INTERVAL

Tradisi “Laku Banyu Panguripan” di tengah Ancaman Krisis Air Bersih

Dewasa ini, bayang-bayang krisis air bersih turut menjadi sorotan di kancah global. Bahkan masuk dalam garapan PBB pada agenda Sustainable Development Goals (SDGs), Clean Water and Sanitation, sejak tahun 2015 sampai tahun 2030 mendatang. Penyebab krisis air bersih tidak hanya karena perubahan iklim global, tetapi juga faktor antropogenik: urbanisasi, industrialisasi yang masif, pertumbuhan penduduk, dan eksploitasi sumber daya alam.

Fenomena ini terasa lebih dekat tatkala banyak daerah di Jawa Tengah beberapa bulan ini mengalami kesulitan mengakses sumber air yang biasa mereka gunakan. Akibatnya, kualitas pertanian anjlok, warga kesulitan mengatur kebutuhan rumah tangga. Ditambah kualitas air yang buruk tersebut berpeluang menciptakan penyakit bagi kelompok rentan.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi hal yang sama di masa mendatang. Mulai dari sisi penyediaan infrastruktur yang memadai, kebijakan daerah yang melek kondisi, hingga upaya edukasi sistemik lewat jalur kebudayaan.

Seorang warga mengambil air di sebuah cerukan aliran sungai di Sragen (Bram Selo Agung via Tempo)
Seorang warga mengambil air di sebuah cerukan aliran sungai di Sragen/Bram Selo Agung via Tempo

Tradisi yang Lebih dari Sekadar Seremonial Belaka

Umumnya, rasa penasaran mengenai simbol atau serangkaian agenda autentik sebuah tradisi kerap kali muncul di benak kita, seperti “mengapa simbolnya seperti itu?” atau “kenapa alur acaranya mengharuskan beberapa ritual tersebut?”

Terlepas kebingungan acak yang kita dapati, ada satu hal yang jelas, bahwa simbol dan serangkaian tradisi tidak tumbuh begitu saja tanpa maksud. Ada sesuatu di baliknya. Inilah tugas para pegiat untuk memparipurnakan pelestarian tradisi, yaitu menggali, mengekstraksi relevansi nilainya, dan membenamkan makna yang tersingkap ke dalam kesadaran kolektif masyarakat. 

Bagi antropolog kenamaan seperti Clifford Geertz, tradisi memiliki nilai yang sarat akan makna. Ia merupakan visualisasi dari pikiran dan emosional dari orang-orang masa lampau yang diwariskan turun-temurun lewat berbagai macam simbol dan ritual tertentu. Singkatnya, tradisi adalah manifestasi dari memori kolektif generasi saat ini tentang laku hidup para leluhurnya dalam berinteraksi dengan lingkungannya saat itu.

Tradisi bukan hanya produk estetika sosial. Ia perlu tumbuh sebagai pemandu bagi generasi sekarang untuk memahami dan mengatur kehidupan agar kian harmonis dengan realita sekitarnya. 

Dokumentasi prosesi tradisi Laku Banyu Panguripan di YouTube

Tradisi “Laku Banyu Panguripan”

Di awal tahun kemarin, tepatnya 3 Januari 2026, sepanjang jalan dari alun-alun kota hingga Menara Kudus lebih padat dari biasanya. Dari atas langit, jalanan tampak terang oleh ratusan nyala obor yang dibawa sebagian peserta kirab yang berkisar ribuan orang. Kegiatan ini merupakan rangkaian agenda perayaan ta’sis ke-491 tahun Menara Kudus yang dilaksanakan tiap 19 Rajab.

Seperti namanya, Laku Banyu Panguripan, tradisi ini tak lepas dari sesuatu yang berkaitan dengan banyu atau air. Sebanyak 554 kendi yang berisikan air zam-zam, air dari berbagai belik di setiap penjuru Kudus, serta air dari pelbagai punden para Walisongo, turut diarak dari pendopo kabupaten hingga depan Menara Kudus. Puncaknya, disatukan ke dalam dua gentong berukuran besar yang telah disediakan.

Setelah prosesi penyatuan selesai dan ditutup dengan doa, air-air yang ada dalam gentong tadi dibagikan ke pengunjung yang hadir. Ratusan pengunjung pun berbondong-bondong memadati area sekitar panggung, saling menodongkan botol-botol kosong untuk diisi air yang dipercaya mengandung keberkahan itu.

Bicara soal keberkahan, saya termasuk orang yang meyakini bahwa air tersebut  “paten” barokahnya. Bagaimana tidak, selain berasal dari tempat-tempat yang penuh nuansa spiritual, pasalnya, sebelum acara dimulai ratusan air ini juga tuntas ditirakati dengan 19 kali khataman Al-Qur’an.

Meski begitu, terlepas dari keberkahan yang lazimnya diyakini masyarakat, keberkahan Laku Banyu Panguripan sebetulnya dapat dihayati lebih luas dari sekedar muatan energi spiritualnya. Tradisi ini juga mampu diekstraksi sari-sarinya sebagai berkah (ziyadatul khair) berupa pengetahuan luhur yang punya sumbangsih pada kehidupan berkelanjutan. Termasuk solusi bagi ancaman krisis air bersih dewasa ini. 

Sesi penyatuan air berbagai sendang setelah diarak dari Pendopo Kabupaten Kudus (Mahmud Latifkhan)
Sesi penyatuan air berbagai sendang setelah diarak dari Pendopo Kabupaten Kudus/Mahmud Latifkhan

Menghayati dan Menghidupkan Laku Banyu Panguripan

Laku Banyu Panguripan merupakan tradisi yang disandarkan pada perjalanan spiritual Raden Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) dan para muridnya saat melakukan islamisasi di berbagai daerah di Kudus. Mulanya, sepak terjang syiar para murid sang Sunan tak hanya mendakwahkan ajaran Islam, tetapi juga membangun fondasi keberlangsungan hidup masyarakat dengan meninggalkan sumber mata air (sendang atau belik).

Hingga kini, sumber mata air itu masih terus dijaga dan dimanfaatkan dalam memenuhi segala aspek kebutuhan masyarakat. Baik untuk urusan spiritual-peribadatan maupun penopang kehidupan sosial sehari-hari. Lewat folklor yang beredar, tradisi Laku Banyu Panguripan menjadi penanda bahwa masyarakat Kudus sedari dulu telah mempunyai ikatan yang harmonis dengan air.

Melihat dari sisi kebermanfaatannya, eksistensi belik atau sendang peninggalan para murid Sunan Kudus seyogianya memang tak cukup jika hanya dipandang sebagai bagian dari ritus kepercayaan. Tempat tersebut juga perlu dimaknai sebagai simbol kehidupan yang perlu dijaga kelestariannya.

Sari-sari luhur yang memuat ajaran dan pengetahuan dalam tradisi ini sudah sepatutnya disingkap dan dibumikan ke masyarakat agar ia tidak berhenti sebagai ritus lokal. Apalagi hanya dijadikan jurus jitu agenda ekonomis kedaerahan untuk menarik daya wisatawan luar. Tradisi ini seyogianya juga harus tumbuh dan hidup sebagai jawaban atas persoalan-persoalan kehidupan yang kian hari kian runyam.

Potret warga Desa Terban, Jekulo, Kudus setelah melakukan tradisi sedekah bumi di sekitar Sendang Pengilon (Roni Hilal via Kompasiana)
Potret warga Desa Terban, Jekulo, Kudus setelah melakukan tradisi sedekah bumi di sekitar Sendang Pengilon/Roni Hilal via Kompasiana

Laku Banyu Panguripan dan Tradisi Turunan sebagai Obat Ekologis

Di berbagai daerah, pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat Kudus dalam menjaga sumber mata air warisan para murid sang Sunan adalah dengan agenda tradisi tahunan, yakni resik-resik sendang atau membersihkan sumber mata air. Tradisi di tempat-tempat tapak tilas para murid Sunan Kudus inilah yang hematnya berperan sebagai sendi penopang bagi pelestarian tradisi Laku Banyu Panguripan.

Menariknya, penghayatan masyarakat tentang kesakralan jejak peninggalan murid sang Sunan telah membuahkan kelestarian pada ekosistem di sekitar sendang atau belik. Pohon-pohon besar berumur ratusan tahun dan sejumlah vegetasi lainnya yang masih terjaga asri.

Namun, kendati atas dasar kesadaran lingkungan, alasan penjagaan ini sering kali berangkat hanya dari keyakinan mistis akan kekeramatan objek-objek itu. Tak ada yang berani berbuat sembrono. Barangkali ada yang ingin berbuat aneh-aneh atau merusaknya, ia agaknya perlu berpikir dua kali atas kesialan nasib yang akan menimpanya nanti. Jadi, tak heran apabila di sekitaran sendang juga kerap dijadikan medium pesugihan dan aktivitas mistik lainnya.

Beralih pada persoalan krisis air bersih. Tak dimungkiri bahwa penghayatan pada sumber mata air warisan leluhur sebagai simbol kesakralan telah menjadikannya suaka yang menjaga keberlangsungan air bersih di daerah-daerah tersebut. Meski begitu, penghayatan ini rasanya tak cukup jika hanya berkutat pada aspek mistik-kesakralan.

Berkaca dari pandangan Geertz sebelumnya, simbol dan ritual tertentu di seputar mata air merupakan jembatan pengajaran laku hidup antara dunia masa lampau dengan era sekarang. Dari pandangan itu, rasanya terlalu berlebihan jika para leluhur mengajari generasi saat ini cara mencari ilmu kanuragan lewat sendang-sendang peninggalannya. Mereka sepertinya lebih mengajari kita, “wajib hukumnya” menjaga sumber mata air dengan tidak mengeksploitasi objek-objek yang ada di sekitarnya.

Hal ini cukup logis jika dipandang dari kacamata lingkungan. Baik mata air yang ada di punden, belik, atau sendang dengan ekosistem seperti pohon-pohon besar berakar kuat, serta ragam vegetasi di sekitarnya merupakan bagian vital yang saling terhubung dalam menopang kualitas lingkungan serta sumber mata air. Maka lumrah, apabila sumber-sumber mata air di berbagai daerah, yang dipercaya sebagai peninggalan para murid Sunan Kudus, hingga kini masih melimpah ruah kualitas dan keberadaannya.

Sejumlah peserta kirab Laku Banyu Panguripan berjalan membawa obor, Kudus (Humas Joglo Jateng)
Sejumlah peserta kirab Laku Banyu Panguripan berjalan membawa obor, Kudus/Humas Joglo Jateng

Pemerintah dan Masyarakat Lokal Perlu Berkolaborasi

Mengingat perubahan iklim yang tidak keruan, pemerintah daerah dan masyarakat lokal perlu berjibaku mengejawantahkan pengetahuan yang ada dalam tradisi ini dan sejenisnya. Sehingga, nantinya sari tradisi ini dapat diekstraksi sebagai salah satu modal mitigasi krisis air bersih di tingkat lokal.

Lewat kearifan lokalnya, masyarakat Kudus seyogianya sudah lebih dari cukup dalam membentengi kualitas pasokan airnya dari ancaman krisis air bersih global. Akan tetapi, tentu hal ini musykil terwujud apabila pengetahuan luhur yang ada dalam tradisi-tradisi ini tidak disingkap dan ditanamkan sebagai kesadaran ekologi masyarakat.

Banyak ruang yang berpeluang menjadi medium untuk upaya ini. Misal, kampanye dan kebijakan berbasis nilai lokalitas dari level daerah hingga desa, integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, dan rutinitas musyawarah mingguan warga desa.

Melalui semangat ekologi di baliknya, tradisi seperti Laku Banyu Panguripan nantinya tak hanya eksis sebagai simbol kesakralan dan pemasok daya ekonomis daerah belaka. Tradisi ini juga terus dibutuhkan kelestariannya sebagai penjaga identitas lokal dan jembatan ingatan laku hidup masa lampau yang mampu menopang kehidupan di masa mendatang.


Foto sampul: Sejumlah warga Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati mengambil bantuan air bersih (Beni Dewa via Suara Merdeka)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahmud Latifkhan

Mahmud Latifkhan, sedang magang jadi warga Yogyakarta. Selain menulis, kebetulan juga suka kopi dan berkelana.

Mahmud Latifkhan

Mahmud Latifkhan, sedang magang jadi warga Yogyakarta. Selain menulis, kebetulan juga suka kopi dan berkelana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Festival Lima Gunung, Pelajaran tentang Kerendahan Hati