Interval

Wida Winarno: Memberdayakan Masyarakat melalui Tempe

Wida Winarno bersama ayahnya, Prof. F.G. Winarno, dan putra pertamanya, Amadeus Driando, seorang kandidat Ph.D., mendirikan Indonesian Tempe Movement tahun 2015. Tempe Movement adalah organisasi non-profit yang bertujuan mempromosikan Indonesia melalui pangan tradisional asli milik bangsa Indonesia.

Lewat Tempe Movement, mereka mempromosikan tempe dari sisi sains, sambil mengedukasi masyarakat agar bangga dengan kekayaan pangan, menghubungkan berbagai pihak di bidang pertempean seperti petani kedelai lokal, para pengrajin tempe, R&D yang berkaitan dengan tempe, serta memberdayakan masyarakat melalui tempe. Ringkasnya, misi Tempe Movement adalah educating, connecting, dan empowering.

Nah, untuk menyemarakkan kampanye #TelusuRIHariPerempuan, TelusuRI berbincang dengan Tante Wida dan meminta beberapa pendapatnya terkait isu perempuan. Simak obrolan kami, ya!

Bagaimana pendapat Tante Wida tentang pemimpin perempuan?  

Perempuan sebagai leader memiliki keluwesan dalam mengkoordinir anak buah, suatu saat perempuan bisa memanfaatkan sifat lembutnya untuk menguraikan pihak yang bersikukuh, saat lain menggunakan sifat keibuannya untuk mengendalikan milenial, bisa juga menggunakan sifat teguh pantang menyerah untuk mencapai tujuannya.

Wida Winarno/Istimewa

Apa sih makna pemberdayaan perempuan buat Tante Wida?

Ada kekuatan besar di balik para wanita karena biasanya wanita multitasking. Membangkitkan kekuatan wanita dan menggabungkan kekuatan tersebut akan menghasilkan karya yang besar. 

Bagaimana pendapat Tante Wida tentang pernyataan “perempuan harus memilih antara berkeluarga dengan berkarier”? 

Saya sendiri tipe yang menikmati seluruh proses mengurus dan membesarkan anak, sehingga bukan karena “harus” memilih, namun saya mengupayakan supaya saya bisa memilih untuk menikmati proses membesarkan seorang bayi hingga dewasa, memilih makanan terbaik bagi mereka, mendampingi ulangan umum dan ujian, mengajak bermain dan olahraga bersama, dll. Setelah itu baru saya mengepakkan sayap dan berkarier.

Beberapa perempuan memilih untuk berkarier dahulu, perempuan lain memilih untuk mengurus anak, ada juga yang berkarier dan berkeluarga sekaligus. Yang penting perempuan melakukan semua itu bukan karena terpaksa namun karena perempuan memiliki power untuk memilih yang terbaik bagi dirinya.

Nah, yang terakhir, nih, Tante Wida punya wejangan untuk kamu para perempuan yang ingin berkarya namun takut dengan keterbatasan yang ada.

Perempuan yang masih takut dengan keterbatasannya bisa bergabung dengan perempuan lain yang sudah berkembang, sehingga bisa saling mengisi; mengisi keterampilan, mengisi kedewasaan, mengisi strategi, dan akhirnya saling mendukung,” pesan Tante Wida Winarno.


Dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2020, TelusuRI mempersembahkan #TelusuRIHariPerempuan, sebuah kampanye untuk menceritakan perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang berkarya dan memberikan inspirasi bagi masyarakat.

Related posts
#dirumahajaInterval

“Staycation” di Rumah

Interval

Githa Anathasia: Memberdayakan Masyarakat Arborek untuk Pariwisata Berkelanjutan

Interval

Rizki Kelimutu: Bicara soal Perempuan di Bidang Teknologi

Interval

Bahaya Laten Heritagisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *