Interval

#TelusuRIHariPerempuan: 8 Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan

Hampir 50% penduduk di Indonesia adalah perempuan. Semakin didorongnya persentase pegawai wanita di perusahaan-perusahaan besar menandakan semakin maju pula pemberdayaan perempuan di Indonesia. Nah, ternyata kontribusi perempuan juga tidak kalah dengan laki-laki. Ibu Sri Mulyani, Ibu Retno Marsudi, dan Mbak Najwa Shihab adalah bukti bahwa perempuan hebat Indonesia telah berhasil berkarya di bidangnya.

Namun, masih banyak lagi sebenarnya perempuan hebat Indonesia yang juga berkarya besar dalam bidangnya masing-masing. Dengan gembira, dalam rangka #TelusuRIHariPerempuan, kami memiliki kesempatan untuk mewawancarai delapan perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang berkarya dan memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menceritakan pendapat mereka tentang pemberdayaan perempuan.


Arumdrya/Istimewa

Arumdriya dan Kawan Bhinneka

Arum, Adey, dan Nia adalah mahasiswi tahun akhir ketika mereka memutuskan untuk membuat Kawan Bhinneka. Berangkat dari keresahan akan kasus intoleransi yang mulai masuk di kalangan anak kecil, mereka membuat buku cerita dan sesi berbagi bersama anak-anak kecil guna memberi ruang belajar tentang perbedaan dan penerimaan. Misi utama Kawan Bhinneka adalah untuk mengajarkan kebhinnekaan dengan cara yang mudah dipahami oleh anak kecil.


Gemala Hanafiah/Istimewa

Gemala Hanafiah

Gemala Hanafiah, atau biasa dipanggil Al, jatuh cinta dengan dunia surfing sejak tahun 2008. Bisa dibilang ia merasa hidup ketika berada di laut dan berada di atas papan selancar. Kecintaannya itu dan keinginannya untuk sharing ke banyak orang membuat ia rajin bercerita di blog, buku, dan sekarang di @wettraveler. Bermula dari surfing dan mengikuti berbagai kompetisi, kini Al terjun pula ke dunia scuba diving sampai free diving. Al bermisi untuk tak henti mengungkap keindahan laut Indonesia melalui foto dan video, ke mana pun ia pergi.


Wida Winarno/Istimewa

Wida Winarno

Wida Winarno bersama ayahnya, Prof. F.G. Winarno, dan putra pertamanya, Amadeus Driando, seorang kandidat Ph.D., mendirikan Indonesian Tempe Movement pada tahun 2015. Tempe Movement adalah organisasi non-profit yang bertujuan mempromosikan Indonesia melalui pangan tradisional asli milik bangsa Indonesia. Lewat Tempe Movement, mereka mempromosikan tempe dari sisi sains, sambil mengedukasi masyarakat agar bangga dengan kekayaan pangan, menghubungkan berbagai pihak di bidang pertempean seperti petani kedelai lokal, para pengrajin tempe, R&D yang berkaitan dengan tempe, serta memberdayakan masyarakat melalui tempe.


Siska Nurmala/Istimewa

Siska Nurmala

Ia adalah penggerak dari kampanye Zero Waste Adventure. Zero Waste Adventure sendiri lahir dari kegelisahan Siska melihat banyaknya sampah saat mendaki Rinjani (2010) dan Semeru (2011). Tahun 2013, ia memulai Zero Waste Adventure dengan Ekspedisi Nol Sampah (pendakian 5 gunung di Indonesia tanpa menghasilkan sampah). Konsep ini menjadi metode efektif untuk mengampanyekan gaya hidup zero waste ke generasi muda, terutama mereka yang suka berkegiatan di alam bebas. Misinya, mendobrak budaya petualangan Indonesia yang kental dengan masalah sampah menjadi budaya petualangan yang tidak menghasilkan sampah sama sekali, dan menyebarkan gaya hidup tanpa sampah seluas-luasnya.


Annisa Fauziah/Istimewa

Annisa Fauziah

Annisa, yang akrab disapa Nisa, membuat @triupcycle di tahun 2016. TRI Upcycle ini adalah sebuah produk yang dibuat dari limbah tekstil dan pabrik garmen. Mendaur ulang limbah pabrik ini memberi peluang untuk memperlambat proses pembuangan limbah tekstil di Bali. Tri Upcycle juga menyumbangkan profit yang mereka dapatkan kepada NGO yang memiliki misi [bersifat] konservatif. Nisa juga ingin meningkatkan kesadaran akan konsumsi berlebihan.


Leonika Sari/Istimewa

Leonika Sari

Leonika adalah co-founder dari Reblood, sebuah startup yang menyediakan platform untuk membantu orang membangun gaya hidup sehat melalui donor darah. Reblood memiliki fitur-fitur seperti lokasi donor terdekat, pengingat donor, donasi online, dan banyak lagi. Berawal dari pengalaman pribadi Leo, ketika teman sekampusnya membutuhkan donor darah namun persediaan di PMI sedang kosong, Leo kemudian mengetahui bahwa permasalahan seperti itu hampir terjadi setiap minggu di Surabaya dan daerah lainnya. Apalagi penduduk Indonesia selalu bertambah setiap tahun.


Rizki Kelimutu/Istimewa

Rizki Kelimutu

Ia lebih akrab disapa Kiki. Selain bekerja sebagai Manajer Komunitas, ia juga menulis buku dan jadi host di podcast Kartini Teknologi. Kartini Teknologi ia mulai bersama temannya, Galuh. Lewat Kartini Teknologi, kita hendak memperkenalkan lebih banyak sosok perempuan keren dari Indonesia yang berkarya di bidang teknologi untuk menyemangati lebih banyak perempuan agar bisa berpartisipasi di bidang tersebut.


Githa Anasthasia/Istimewa

Githa Anathasia

Githa Anathasia adalah penggiat Kampung Wisata Arborek. Di sana, Githa mengembangkan pariwisata berkelanjutan dengan melakukan empowering terhadap masyarakat lokal dan membuka Arborek Dive Shop bersama suaminya, Marcel Mambrasar. Ia juga aktif dalam program Kitong Bisa Learning Center di Arborek yang berfokus pada sustainable entrepreneurship yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada pendapatan, tetapi juga bisa bertanggung jawab terhadap bisnis, keluarga, dan lingkungan.


Dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2020, TelusuRI mempersembahkan #TelusuRIHariPerempuan, sebuah kampanye untuk menceritakan perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang berkarya dan memberikan inspirasi bagi masyarakat.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Related posts
#dirumahajaInterval

“Staycation” di Rumah

Interval

Githa Anathasia: Memberdayakan Masyarakat Arborek untuk Pariwisata Berkelanjutan

Interval

Rizki Kelimutu: Bicara soal Perempuan di Bidang Teknologi

Interval

Bahaya Laten Heritagisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *