Itinerary

5 Film yang Berpengaruh buat Perkembangan Pariwisata Indonesia

Ada satu penelitian menarik dalam jurnal TOURISMOS keluaran University of the Aegean, Yunani. Judulnya adalah Movies as a Tool of Modern Tourist Marketing (2011). Dalam abstrak, para penulisnya menulis bahwa “… film-film mengandung sebuah alat pemasaran penting yang dapat berperan secara efektif dalam strategi promosi destinasi-destinasi pariwisata” (Vagionis dan Loumioti, 2011).

Di Indonesia, itu sudah terbukti. Ada sederetan film yang berdampak besar buat perkembangan pariwisata sebuah daerah. Inilah 5 di antaranya:

1. Gie (2005)

Cerita dalam film Gie sebagian besar diambil dari buku catatan harian Gie yang terbit dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Dengan indah, Mira Lesmana dan Riri Riza mengadaptasikan buku itu ke dalam sebuah film yang elok dan menginspirasi. Sosok Gie yang sebelumnya hanya ada dalam kepala para aktivis pun jadi semakin dikenal.

Gie ternyata nggak hanya seorang aktivis, namun juga pencinta alam. Maka nggak heran kalau dalam film itu ada adegan ketika Gie naik gunung favoritnya, Pangrango, bersama kawan-kawannya. Setelah film itu keluar, Pangrango jadi semakin populer, begitu juga aktivitas pendakian gunung.

2. Laskar Pelangi (2008)

Film ini diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata. Dalam Laskar Pelangi, tokoh utama yang bernama Ikal bernostalgia tentang kehidupannya semasa kecil di ujung Pulau Belitung. Laskar Pelangi adalah sebuah humor satiris tentang perjuangan beberapa orang anak kecil untuk sekolah dan mengubah nasib keluarga.

Sebagaimana bukunya, film Laskar Pelangi juga laris. Sampai sekarang ini adalah salah satu film box office Indonesia yang ditonton oleh sekitar 4,7 juta penonton. Diluncurkannya film ini jadi salah satu tonggak buat perkembangan pariwisata Belitung. Alhasil, Belitung yang sebelumnya nggak dilirik sekarang jadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia.

3. 5 cm (2012)

Sama seperti Laskar Pelangi, film 5 cm juga berasal dari sebuah novel laris. Dalam novel itu Donny Dhirgantoro menceritakan soal sekelompok sahabat yang mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur. Selain membumbuinya dengan kisah cinta, Donny juga menyentil rasa nasionalisme para pembacanya.

Nggak heran kalau akhirnya, tujuh tahun setelah novel itu diluncurkan, 5 cm diadaptasi ke layar lebar. Film itu laris manis dan dianggap bertanggung jawab atas melonjaknya jumlah pendaki. Terlepas dari segala omongan tentang film ini, 5 cm faktanya memang sudah mengubah lanskap kegiatan kepencintaalaman—dan Gunung Semeru.

4. AADC 2 (2016)

Entah sudah berapa purnama berlalu sebelum akhirnya Rangga pulang kampung ke Indonesia dan bertemu lagi dengan Cinta—dan geng. Berbeda dari AADC yang pertama yang lokasinya di Jakarta, AADC 2 mengambil latar di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Rangga dan Cinta jalan-jalan ke banyak atraksi wisata di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, dari mulai Klinik Kopi sampai Gereja Ayam. Bisa ditebak bahwa segera setelah film itu dirilis banyak yang menawarkan paket wisata AADC 2. Beberapa atraksi wisata yang ditampilkan dalam film itu pun jadi makin ramai dikunjungi.

5. Filosofi Kopi 2 (2017)

Ternyata terlalu mendalami karakter dalam sebuah film bisa ngasih pengaruh yang nggak sedikit buat seorang pemain film. Setelah Filosofi Kopi 2 tayang di layar lebar, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, dua pemeran utama dalam film itu, benar-benar buka usaha kopi. Mereka buka kafe di pelosok Ngaglik, Sleman.

Sekarang Filosofi Kopi jadi salah satu kedai kopi yang paling dicari oleh wisatawan yang datang ke Jogja. Permukiman sepi di Ngaglik, Sleman, tempat Filosofi Kopi berada pun sekarang menjadi ramai oleh para penikmati kopi dan wisatawan.

Nah, menurut kamu di antara kelima film di atas mana yang paling punya pengaruh buat perkembangan pariwisata?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Temui Irene Komala, si “Pink” yang Suka Jalan-Jalan

Itinerary

Cerita di Balik Desa Wisata Sumberbulu, Karanganyar

Itinerary

Nuansa Khas Pedesaan Surabaya di Kayoene

Itinerary

Barn Event Hire, Kafe dengan Konsep Taman Terbuka di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *