Itinerary

Melihat Takbir Keliling “Tempo Doeloe” di Kotagede

Kami tiba di Kota Perak ketika acara Takbir Keliling AMM Kotagede 1440 Hijriah sudah dimulai. Orang-orang sudah mengambil posisi di trotoar menanti parade.

Deli menerobos kerumunan di pertigaan PKU. Saya dan Nyonya mengikuti di belakang.

Kami pun berjalan di pinggir, bersama kelompok pengajian yang sedang takbiran diiringi dentuman perkusi musisi-musisi bertopeng Guy Fawkes. Di depan mereka adalah gerobak hias berbentuk setrika. Di depannya lagi bocah-bocah remaja awal yang dengan terampil menari-nari memindahkan oncor dari kanan ke kiri.

Selang sebentar, mereka berhenti di depan panggung, lalu unjuk kebolehan. Kami juga mesti berhenti. Agak susah memang melipir melewati oncor-oncor menyala. Salah-salah, kami bisa disambar si jago merah.

Usai menunjukkan kebolehan, rombongan Guy Fawkes itu berjalan semakin ke selatan. Kami berhasil menyalip mereka dan bergabung dengan defile berpakaian serba putih.

Tak berapa lama kami tiba di depan Pasar Legi. Sekali lagi rombongan berhenti. Gamelan terus dipukul. Snare, tom-tom, dan tambur terus ditabuh. Kru rombongan takbir keliling berjalan ke sana kemari menawarkan air minum pada peserta pawai.

Deli sudah membaur dengan kerumunan, entah di mana dia sekarang. Saya dan Nyonya akhirnya dapat tempat duduk strategis di trotoar dekat pertigaan menuju Masjid Kotagede.

Dari pinggir, kami menyaksikan rombongan pawai datang silih berganti mempersembahkan atraksinya masing-masing. Ada yang membawa lampu teplok raksasa, kereta kencana, replika masjid, Tugu Pal Putih, gunungan wayang, semut raksasa… atau laba-laba?

Menjelang jam sebelas malam, peserta pawai pamungkas lewat di pertigaan Pasar Legi. Mereka disusul oleh para panitia berbaju hitam dan sebuah mobil polisi yang lampunya berkedip-kedip biru. Acara usai. Kerumunan di sekitar Pasar Legi pun dengan tertib membubarkan diri, termasuk kami.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
    Artikel Terkait
    ItineraryNusantarasa

    Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

    ItineraryNusantarasa

    Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

    Itinerary

    Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

    Itinerary

    Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.