Tak hanya aktivitas luar ruang, anak-anak yang bermain di Alun-alun Kejaksan bisa menikmati perpustakaan mini (microlibrary). Ada di sudut utara lapangan, tempat baca persembahan Bank Indonesia (BI) Cirebon juga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon itu, baru beroperasi kembali beberapa pekan lalu.
Sejak diresmikan 2021, perpustakaan mini Alun-alun Kejaksan sempat mati suri. Pihak penanggung jawab lamban menyelesaikan persoalan. Akibatnya, atap bangunan bocor dan rayap merajalela. Microlibrary pun nyaris almarhum.
Alasannya, sih, klise: keterbatasan anggaran. Publik pun dipaksa maklum: di negeri ini terlampau banyak program baik yang anget-anget tai ayam. Gagah di awal, sempoyongan tengah jalan. Duit seremonial peluncuran ada, tapi abai biaya kelangsungan program. Atau sebenarnya anggaran perawatan itu ada, tapi ketinggalan di bawah bantal istri muda.
Tak mau ketiban dosa bersama. Wali Kota Cirebon Effendi Edo, lantas menitahkan Kepala Dispusip Mastara untuk menghidupkan lagi microlibrary. Syukurlah, pencinta literasi tak perlu menggelar tahlilan lima tahun kematian perpustakaan mini. Kalau tahlilan sentra UMKM yang satu area dengan microlibrary, seharusnya diadakan. Demi mengenang kesia-siaan bangunan yang kini jadi sarang tikus itu.


Jumpa Pak Warsita
Kaget juga bertemu Pak Warsita di depan microlibrary, awal Juni 2026.
“Lagi ngapain, Pak?”
“Persiapan reaktivasi microlibrary, Mas,” kata pegawai Dispusip itu.
“Serius?”
Setengah tak percaya, untuk pertama kalinya saya masuk ke dalam. Bau lembap menyeruak. Diselingi bau kayu bekas santapan rayap. Noda “pulau” kecokelatan di langit-langit belum hilang. Imbas rembesan air hujan.


“Pendingin ruangan nanti kita perbaiki. Dinding dan lantainya dicat ulang. Biar pengunjung nyaman,” ujarnya.
Warsita dan jajaran Dispusip tak mau keberadaan microlibrary telantar hingga kiamat. Jangan seperti sentra UMKM yang terbengkalai. Apalagi, kata dia, Alun-alun Kejaksan didatangi masyarakat luas. Termasuk wisatawan luar daerah. “Malu kalau ada bagian yang tidak terurus,” sahutnya.
Miris saat mendengar cerita Warsita, koleksi ratusan buku yang ada di rak microlibrary semuanya rusak. Tanpa sirkulasi udara dan hangat sinar mentari, rayap sepuasnya mengganyang. “Sedih melihatnya. Buku-buku hancur. Semoga tak terulang lagi,” harap lelaki berkumis itu.


Mampir Microlibrary
Tak ingat perpustakaan mini sudah buka kembali. Saya, dua anak wadon, dan kakak lelakinya melenggang ke tempat ayunan di alun-alun, Senin (6/7/2026). Eh, pas lihat teks berjalan di atas pintu microlibrary, saya sejenak memperhatikan. Tertera jam operasional hari kerja: 09.00–16.00 WIB. Tutup Sabtu, Minggu, dan libur nasional.
“Mampir dulu, Bang!” ajak saya ke anak-anak.
“Tutup kayanya,” timpal si sulung, Rean Carstensz Langie.
Saya geser pintu kaca. Terbuka. Nyes, sejuk AC mendekap. Kedatangan kami membuat petugas terkejut, lalu memantaskan posisi duduk di sofa. Petugas lainnya bangkit dari ketiduran di pojok baca dan dongeng.
Saya melambatkan langkah. Memberi kesempatan keduanya menyambut. “Buka, kan?” saya memastikan. Tak ada pengunjung lain.
“Buka, Pak. Silakan…”
Anak-anak antusias ke meja bundar beralas matras puzzle alfabet. Safaluna (7) dan Almahyra (5), berlomba memilih buku yang menarik perhatian mereka. Pojokan tersebut sengaja diatur untuk bocah.
Rak warna-warni memajang buku hard cover bergambar. Pastinya mengundang penasaran anak-anak. Belum lagi judul ceritanya membangkitkan keingintahuan. Namanya juga bocil, langsung menyambar dua buku sekaligus dan menyelak halaman demi halaman. Seolah senja tiba, dan petugas mengingatkan untuk pulang.






Sejumlah koleksi bacaan anak di perpustakaan mini Alun-alun Kejaksan Cirebon/Mochamad Rona Anggie
Kunjungan Tegar dan Zahra
Ketika sedang mengakrabi tiap sudut microlibrary, anak-anak kedatangan teman baru. Awalnya seorang gadis kecil memakai celana basket dengan rambut kusam terikat. Lalu muncul anak lelaki berambut kemerahan akibat sering terpapar terik matahari. Beberapa bagian kausnya bolong.
Saya mengira keduanya kerap menghabiskan waktu di jalanan. Entah mengamen atau berjualan di perempatan lampu merah. Saya hampiri bocah lelaki yang sedang mencoret kertas tamu. Tertulis: Tegar. Di baris atasnya: Zahra. Saya tuliskan pula nama saya dan anak-anak. Tegar (11) kelas 6 di SDN Pegajahan 3, sedangkan Zahra (9) naik kelas 3 di SDN Jagasatru.
“Sengaja ke sini atau lagi main di alun-alun?” tanya saya.
“Main ke teman, terus ke sini,” jawab Tegar cuek, sambil membuka halaman buku. Dia lalu pindah ke meja komputer.
“Jangan dulu, belum bisa!” sergah petugas bernama Rizky Ahadillah.
Saya dekati Tegar. “Bisa pakai komputer? Ngetik [Microsoft] Word bisa?”
“Bisa,” ucapnya singkat terus melengos, kemudian berbaring di pojokan sambil membaca.


Sementara Zahra melanjutkan kisah Mesin-Mesin Super yang belum dia tamatkan.
“Zahra senang baca buku apa?”
“Cerita petualangan dan sains.”
Takjub saya mendengarnya. Gadis kecil itu akan kaya wawasan jika konsisten melahap buku-buku di microlibrary.
“Naik apa Zahra ke sini?” sahut petugas bernama M Irvan.
“Angkot,” ujarnya tanpa melirik lawan bicara, karena tengah serius memelototi lembaran buku


Menyala Abangku!
Tujuan awal microlibary adalah mendekatkan perpustakaan ke ruang publik. Terutama pengunjung Alun-alun Kejaksan dan jemaah Masjid At-Taqwa selepas menunaikan ibadah.
“Kami ingin life skill masyarakat meningkat lewat buku. Idealnya menunjang kesejahteraan mereka pula,” kata Kepala Dispusip Jaja Sulaeman saat peresmian microlibrary, 12 April 2021, seperti dilansir radarcirebon.disway.id.
Tentu kita berharap demikian. Bukan cerita baru jika buku menginspirasi banyak orang untuk merengkuh cita-cita. Termasuk kemerdekaan bangsa ini, diperjuangkan oleh mereka para penggila buku. Dari Sukarno, Hatta, Sutan Sjahrir hingga Tan Malaka.
“Sementara ini pengunjung per hari ada sepuluh orang,” sebut Rizky. “Jaringan internet dalam proses aktivasi, supaya layanan buku digital bisa diakses,” imbuhnya.
M. Irvan menambahkan, pihaknya optimis keberadaan microlibrary bakal menumbuhkan minat baca anak-anak. Dispusip ingin slogan cinta literasi yang membahana di banyak panggung bukan sekadar pemanis pidato, melainkan jadi kenyataan dalam keseharian masyarakat.
“Saran, Kang. Kasih keterangan ‘buka/tutup’ di pintu. Biar yang mau berkunjung tidak ragu,” sela saya.
“Iya, sudah kami sampaikan ke pimpinan,” kata Irvan.
Tentu saja, di tengah gemerlap konten visual di media sosial, spirit menggenggam buku fisik tak boleh padam. Anak-anak mesti terus dihasung membaca buku dan berkegiatan di luar ruang. Jangan biarkan terbit-terbenam mentari, mereka dalam kuasa kuota.
Sepakat kan Bang Tegar dan Mbak Zahra? Kalian akan beranjak dewasa. Jadikan buku-buku terus menyala!
Buku-buku setia memanggil. Tak pernah jemu. Walau perpustakaan mini ini kalah ramai dengan kios pulsa di seberangnya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


