IntervalPilihan Editor

Pusaran Premium Labuan Bajo (1)

Setelah status Taman Nasional Komodo yang berubah menjadi destinasi wisata premium, Labuan Bajo, sebagai gerbang pertama untuk menuju taman nasional tersebut disulap bak Bandung Bondowoso yang membangun 1000 candi dalam sehari; perubahan drastis pada kota tersebut–meskipun hanya sebagian kecil yang letaknya di pesisir yang berubah. Apakah membawa banyak perubahan juga di dalamnya?

“Banyak yang berubah, kan?”

Saya terperangah melihat bagaimana kota ini menjelma. Pada kunjungan saya tiga tahun yang lalu, hanya beberapa gedung yang terlihat dicanangkan untuk dibangun. Sisanya, masih tidak ada. Hari ini, saya melihat bagaimana jika satu kawasan langsung diprioritaskan secara nasional. Semuanya berubah secara drastis.

Saya ingat persis bagaimana pelabuhan ini sebelumnya; gedung bercat putih untuk para penumpang membeli dan menunggu kapal datang sembari melakukan apa saja; rebahan, duduk manis di kursi, atau melemparkan asap rokok sembarangan.

Sekarang, gedung itu dan daerah sekitarnya itu telah musnah, berganti dengan mercusuar, siring dengan akses pejalan kaki yang luas, hotel-hotel, dan dermaga yang jadi lebih apik. Labuan Bajo disulap menjadi lebih cantik dalam tiga tahun terakhir. Selain karena alam di sekitarnya, ternyata Labuan Bajo bisa berbangga dengan salah satu bagian kotanya sekarang—terutama di kawasan Jalan Soekarno–Hatta. Welcome to Labuan Bajo, sapa spanduk yang menyisipkan logo G20 di dalamnya.

“Selama pandemi berlangsung, hingga sekarang pembangunan besar-besaran sudah dilakukan,” celoteh Irna, yang menemani saya sore itu, mengitari kawasan yang dinamakan Waterfront Labuan Bajo. Irna mengomentari pembangunan cepat ini sebagai sebuah lompatan besar untuk sebuah daerah di luar Jawa. “Tapi apakah masyarakat sekitar siap untuk menerima perubahan drastis ini?” ujarnya melanjutkan pembicaraan.

Sebagai bagian dari wilayah kerja wisata premium nasional, Labuan Bajo dibangun sedemikian cepat. Kota ini menjadi gerbang masuk Taman Nasional Komodo, yang statusnya sebagai the one and only rumah komodo. Saking premiumnya, wacana kenaikan tiket kunjungan sudah berhembus semenjak bertahun-tahun yang lalu—yang akhirnya “memaksa” saya untuk mengunjunginya beberapa tahun silam.

Ketika palu diketuk untuk kenaikan harga tiket masuk pada Agustus 2022, banyak elemen masyarakat yang memprotes keputusan yang dirasa memberatkan banyak orang, baik dari pelaku maupun wisatawan itu sendiri. Kisruh ini kemudian berakhir setelah pemerintah menunda rencana kenaikan tiket hingga 2023. Kegiatan wisata sendiri sudah mulai beriak pasca pagebluk COVID-19, walau belum sepenuhnya maksimal.

“Ini ada buku-buku, saya pinjamkan buat dibaca-baca,” Irna menyerahkan seabrek buku yang ia tulis bersama teman-temannya, bertemakan sejarah, budaya, kuliner, hingga dinamika sosial di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Saya menerima dengan senang hati, setidaknya saya bisa melihat perubahan apa saja yang dialami oleh Labuan Bajo, dari kota yang hanya menjadi labuhan orang Bajo dan Manggarai menjadi kota wisata dengan label premium yang mengundang semua pihak untuk masuk dan berkecimpung serta memeriahkannya.

waterfront labuan bajo
Waterfront Labuan Bajo/M. Irsyad Saputra

Gejolak Dalam Perubahan Singkat

Suatu senja pada Agustus 2019, saya yang baru saja tiba di Labuan Bajo, pergi ke para penjual makanan di trotoar Kampung Ujung, untuk mencoba ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan.

Saya senang sekali mendapati ikan kakap, tuna, kerapu, udang, cumi, hingga lobster yang terhampar dalam tenda-tenda setiap warung. Setidaknya, bagi saya yang notabene lebih banyak menghabiskan hidup dengan memakan ikan air tawar, melihat kumpulan ikan laut dengan berbagai warna adalah sebuah pemandangan langka.

Saya memesan satu ikan kerapu sunuk, yang disajikan dengan dibakar bersama sepiring nasi dan lalapan. Itu adalah pertama kalinya saya menyantap ikan kerapu dan sampai sekarang menjadi salah satu ikan laut kegemaran saya.

Kenangan itu tiba-tiba saja pudar ketika saya sampai di tempat yang sama. Trotoar yang dulu berdiri seadanya, kini telah berganti menjadi trotoar selebar tiga meter dengan tiang-tiang besi yang memagari batas laut, diterangi lampu-lampu jalanan yang berbentuk lidah komodo. Lokasi berjualan makanan pun sekarang telah dipindahkan.

Ipul, seorang pedagang nasi bungkus, yang saya temui kala mencari santap pagi di Kampung Ujung, mengeluhkan tentang pembangunan trotoar yang memberatkan pedagang, yang sebelumnya sudah berjualan di trotoar Kampung Ujung. Warga yang berjualan di sana harus mendaftar kembali untuk mendapatkan verifikasi dan harus lolos seleksi, tapi yang paling memberatkan tentu saja soal biaya sewa yang naik.

“Terus, pedagang harus ngasih harga berapa untuk jualannya? Apa nggak kabur tuh pembeli?” gerutunya. Saya teringat momen membeli ikan bakar tadi, harga per ikannya sekitar 100 ribu rupiah, belum ditambah nasi dan sayur. Kalau sewanya segitu mahal, mungkin harga ikannya bisa mencapai 250-350 ribu rupiah.

Sambil menikmati santap pagi nasi putih dan ikan layang, Ipul kemudian bercerita tentang asalnya dan bagaimana pengalaman hidupnya, termasuk ketika dia berkecimpung dalam dunia pariwisata.

“Saya aslinya Dompu. Sudah banyak pengalaman merantau. Jakarta, Lombok, dan di sini,” telunjuknya menunjuk tanah tempat warungnya berdiri. Bagi dia Labuan Bajo sekarang adalah rumah untuk bersandar, tanah bagi dia untuk mencari sesuap nasi.

“Saya dulu pernah kerja di Gili, Mas. 9 tahun,” ucapnya sambil menerangkan hal lainnya dari pariwisata di Gili. Dirinya kemudian dengan bangganya bercerita tentang pengalamannya belajar bahasa Inggris. Dia senang mempelajari bahasa, karena bahasa, menurutnya, bisa banyak membuka kesempatan kerja. Banyak kenalan akan membuka banyak kesempatan, termasuk diantaranya kesempatan untuk mencari uang. Setelah ngalor ngidul soal pengalamannya di Gili, Ipul kembali mengungkit soal pembangunan di Kampung Ujung ini.

“Pembangunan kayak gini kan kita nggak minta, mereka yang inisiatif bangun. Setelah jadi, harga tiket malah mau naik,” keluh Ipul yang masih bersikeras bahwa pembangunan ini untuk memuaskan para oligarki yang ingin menguasai pariwisata Labuan Bajo. 

Ipul kemudian merapikan perkakas warungnya dan juga payung yang meneduhi bangku yang saya duduki, bersiap untuk pulang karena hari sudah menjelang siang. Jualannya hari ini sudah tandas dibabat orang-orang yang lalu.

Awan mengepung langit jingga Labuan Bajo, sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Entah kapan. Saya berkeliling Kampung Ujung, untuk mencari rumah seseorang yang menolong saya tiga tahun yang lalu. Kampung Ujung yang saya kenal juga sudah berubah 180 derajat. Pembangunan trotoar meluas hingga ke TPI Kampung Ujung. Rumah-rumah kayu tradisional khas Bajo juga banyak yang beralih bentuk menjadi rumah batako modern.

Waterfront Labuan Bajo dari atas Puncak Waringin/M. Irsyad Saputra

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Interval

Lantunan Kesunyian dari Balik Penjara

Interval

Meneropong Tren Pariwisata 2023

IntervalPilihan Editor

Resensi 'Interval: Esai-Esai Kritis Tentang Perjalanan dan Pariwisata'

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.