TRAVELOG

Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)

Wisata sejarah selalu terbayang di benak saya saat berada di suatu kota. Maka, ketika Kamis (11/12/2025) saya pergi ke Surabaya karena sebuah projek, saya manfaatkan waktu mengunjungi makam Sunan Ampel. 

Saya memulai perjalanan naik kereta api dini hari dari Stasiun Ngrombo (Grobogan) menuju Stasiun Gubeng. Sekitar pukul lima pagi, saya tiba di Stasiun Gubeng. Begitu turun, saya bergegas menuju Masjid Al-Ittihad yang lokasinya dekat stasiun untuk salat Subuh.

Usai salat, saya rehat sejenak. Janji temu saya dengan seseorang di sebuah kantor di kota masih pukul 10.00. Jadi, saya masih punya waktu agak longgar. Saya putuskan untuk berziarah sekaligus tapak tilas dulu ke makam Sunan Ampel.

Saya memesan Grabcar dengan tarif hanya Rp17.000, karena lokasi objek wisata religi yang buka 24 jam itu relatif dekat dari Stasiun Gubeng. Baru sebentar mengobrol dengan sopir, sekonyong mobil yang saya tumpangi sudah tiba di depan gapura masuk ke masjid agung dan makam Sunan Ampel, yang terletak di Desa Ampel, Kecamatan Semampir.

Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)
Gapura masuk menuju masjid dan makam Sunan Ampel/Badiatul Muchlisin Asti

Walisongo Angkatan Kedua

Sejumlah sumber menyebut Sunan Ampel termasuk anggota dewan dakwah Walisongo angkatan kedua. Menurut Abdullah (2019), ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M, tidak lama kemudian datanglah Raden Ahmad Ali Rahmatullah dari Champa. 

Setidaknya, ada dua versi mengenai lokasi Champa, tempat asal Sunan Ampel. Hamka (2022) berpendapat Champa merupakan daerah yang berada di Aceh, yaitu Jeumpa. Sementara hasil penelitian Sjamsuddhuha, berdasarkan peta tua Gerhard Mercator yang dibuat pada abad ke-16 (1512–1594) menyimpulkan Champa terletak di Vietnam sekarang, dekat dengan Khmer (Kamboja).

Raden Ahmad Ali Rahmatullah—selanjutnya disebut Raden Rahmat (Sunan Ampel)—tiba di Jawa tahun 1421 M untuk kemudian menggantikan Syekh Maulana Malik Ibrahim, lalu diangkat sebagai ketua Walisongo. Anggota dewan Walisongo angkatan kedua secara lengkap adalah Sunan Ampel, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad Al-Maghribi, Maulana Malik Isra’il, Maulana Ali Akbar, Maulana Hassanuddin, Maulana Aliyuddin, dan Syekh Subakir.

Sunyoto (2012) menyebutkan, Sunan Ampel adalah putra Syekh Ibrahim As-Samarqandi, tokoh Walisongo tertua yang berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Melalui Pesantren Ampeldenta, Sunan Ampel mendidik kader-kader penggerak dakwah Islam, seperti Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Melalui pernikahan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga Muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah.

Sunan Ampel sendiri menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban, yang juga cucu Arya Lembu Sura, Raja Surabaya yang beragama Islam. Jejak dakwah Sunan Ampel tidak hanya di Surabaya dan ibu kota Majapahit, tetapi juga meluas ke daerah Sukadana di Kalimantan.

Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)
Suasana gang menuju ke masjid dan makam Sunan Ampel yang dipadati kios-kios pedagang/Badiatul Muchlisin Asti

Bebas Pengamen dan Pengemis

Untuk menuju makam Sunan Ampel, saya harus masuk melalui gapura, lalu berjalan menyusuri gang yang di samping kanan-kiri dipenuhi toko dan lapak pedagang, sebagaimana biasa dijumpai di objek wisata ziarah Walisongo lainnya. Menariknya, terdapat sejumlah spanduk bertuliskan “Ampel Masjid, Kampung Bebas Pengamen & Pengemis”. Hanya saja, di bawahnya tertulis “Awas Copet”. Peziarah diimbau berhati-hati dengan para pencopet.

Memang, sepanjang gang, saya nyaris tidak menemui pengemis—hanya ada satu-dua yang saya jumpai. Tentu, minimnya keberadaan pengemis ini patut diapresiasi, karena membuat peziarah yang datang relatif lebih nyaman. Banyaknya pengemis, apalagi yang meminta-minta setengah memaksa, acap membuat peziarah risih.

Setelah menyusuri gang, tampaklah sekitar 100 meter di hadapan saya Masjid Agung Sunan Ampel dengan menaranya yang eksotis. Saya pun reflek memotretnya. Dari arah berlawanan, rombongan peziarah berjalan keluar seusai berziarah.

Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)
Informasi bebas pengamen dan pengemis serta imbauan waspada tukang copet/Badiatul Muchlisin Asti

Sejarah Masjid Agung Sunan Ampel

Saya tidak masuk ke masjid karena keterbatasan waktu. Namun, dari informasi yang saya dapatkan, Masjid Agung Sunan Ampel sudah beberapa kali mengalami renovasi dan perluasan, sehingga karakter aslinya boleh jadi tidak lagi seperti masjid yang dibangun Sunan Ampel dulu. 

Bangunan masjid tampak megah dilengkapi menara setinggi 30 meter. Dulu tingginya 35 meter, tetapi dikurangi setelah gempa yang pernah mengguncang Surabaya. Rancangan arsitektur tradisionalnya masih terlihat dari atapnya yang tumpang tiga, ditopang 16 tiang dari kayu jati utuh setinggi 17 meter.

Masjid ini memang didirikan Sunan Ampel. Saat pertama kali merintis dakwah Islam, Sunan Ampel membangun sebuah tempat ibadah yang awalnya berupa langgar. Setelah Raden Rahmat tiba di Jawa, beliau bertemu dengan Raja Majapahit dan istrinya, Putri Campa yang juga bibinya (Halim dkk, 2021).

Raden Rahmat dibujuk agar mau menetap di Jawa. Beliau mau asalkan ditempatkan di lokasi yang disukainya yaitu parak2 lawan pasisir” atau di sekitar pesisir. Tempat itu adalah sebuah “bekas dukuh orang lamanya”, yaitu Dukuh Ampel Gading, perkampungan pesisir yang sudah ditinggalkan oleh penduduknya sejak lama. Nama “Ampel Gading” pernah disebut tiga kali dalam naskah Kidung Sunda, yang mengisahkan peristiwa Perang Bubat antara Kerajaan Sunda dan Majapahit pada era Raja Hayam Wuruk.

Tempat itu kemudian dibabat dan dibuat menjadi permukiman baru. Di tengah proses pembersihan, Raden Rahmat menemukan sebuah kayu gading atau denta, yang kemudian dijadikan tongkat. Karena itulah, tempat tersebut dinamakan Ampel Gading atau Ampel Denta. 

Pemukim awal di wilayah itu hanya Raden Rahmat bersama sekitar 4–5 orang lainnya. Mereka membangun beberapa rumah dan langgar—sebagaimana penuturan naskah Hikayat Banjar dari abad ke-18. Bangunan langgar tidak disebut masjid karena belum digunakan salat Jumat.

Lama-kelamaan, Ampel Denta ramai oleh orang-orang yang masuk Islam, hingga diketahui Raja Majapahit. Sang Raja ternyata memberi kebebasan beragama bagi penduduk Majapahit, juga mengizinkan Sunan Ampel untuk mengislamkan warganya.

Ketika Ampel Denta makin ramai, mulailah didirikan salat Jumat di sana. Langgar pun diperluas menjadi masjid. Dalam naskah Babad Gresik, disebutkan bahwa Masjid Ampel dibangun pada tahun Saka 1368 atau 1446 M.

Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)
Para peziarah berjalan keluar dari arah Masjid Agung Sunan Ampel/Badiatul Muchlisin Asti

Strategi Dakwah Sunan Ampel

Sebagai seorang pendakwah, Sunan Ampel dikenal memiliki strategi dakwah yang ampuh. Beliau melakukan upaya akulturasi dan asimilasi dari aspek budaya pra-Islam dengan Islam, baik melalui jalan sosial, budaya, politik, ekonomi, mistik, kultus, ritual, tradisi keagamaan, maupun konsep-konsep sufisme yang khas, yang merefleksikan keberagaman tradisi Muslim secara keseluruhan.

Salah satu strateginya adalah angajawi, yakni hidup dengan cara Jawa sebagaimana hidup orang Jawa yang menjadi objek dakwahnya. Angajawi bagi Sunan Ampel, juga bagi wali lainnya, tidak sekadar klaim atau lip service, tapi benar-benar dibuktikan dengan mengaplikasikan karakter wong Jawi ketika menyebarkan dan mendakwahkan Islam. Oleh karena itu, dalam khazanah dakwah Sunan Ampel, kita akan mendapati istilah-istilah yang diperkenalkan oleh Sunan Ampel yang sangat Jawa, tetapi kini melekat dengan umat Islam di Indonesia. Istilah sembahyang menggantikan kata shalat dan langgar menggantikan mushalla.

Halim dkk (2021) menjelaskan, istilah-istilah tersebut diadaptasi Sunan Ampel sebagai strategi dakwah Sunan Ampel. Disebutkan, penganut Kapitayan merupakan umat mayoritas ketika Sunan Ampel memulai dakwahnya. Mereka memiliki tradisi ritual menyembah Sanghyang Taya, sesembahan tertinggi mereka, Ritual itu mereka namakan sembahyang yang berarti “menyembah Sang Hyang Taya”, dilakukan di sebuah bangunan yang dianggap sakral bernama sanggar.

Konsep sanggar mirip dengan masjid atau musala dalam Islam. Keidentikan itulah yang kemudian dimanfaatkan Sunan Ampel dan pendakwah lainnya pada abad ke–14 dan 15 sebagai sarana menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Istilah sembahyang digunakan untuk mengganti kata salat. Istilah sanggar disadur untuk menggantikan masjid atau musala, yang secara harfiah berarti tempat untuk salat. Huruf awal dalam istilah sanggar diganti dari “S” menjadi “L”, sehingga menjadi langgar. “La” dalam kata langgar diambil dari suku kata terakhir dari mushalla. Melalui terminologi inilah Sunan Ampel dan para wali memasukkan unsur-unsur Islam pada kebudayaan lama. Usaha dakwah memanfaatkan ajaran Kapitayan mempermudah agama Islam diterima penduduk pada masa itu.

Selain itu, Sunan Ampel juga disebut-sebut sebagai wali yang memperkenalkan istilah halalbihalal. Narasi ini didukung dua naskah, yaitu naskah primer Babad Cerbon, yang menceritakan tradisi murid dan menantu Sunan Ampel; dan Sajarah Jawa, yang menyebut tradisi dari murid Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati. 

(Bersambung)


Referensi:

Abdullah, R. (2019). Walisongo: Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482). Sukoharjo: Al Wafi Publishing.
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dan CeRMIN Kudus. (2006). Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Halim, A., dkk. (2021). Mazhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel. Depok: Pustaka IIman.
Hamka. (2022). Sejarah Umat Islam: Pra-kenabian hingga Islam di Nusantara. Depok: Gema Insani.
Sunyoto, A. (2012). Atlas Wali Songo. Depok: Pustaka IIman.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Berziarah ke Makam K.H. Sholeh Darat, Mahaguru Ulama Nusantara