membagi rombongan menjadi beberapa grup kecil. Satu grup terdiri dari 5-7 orang.

Membagi rombongan ke dalam beberapa grup bakal mempermudah pergerakan ketimbang jalan full team. Nah, biasanya yang dijadiin pertimbangan buat membagi adalah formulir pendakian yang diisi calon peserta sebelum keberangkatan. Yang bakal dilihat umumnya dua, yakni pengalaman naik gunung dan riwayat penyakit.

6. Dalam satu grup ada satu “leader” dan satu “sweeper”

naik gunung ramai-ramai

Hargo Dumilah/Fuji Adriza

Nah, dalam satu grup ada seorang leader di depan dan seorang sweeper di belakang. Ini adalah prosedur standar dalam manajemen perjalanan kelompok-kelompok pencinta alam.

Leader alias pemimpin bakal memimpin pergerakan, sementara sweeper alias tukang sapu di belakang adalah orang yang memantau pergerakan dan memastikan nggak ada anggota rombongan yang ditinggalkan. Biasanya sweeper adalah orang yang paling kuat.

7. Komunikasi harus tetap dijaga

naik gunung ramai-ramai

Puncak Gunung Ciremai/Fuji Adriza

Ini yang paling penting sebenarnya. Karena kalian naik gunung ramai-ramai, tentu komunikasi harus tetap dijaga. Utarakan semua yang perlu diutarakan supaya mengerti satu sama lain.

Kalau kamu punya masalah di dengkul, jangan ragu-ragu buat bilang ke leader supaya dia bisa memperlambat laju perjalanan. Jangan gengsi atau sok kuat. Kalau kamu nggak kuat lari-lari pas turun gunung, bilang aja supaya rombongan bisa turun pelan-pelan (jangan ikutan “nyeleng”). Nah, kalau komunikasi jalan ‘kan pasti nggak ada yang bakal ditinggalkan.

Jadi kapan tips-tips naik gunung ramai-ramai ini mau kamu praktekin?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryPerjalanan Lestari

Q&A: Extinction Rebellion Indonesia tentang Ancaman Krisis Iklim

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

Itinerary

Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

Itinerary

Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.