Travelog

Yang Tertinggal di Makam Kerkhof Jalan Hang Tuah, Tegal

Perjalanan kali ini saya menelusuri makam Belanda yang tersisa di Jalan Hang Tuah, Tegalsari, Tegal Barat, Kota Tegal. Masyarakat sekitar, biasa menyebutnya Makam Kerkhof Hang Tuah.

Kerkhof Hang Tuah tidak hanya terdapat makam masyarakat Belanda, di sini juga ada makam Kristen, Jawa, dan Tionghoa. Semua makam berbeda, menyesuaikan dengan agama dan kepercayaan yang dianut.

Setibanya saya dan rekan di Kerkhof Hang Tuah, mata saya langsung tertuju di satu area pojok utara di dekat gudang. Saya pun langsung mengarah ke sana. Ada sekitar 15 nisan makam Belanda di hadapan saya. Saya lantas menelisik berapa jumlah nisan yang masih utuh, dan segera mendokumentasikan. Di tengah proses pendokumentasian, mata saya terfokus pada tiga nisan makam Belanda yang terlihat mencolok daripada yang lain.

“Ini siapa sih?” Pikir saya.

“Orang yang dimakamkan di tiga makam berbeda ini seorang perempuan. Makam yang paling besar ternyata suami-istri pejabat,” ucapan pertama yang terlontar ketika menyibak tiga nisan tersebut. 

Dokumentasi nisan tadi saya kirim ke Hans Boers, rekan saya di Belanda yang membantu memecahkan teka-teki nisan di Kerkof Hang Tuah Tegal. Lalu kami menemukan siapa saja mereka, dan bagaimana cerita semasa hidupnya.

Graaf Beekveld, Titik Awal Penyusuran Kerkhof Hang Tuah, Tegal

Nisan terbengkalai di sisi kiri nisan Anna Beekveld//Ibnu Rustamadji

Tujuan awal saya menelusuri Kerkhof Hang Tuah adalah makam Beekveld. Makam ini cukup menarik perhatian saya. Bukan karena nisan berbahasa Belanda, tapi bentuk nisan yang biasa disebut pilar patah ini. Simbol “life and death” dalam pemakaman Belanda, artinya kehidupan yang singkat. Untuk mereka yang dikubur, mati muda atau mati dipuncak karir. Biasanya simbol ini berhias elemen dekoratif seperti karangan bunga, patung dewa-dewi, atau untaian bunga lili. Namun, nisan milik Beekveld sangat sederhana namun bermakna dalam, dan hanya berhias nisan nama mendiang.

Nisan berinskripsi seorang perempuan kelahiran Kebumen 27 September 1864, meninggal di Tegal 24 Februari 1884. Dia adalah Anna Jacoba Henriette Beekveld, anak perempuan Hubertus Johan Hendrik Beekveld dan Hendrika Alberta Lucia Schouwenberg.

Kedua orangtuanya bertunangan di Batavia tanggal 6 Juli 1863. Pertunangannya dikabarkan dalam surat kabar de Locomotief, edisi Juli 1863, “…Weduwe, Hubertus Johan Hendrik Beekveld en Hendrika Alberta Lucia Schouwenberg. Batavia, Juli 6 1863…”

Yang menarik disini adalah saya menemukannya informasi tidak hanya mengenai Anna Jacoba Henriette Beekveld, tetapi juga orangtua dan kakek neneknya. Berbekal informasi dari surat kabar de Locomotief dan Hans Boers saya mendapatkan informasi bahwa Hubertus Johan Hendrik Beekveld adalah seorang pegawai negeri kelas 2 di Hindia Belanda kelahiran Batavia.

Nisan dengan simbol pilar patah milik Anna Beekveld/Ibnu Rustamadji

Hubertus Johan Hendrik Beekveld anak dari Martinus Hubertus Beekveld dan Johanna Jacoba Willemse. Hubertus Johan H. Beekveld meninggal 1 Juni 1872 di usia 32 tahun pukul 9 pagi di Harlem Belanda. Atas jasanya, Hubertus Johan H. Beekveld naik jabatan dari kelas 2 menjadi kelas 1 di Landelijk Inkomste en Cultures.

Sedangkan Hendrika Alberta Lucia Schouwenberg kelahiran De Helder, meninggal di Harlem10 Juni 1874 pukul 2 dini hari. H. Alberta Lucia Schouwenberg anak perempuan Gijsbertus Schouwenberg dan Hendrika van Putten.

“…Hier Rust. Anna Jacoba Henriette Beekveld. Overleden Tegal op den 29-2-1884. RIP…” Artinya Anna Jacoba H. Beekveld meninggal 29 Februari 1884 usia 20 tahun, tepat 10 tahun setelah kepergian sang ibunda. 

Mereka dimakamkan di Tegal karena Martinus Hubertus Beekveld dan Johanna Jacoba Willemsen—kakek dari sang ayah—tinggal di Tegal sejak 12 Februari 1839. Tanggal 24 Mei 1894 di Tegal, Johanna Jacoba Willemsen beristirahat dalam damai usia 73 tahun.

Graaf Raland, Makam Obelisk Satu-satunya di Kerkhof Hang Tuah

Batu nisan milik Susanna Raland/Ibnu Rustamadji

Tidak jauh dari makam Beekveld, ada makam Belanda menarik lainnya. Nisannya berbentuk obelisk, yang artinya penghubung antara surga (kematian) dan bumi (kehidupan). Berdasarkan inskripsi pada nisan, mendiang adalah Antonetta Susanna Ralaand, kelahiran Deventer 8 Juni 1836. Istri dari Willem Buuran, kelahiran Apeldoorn 9 Juni 1841. Pernikahan keduanya di Deventer 24 Maret 1864. Antonetta S. Ralaand merupakan anak perempuan dari Gerhardus Antonius Raland dan Johanna Petronella Bosch. 

Sedangkan sang suami, anak dari Cornellis Johannes Buurman dan Derkje van Vreden. Ketika mereka menikah, Antonetta S. Ralaand usia 27 tahun dan Willem Buurman usia 22 tahun. Meski lebih muda, Willem Buurman memiliki jabatan sebagai seorang pegawai pemerintah di Boschwezen, ia juga mengelola hutan jati di Pekalongan dan Tegal. 

Pendidikan Willem Buurman sepenuhnya dibiayai Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, kelahiran Brussel, Belgia pada 19 Februari 1817 dan meninggal di Apeldoorn 23 November 1890. Dia merupakan salah satu warga Belgia yang berhasil meraih gelar Prins van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda.

Antonetta S. Ralaand meninggal 27 Februari 1881 di usia 44 tahun di Tegal. Pada tahun yang sama, Willem Buurman mengajukan permohonan penambahan nama Van Vreeden untuknya dan keenam anaknya ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. 

Permohonan Willem Buurman dikabulkan Juni 1892 di Batavia, tetapi hanya keempat anak terakhir yang berhak menyandang nama Van Vreeden. Dua anak pertama tidak diperbolehkan karena sudah cukup umur.

Willem Buurman Van Vreeden sendiri meninggal 28 Desember 1906 pada usia 65 di ‘s Gravenhage Zuid-Holland, Netherlands atau Den Haag. Begitu informasi yang kami temukan sejauh ini.

Graaf van Poel en Susanna Gutzlaff, Keabadian Cinta di Kerkhof Hang Tuah Tegal

Mundur 7 meter dari makam Beekveld dan Ralaand, ada dua makam Belanda besar berwarna putih dengan hiasan ring diatasnya. Arti dari ring yakni “Eternal Life”atau Keabadian”. Keabadian cinta dua mendiang dalam satu kubur, itu yang terbesit oleh saya. 

Nisan terbengkalai di depan nisan Pieter van de Poel dan Susanna Gutzlaff/Ibnu Rustamadji

Nisan berinskripsi cukup panjang, miliki suami istri pejabat Karesidenan Tegal. Mereka adalah Pieter van de Poel dan Susanna Henrietta von Gutzlaff. Pieter van de Poel kelahiran Goes 9 Mei 1786, sedangkan sang istri Susanna H.v. Gutzlaff kelahiran Batavia 23 Mei 1792. 

Keduanya meninggal berjarak 1 bulan. Pieter van de Poel tanggal 25 Mei, sang istri meninggal usia 44 tahun 17 Juni tahun 1833. Keduanya dikubur dalam satu liang kubur, jadi jangan heran kalau nisannya ada dua. 

Pieter van de Poel adalah anak dari Pieterz van de Poel dan Louise Johanna Loo, sang istri Susanna H.v. Gutzlaff anak dari George Heinrich von Gutzlaff dan Susanna Margaretha ter Herbruggen. George Henrich v. Gutzlaff kelahiran Stolp, Polandia 25 Oktober 1765, tahun 1784 beliau adalah ajudan gubernur Batavia dan tahun 1817 menjabat mayor jenderal Batavia.

“…Hier Rusten de Weled Zeer Gestr. Heer Pieter van de Poel / In Leven Ridder van de Militaire Willemsorde / Resident van Tagal / Geb. te Goes 9 Mei 1786 / Overl. 25 Mei 1833 / En Zijne Echtegenoot Vrouwe Susanna Henrietta von Gutzlaff / Geb. te Batavia 17 Mei 1792 Overl. 17 Juni 1833…”

Tanggal 22 Januari 1822 di usia 56 tahun, George Henrich v. Gutzlaff meninggal dan dikubur di perkebunan Cisarua Bogor. Apakah mereka keluarga pengusaha? Tidak diketahui lebih jauh. Pieter van de Poel sendiri seorang Rider van de Militaire Willems Orde van de 4de Klasse dan Oud-Resident Tegal.

Pieter van de Poel tiba di Hindia Belanda (Indonesia, masa itu) tanggal 28 Maret 1808. Setibanya di Pelabuhan Batavia, Pieter v/d Poel tinggal di Banyuwangi hingga tahun 1820. Setelah pernikahannya dengan Susanna H.v Gutzlaff, pindah Jawa Barat dan menjabat Resident van Bantam (Banten) tahun 1822.

Dua tahun kemudian Pieter v/d Poel pindah ke Surabaya. Hingga tahun 1824 Pieter v/d Poel dan sang istri pindah ke Tegal dan menjabat sebagai Oud-Resident. Pieter van de Poel meninggal di usia 47 tahun, sebagai pensiunan militer dan Oud-Resident Tegal. Rust in Vrede, mevrouw en meneer.  

Sejatinya masih ada dua belas nisan yang kami dokumentasikan, saat ini tengah kami upayakan untuk dapat ditemukan siapa dan bagaimana cerita yang mereka simpan. Oh iya, penelusuran kami tidak serta merta hanya mendokumentasikan saja, tetapi juga untuk membantu keluarga dari Belanda yang mencari makam leluhur atau rumah mereka ketika di Indonesia. Catatan perjalanan ini hanya salah satu kontribusi sederhana yang dapat kami lakukan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak “Sang Penangkap Petir” (2)