Itinerary

Inilah 4 Hal yang Biasanya Menghalangi seorang Pendaki buat Muncak

Banyak pendaki yang rela bangun pagi-pagi buat buat muncak. Dari kamp terakhir, mereka bakal melalui jalur terjal selama beberapa jam sampai nggak ada lagi tanah lebih tinggi yang bisa diinjak. Di puncak, mereka bakal duduk santai menikmati pemandangan—matahari terbit, samudra awan, gemunung.

Tapi ada juga sebagian pendaki yang nggak tertarik buat muncak. Mereka lebih milih bertahan di kamp karena empat hal berikut:

quotes pendakian
Matahari terbit di ketinggian via unsplash.com/Tim Foster

1. Mager alias malas gerak

Mereka memilih nggak muncak karena sudah telanjur mager alias malas gerak. Memang benar, sih, bahwa nggak ada yang lebih nyaman ketimbang berada dalam tenda dan dibalut sleeping bag di pagi buta saat udara lagi dingin-dinginnya. Apalagi sambil tidur telentang dengan punggung bersandar secara horizontal.

Pendaki suka mager pagi-pagi ini biasanya orang yang santai. Bagi mereka puncak bukan segalanya. Pengalaman—termasuk kenyamanan tenda—adalah cerita buat mereka. Lagipula, lain kali ‘kan mereka bisa main ke gunung itu lagi.

quotes pendakian
Duduk santai di puncak via unsplash.com/Joseph Barrientos

2. Memang nggak ada ambisi buat muncak

Ada pula yang memilih untuk bertahan di kamp karena memang nggak ada ambisi buat menapakkan kaki di puncak. Mereka adalah orang-orang yang bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Buat apa muncak toh akhirnya akan turun juga? Apa sih istimewanya puncak?

Tipe ini sudah benar-benar menghayati filosofi “It’s not the destination. It’s the journey.” Bagi dia tujuan—yang dalam hal ini adalah puncak gunung—bukanlah inti dari perjalanan; yang terpenting adalah (proses) perjalanan itu sendiri.

quotes pendakian
Menjelang puncak via unsplash.com/Mathias Jensen

3. Kehilangan semangat

Alasan lain yang menghalangi seorang pendaki buat muncak adalah karena ia kehilangan semangat atau motivasi. Mungkin dia sudah terlalu capek, baik secara fisik maupun psikis, sehingga nggak ada selera lagi buat menginjakkan kaki di titik tertinggi gunung itu.

Kalau semangat seorang pendaki sudah hilang, sebesar apa pun dukungan yang diberikan oleh kawan-kawan sependakiannya agar ia bisa tiba di puncak, itu semua nggak akan berpengaruh banyak.

pendakian gunung lawu via cemoro sewu
Pagi hari di Sendang Drajat/Fuji Adriza

4. Takut gelap

Bisa jadi pendaki malas buat muncak karena ia takut gelap. (Mungkin belum dengar lagu Tasya ft. Duta dan Eross Sheila on 7.) Soalnya, biasanya muncak itu ‘kan dimulai pagi-pagi buta saat matahari masih belum keluar dari peraduannya. Kalau nggak terpaksa banget, nggak banyak yang mulai muncak dari kamp terakhir itu pas siang hari.

Jadi, daripada parno sendiri di jalur pendakian yang gelap, lebih baik bertahan di kamp saja. Nggak ngerepotin diri sendiri, nggak ngerepotin orang lain—semua bergembira.

Nah, kalau kamu sendiri gimana, Sob? Tipe pendaki yang suka muncak atau yang lebih senang melewatkan pagi di tenda?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (1)

ItineraryNusantarasaPilihan Editor

Nasi Jangkrik, Kuliner Warisan Sunan Kudus

ItineraryPerjalanan Lestari

Ngeteh Sore di Artani, Toko Curah Ramah Lingkungan Pertama di Makassar

Itinerary

Gunung Bantur dalam Bingkai Kintamani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.