Pada tanggal 10–12 Juli 2026, Dusun Warangan, Kabupaten Magelang, menjadi ramai karena terpilih jadi tempat penyelenggaraan Festival Lima Gunung XXV. Festival tahunan yang digagas Komunitas Lima Gunung ini mempertemukan berbagai kelompok seni dari kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh.
Tahun ini, mereka mengangkat tema “Makin Goblok Bareng”. Sebuah ajakan untuk menurunkan ego di tengah era digital, ketika manusia semakin mudah merasa paling benar, serta mengingatkan kita agar tetap rendah hati dan terus belajar.
Oleh: Anastasia Yessica
Kreasi Unik dari Alam
Sebelum masuk ke area utama, pengunjung disuguhi berbagai dekorasi dan hiasan buatan warga. Seluruh materialnya memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar, seperti bambu dan jerami.
Ruang Pameran dan Panggung Kesenian
Di salah satu sudut, terdapat galeri yang memamerkan arsip dokumentasi festival serta beberapa karya seni. Area pameran ini menarik perhatian para pengunjung yang melintas untuk menikmati karya-karya seni pajangan tersebut.
Di sisi panggung, meski cuaca siang itu cukup menyengat hingga membuat beberapa pengunjung harus memakai payung, antusiasme mereka sama sekali tidak surut untuk menyaksikan setiap jalannya acara dari dekat. Salah satu penampil yang menarik perhatian adalah Kelompok Kesenian Mahesasura dari Sanggar Seni Batara. Kostum mereka dipenuhi unsur alam, seperti jerami, serat, dedaunan, serta topeng dengan ekspresi yang tegas. Kesenian Mahesasura ini menampilkan tarian yang menggambarkan watak kerbau (mahesa), membawa pesan tentang pentingnya manusia mengendalikan sifat liar, amarah, dan hawa nafsu agar kehidupan tetap berjalan selaras.
Tradisi Arak-arakan Hasil Bumi
Di sela-sela jadwal pertunjukan seni tari, ada acara pawai dengan mengenakan pakaian adat. Mereka berjalan rapi mengarak tandu bambu yang berisi gunungan hasil bumi, mulai dari sayuran hijau, jagung, hingga umbi-umbian. Arak-arakan ini merupakan bentuk tradisi syukur masyarakat setempat atas kesuburan tanah pertanian yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Festival Lima Gunung XXV tahun ini menjadi bukti bagaimana sebuah ruang budaya bisa hidup lewat gotong royong warga. Festival ini terus dirayakan sebagai ruang ekspresi yang murni, ketika kesenian dirawat lewat kebersamaan, keikhlasan, dan semangat gotong royong warga lereng gunung. Bagi kita yang datang berkunjung, perayaan ini memberikan kesempatan berharga untuk sejenak rehat dari rutinitas, membaur bersama, dan kembali belajar tentang arti penting sebuah kerendahan hati.