IntervalPilihan Editor

Pusaran Premium Labuan Bajo (2)

“Bang, kenal Pak Zainuddin nggak? Rumahnya di sekitar sini,” tanya saya pada seorang pemuda paruh baya yang sedang berdiri di depan rumahnya.

“Wah, saya kurang tahu,” jawabnya pelan sambil menggelengkan kepala. Saya memutar kepala, mencari cara biar dia tahu orang yang saya maksudkan.

“Dulu saya pernah ke sini, tiga tahun lalu. Sekarang berubah banget Pak, jadinya saya bingung.” Saya kemudian menunjukkan satu foto dari blog saya, yang mungkin bisa menerangkan kata-kata saya lebih gamblang.

“O, kalau ini saya tau. Biasanya kami memanggilnya Bapak Ayu, rumahnya di sebelah sana. Dekat motor itu,” dia menunjuk sebuah motor yang terparkir di pinggir jalan, berjarak empat rumah dari tempatnya.

Deg, jantung saya berdegup tak karuan. Memori saya mengulang masa tiga tahun silam ketika saya ingin menumpang berkemah di halamannya, yang kemudian dia mempersilahkan untuk tidur di rumahnya. “Nanti kalau ada waktu, kamu balik ke sini ya!” ucapnya kala itu sebelum kami berpisah. Hari ini, janji itu ditepati. Saya kembali ke Labuan Bajo..

Saya mengucapkan salam dari luar rumah. Hening. Tidak ada jawaban. Sejurus kemudian, seorang gadis cilik datang dari samping rumah, menatap saya penuh kehati-hatian dan keraguan.

“Pak Zainuddin ada?”

“Bapaknya lagi sakit,” ucapnya ketus.

“Kalau Ibunya ada?”

Dia menggeleng bingung, kemudian berlari ke arah belakang rumah sambil memanggil nama seseorang. Saya bingung menjelaskannya. Seorang perempuan muda kemudian muncul dan menanyakan maksud saya datang kemari.

“Baiklah, silahkan masuk.” Dia memanggil nama Pak Zainuddin dan saya mengekor di belakangnya menaiki tangga kayu. Mata saya kemudian bertatapan dengan mata Bapak Zainuddin, yang kebetulan sedang menerima dua orang tamu lain.

“Assalamualaikum Pak, saya Irsyad. Bapak masih ingat saya?”

Matanya yang tadi kebingungan dalam sekejap berubah teduh. Senyum mulai merekah dari bibirnya yang tampak seperti daun jatuh. Tanpa aba-aba, saya langsung menyalami dan memeluk erat Pak Zainuddin.

“Janji tiga tahun lalu lunas, ya.” Bapaknya hanya tersenyum, tampaknya masih tidak percaya kesempatan ini bisa datang kembali.

Saya dipersilahkan duduk dan minum. Mata saya masih menahan haru, seakan tidak percaya bisa menginjakkan kaki kembali di rumah panggung yang terbuat dari kayu, khas orang Bajo.

“Saya baru saja keluar dari rumah sakit, kemarin sore,” terangnya. Pantas saja, ketika tiba di bandara, saya sempat menelpon nomor ponsel beliau, tapi kala itu tidak ada jawaban dari seberang sana. Dan rupanya kedatangan saya ke Labuan Bajo bersamaan dengan beliau yang baru keluar dari rumah sakit.

“Sakit apa, Bapak?”

“Kalau kata dokter, itu darah tinggi.”

Pak Zainuddin, istrinya, dan Pak Wamusil
Pak Zainuddin, istrinya, dan Pak Wamusil/M. Irsyad Saputra

Beliau bercerita kepada saya bagaimana darah mengucur deras dari hidungnya ketika sedang bersujud saat salat Subuh. Dengan kedatangan saya, semangat beliau nampak pulih. Pak Zainuddin menjelaskan kepada dua orang tamu yang tampak bingung melihat saya, bahwa saya adalah salah satu orang yang pernah datang dan menginap di rumah beliau. Dua tamu itu merasa senang dengan kehadiran saya dan kami bersalaman. Pak Sanusi dan Pak Wamusil, satu berasal dari Pulau Seraya Besar dan satunya berasal dari Sumbawa Besar. 

Tidak perlu waktu lama, kami terlibat percakapan yang intens mengenai Labuan Bajo, orang Bajo yang tersebar di banyak pesisir, kisah Pak Wamusil yang melanglang buana ke berbagai pulau, kisah Pak Sanusi yang menjadi guru di Seraya Besar, hingga masalah ketuhanan dan takdir. Awan hitam yang semenjak sore sudah menggantung di langit Labuan Bajo, akhirnya tidak kuat menahan beban air yang dikandungnya. Hujan kedua selama saya berada di NTT turun dengan derasnya, mengenai atap seng yang mengeluarkan bunyi bak genderang perang. Malam itu kenangan berbaur dengan pengalaman serta suara hujan.

“Di sini kan tiket mau naik dari 300 ribu jadi 3,7 juta,” kata Pak Zainuddin. Gonjang ganjing tiket masuk kawasan TN Komodo yang naik memang menjadi perhatian semua pihak, tak terkecuali Pak Zainuddin. “Gimana itu, mahal sekali,” keluhnya sambil membenarkan sarung yang membalut kakinya.

“Kan di sini sudah dibangun segala macam fasilitas, apakah air di sini masih sulit seperti dulu?” tanya saya penasaran.

“Untungnya tidak, sekarang air keran sudah ada. Tapi saya tidak mau membayar karena nyalanya sangat kecil sekali.” Debit air yang ia keluhkan ini membuat Pak Zainuddin pernah berurusan dengan petugas karena tidak mau membayar iuran, tapi oleh beliau, petugas langsung diarahkan untuk melihat langsung kondisi air. Petugas akhirnya paham alasan beliau tidak mau membayar.

“Saya tidak masalah dengan uangnya, tapi kalau nyala air sekecil itu, bagaimana saya mau membayar!”

Tak lama kemudian, istri Pak Zainuddin membawa nampan yang berisi nasi, ayam, dan sayur sop kepada kami. Nasi yang kami makan bercampur haru biru serta canda tawa, membuat santapan kali ini begitu lezat.

Suatu sore yang temaram di lain waktu, saya bercengkrama dengan Pak Zainuddin, menyoal keadaan sekarang dan membandingkan Labuan Bajo ketika ia muda.

“Bapak suka keadaan sekarang apa yang dulu?” celetuk saya di tepi laut yang sudah dibuat trotoar yang lebar. Pak Zainuddin mulai bergumam, dan beberapa patah kata mulai menyeruak dari mulutnya.

“Dulu di depan sini (menunjuk ke arah laut) padang lamun, sekarang sudah tidak ada. Saya heran kenapa padang lamun hilang, mungkin karena tetehe bulang [sejenis bulu babi yang tidak dimakan].”

Berdasarkan ingatan Pak Zainuddin, padang lamun mulai hilang dari Kampung Ujung pada tahun 2000 ke atas. Sewaktu padang lamun masih eksis, orang-orang bisa menombak ikan dan memancing hanya dari pinggir laut, mencari ikan-ikan yang bersembunyi di lamun. Seiring hilangnya lamun, habitat ikan mulai semakin menjauh dari pinggir laut. Lautnya pun sekarang tidak luput dari invasi sampah plastik. Di beberapa titik, air limbah rumah tangga langsung menjalar ke laut. Bau yang tidak sedap pun menyeruak, menusuk hidung.

Pak Zainuddin menyayangkan kesadaran akan kebersihan yang kurang. “Seandainya ikan cara itu ada buat [jadi] obat, sampai orang yang sakit itu pun mati ikan itu tidak dapat,” ia mengandaikan kelangkaan ikan masa sekarang, yang mengharuskan nelayan pergi lebih jauh. Dahulunya, menurut dia, tempat ini “ladang” ikan. Cari ikan apa saja ada. Tersedia dalam berbagai ukuran.

“Kalau nyari ikan juga dulu tidak perlu jauh-jauh. Semenjak tidak ada lagi [padang lamun] ikan-ikan makin jauh dicari.”

Setelah matahari turun dari peraduannya, kami kembali bercengkrama di dalam rumah. Sekarang lagi ramai soal BBM yang naik, Pak Zainuddin tak ketinggalan mengomentari demo-demo yang terjadi di Jawa. 

“Kenaikan BBM itu berdampak bagus, justru membantu masyarakat,” koar Pak Zainuddin kepada saya. Saya agak terkejut dengan pernyataannya, mengapa dia berpikiran bahwa dampak kenaikan BBM ini bagus? Bukannya justru akan menyeret harga kebutuhan pokok pada tingkat atas dan mencekik masyarakat bawah?

“Kamu tahu, kapal-kapal wisata itu memakai BBM sampai berapa? Sampai ton-tonan!” ujarnya dengan intonasi kemarahan yang tersirat di keningnya.

Menurut hematnya, harusnya BBM bersubsidi tidak boleh dipakai oleh mereka yang kaya, jatah-jatah masyarakat menengah ke bawah banyak dihabiskan oleh kapal wisata yang harusnya bisa menggunakan BBM non-subsidi.

“Bayangkan, bahan bakar satu kapal dalam satu hari itu bisa digunakan sampai dengan 50 kepala keluarga! Jadi apa-apa yang dilakukan pemerintah itu [menaikkan harga BBM] harus dikaji dulu, jangan langsung protes!”

Dia kemudian menyuruh saya berandai-andai: jika pemakaian BBM bersubsidi digunakan tepat sasaran, ada berapa banyak kebutuhan rakyat yang bisa terpenuhi? Tapi kita sering sekali terbentur fakta bahwa orang-orang kaya banyak bermental aji mumpung; mumpung tidak ada yang mengawasi, mumpung dapat bantuan, dan mumpung-mumpung lainnya. Memanfaatkan subsidi negara untuk menekan pengeluaran mereka.

Obrolan lainnya yang kami simpulkan kala itu adalah tentang duyung, yang dulu sering ditangkap nelayan untuk diperas air matanya dan dimakan dagingnya. “Air matanya konon mujarab buat pelet. Kalau dimakan itu, sisa tulangnya mirip manusia.” Keterangan ini sama persis dengan yang saya dapat saat di Mekko, yang membuat Pak Said enggan untuk memakan daging duyung lagi.  Dugong dugon memang status konservasinya termasuk rentan menurut IUCN Redlist, namun populasinya terus tergerus seiring ramainya penangkapan dan hilangnya sebagian padang lamun. Di tengah obrolan hangat tentang apapun itu, istri Pak Zainuddin datang dengan seperiuk nasi dan sebuah cocolan mirip cacapan dari banjar untuk menikmati hidangan ikan yang baru saja ditangkap oleh anaknya, Hakim—yang baru saja pulang dari memancing di laut, tempat matahari terbenam di beranda rumah mereka.

  • Pemandangan sore hari di depan rumah Pak Zainuddin,

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Interval

Lantunan Kesunyian dari Balik Penjara

Interval

Meneropong Tren Pariwisata 2023

IntervalPilihan Editor

Resensi 'Interval: Esai-Esai Kritis Tentang Perjalanan dan Pariwisata'

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Resep Dapur ala Wisata