Pilihan EditorTravelog

Sepenggal Cerita dari Selatan Pulau Timor—Fatubraun

Gunung Batu yang menjulang dan pemandangan di sekitarnya yang menawan barangkali telah lama menjadi sisi ikonik dari Fatubraun, sebuah desa wisata nan luar biasa yang terletak di Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Keberadaan Gunung Batu memang sudah cukup banyak dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat direkomendasikan ketika berkunjung ke Pulau Timor. 

Saya sendiri sudah sejak lama ingin berkunjung ke Fatubraun. Cerita kawan-kawan yang pernah berkunjung ke sana dan berbagai potret indah Fatubraun yang tersebar luas di internet, seakan menarik saya untuk segera mengunjunginya. Sayangnya, keinginan itu belum pernah terwujud. Barulah pada 13 November 2021, bersamaan dengan kegiatan kampus bersama mahasiswa modul nusantara, saya berkesempatan untuk mengunjungi Fatubraun. 

Hujan turun deras di pagi hari keberangkatan kami ke Fatubraun. Sesungguhnya ini tidak menjadi masalah berarti, karena rombongan kami berangkat menggunakan dua bus dan beberapa unit mobil. Namun, itu tidak cukup baik untuk saya dan Kae Ditho yang berangkat terpisah menggunakan sepeda motor. Kami berdua terpaksa harus menunggu hujan reda baru berangkat dari Kupang. Selama perjalanan pun, kami beberapa kali harus menepi musabab hujan yang kembali turun. Barulah ketika kami memasuki wilayah Oesao, hujan benar-benar berhenti. 

Akses jalan ke Fatubraun sendiri sudah cukup bagus dengan aspalnya yang mulus. Pemandangan sepanjang jalan pun membuat perjalanan menjadi tidak terasa lama. Apalagi ketika memasuki kawasan Taman Hutan Raya Prof. Ir. Herman Yohanes yang penuh dengan pepohonan tinggi nan hijau, serta udara yang sejuk dan suasana yang begitu tenang. 

Hanya saja, maps tak banyak membantu sepanjang perjalanan kami ke sana. Belum lagi sinyal yang hilang total di beberapa titik yang kami lintasi. Kami beberapa kali berhenti dan berbalik arah menyusuri jalur yang salah. Beruntungnya, kami diarahkan oleh masyarakat setempat hingga akhirnya tiba di Fatubraun. 

Kebudayaan Amarasi
Tari penyambutan di Fatubraun/Oswald Kosraedi

Lebih Dekat dengan Kebudayaan Amarasi 

Setibanya di Fatubraun, kami disambut secara adat oleh masyarakat Amarasi lewat tarian bsoo’ sene’ (tarian gong), tarian tenun, tuturan aa’asramat (tuturan adat Amarasi), pengalungan kain tenun adat Amarasi, dan pemberian sirih pinang kepada rombongan kami. Serangkaian upacara penyambutan itu merupakan simbol penyambutan penuh kegembiraan dan sukacita oleh masyarakat Amarasi atas kunjungan kami ke sana. 

Setelah penyambutan, kami segera melebur satu dalam suasana penuh persaudaraan. Kami juga berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung kain tenun Amarasi dan tarian-tarian daerah Amarasi, serta diberi penjelasan tentang berbagai kekayaan budaya Amarasi yang masih tetap terjaga hingga saat ini. 

Tarian bsoo’ sene’ merupakan tarian penyambutan dalam budaya masyarakat Amarasi. Bermula dari kebiasaan masa lalu, ketika ada perang antarsuku, setiap suku yang menang akan disambut dengan tarian seperti itu ketika mereka pulang. Sehingga, aksesoris pedang (suni’) lebih kelihatan sebagai simbol kekuatan dan kemenangan. Selain itu, kami juga diperkenalkan dengan tarian kosu’. Tarian ini pada dasarnya merupakan tanda sukacita atas suksesnya suatu upacara perkawinan. Biasanya orang-orang akan menari dan menempatkan uang pada sanggul perempuan. Proses inilah yang disebut kosu’

Kebudayaan Amarasi
Rangkaian penyambutan di Fatubraun/Oswald Kosraedi

Terkait tenunan Amarasi, umumnya terdapat banyak motif yang biasanya digunakan penenun. Motif ini punya makna-makna khusus. Siang hari itu kami diberikan dua contoh kain tenun, yakni kai manfafa dan panbuat. Kai manfafa pada masa lampau hanya boleh dipakai oleh para kepala kampung sebagai simbol pemangku dan pengayom, sedangkan panbuat sendiri memiliki arti peti jenazah—yang memiliki arti filosofis bahwa setiap orang pasti akan ada waktunya untuk meninggal.

Lepas makan siang bersama, kami melanjutkan kegiatan dengan penyampaian materi tentang budaya Amarasi oleh tiga orang tokoh masyarakat lokal Amarasi. Dari pemaparan materi ini, kami mendapatkan banyak hal, mulai dari sejarah Amarasi secara umum, asal-usul nama Amarasi, cakupan wilayah Amarasi, sistem kerajaan dan pemerintahan Amarasi dari waktu ke waktu, dan berbagai aspek sosial dan budaya Amarasi lainnya. 

Di sela-sela kegiatan itu, hujan yang cukup deras turun membasahi bumi Amarasi. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat saya dan teman-teman mahasiswa untuk mendengarkan berbagai materi yang disampaikan para tokoh masyarakat Amarasi. Teman-teman mahasiswa, terutama yang berasal dari luar NTT, juga tampak begitu antusias bertanya tentang berbagai hal mengenai Amarasi.

Kebudayaan Amarasi
Tokoh masyarakat Amarasi saat menyampaikan materi/Oswald Kosraedi

Secara khusus melalui penjelasan Bapak Heronimus Bani tentang Serpihan Kebudayaan Pah Amarasi, kami mendapatkan banyak informasi terkait kehidupan sosial masyarakat Amarasi, produk budayanya beragam, aspek ekonomi yang khas berupa na’etu ma nareen, nafafi ma namaun (berladang dan beternak), silsilah dan aspek kekerabatan budaya, permainan anak (tao babaf, soe-hau, poir buuk, dan sebagainya), maupun bahasa uab meto yang dipakai masyarakat Amarasi.  

Dalam aspek kerajinan dan kesenian, masyarakat Amarasi juga memiliki kekhasannya tersendiri, berupa tenun (ike-suti, senu-atis), musik (‘reku’), lagu (siit), dan tari (bso’ot). Menariknya, terdapat beberapa kekhasan pula dalam sistem pengetahuan masyarakat Amarasi, mulai dari aspek budaya tutur atau seni berbahasa (aa’asramat), aspek lingkungan hidup, aspek komunikasi, aspek ethno mathematic, hingga aspek ethno astronomy. 

Segala kekayaan budaya masyarakat Amarasi yang saya lihat dan dengarkan hari itu membuat saya terkesima. Upaya-upaya yang dilakukan masyarakat di sana untuk melestarikan budaya dan sejarahnya begitu luar biasa.

Kebudayaan Amarasi
Foto bersama penari di Fatubraun/@nuningranda

Fakta pertama yang kami jumpai di sana adalah ketika serangkaian upacara penyambutan kami dilakukan oleh anak-anak sekolah, mulai dari tarian hingga tuturan adat aa’asramat. Hal ini rupanya dilakukan oleh masyarakat Amarasi sebagai satu langkah pelestarian budaya dengan memberi ruang kepada anak-anak usia sekolah—sebagai generasi masa depan Amarasi untuk terlibat aktif dalam pelestarian budaya daerahnya. 

Tak berhenti sampai di situ, geliat pelestarian kebudayaan oleh masyarakat Amarasi sekali lagi membuat kami semua berdecak kagum. Salah satunya ketika kami mendapatkan penjelasan terkait upaya pelestarian budaya lisan, terutama bahasa Amarasi. Masyarakat di sana bahkan mempunyai Kamus Maruna Uab Meto’ Amarasi, yakni kamus bergambar dalam tiga bahasa (bahasa Uab Meto, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris). Ini tentunya menjadi sebuah langkah progresif yang patut diapresiasi dalam upaya pelestarian kebudayaan Amarasi sebagai salah satu khasanah kebudayaan NTT dan Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mengharuskan kami untuk menginap di Fatubraun. Menjelang malam kami mulai mengurus berbagai keperluan untuk penginapan, mulai dari mendirikan tenda, membereskan peralatan-peralatan yang dipakai sepanjang hari, dan berbagai keperluan lainnya.

Malam hari yang cukup dingin seketika lenyap dengan keakraban yang terjalin di antara kami semua. Tawa kami menyatu, mengantar hari semakin malam, hingga akhirnya kami beristirahat untuk melanjutkan kegiatan besok pagi. 

Menyambut Matahari Terbit di Puncak Fatubraun 

Hari masih gelap saat kami bangun pagi itu. Sesuai rencana, kami akan mendaki puncak Fatubraun untuk menyaksikan matahari terbit dan sejenak menikmati keindahan alam Fatubraun. Akses menuju puncak Fatubraun cukup mudah, kami cukup berjalan kaki mengikuti arah anak tangga dari tempat penginapan kami hingga sampai ke puncaknya. 

Setibanya di puncak, panorama alam Fatubraun menyambut kami dengan begitu ramah. Matahari yang terbit seketika menghias cakrawala dengan semburat-semburat kuning keemasan yang begitu cantik. Hawa dingin yang menusuk kulit pun membuat segalanya terasa begitu menenangkan. Pemandangan di sekitar pun menjadi semakin indah terlihat seiring matahari yang perlahan naik. 

Puncak Fatubraun memperlihatkan lanskap alam yang menakjubkan. Dari sana kami bisa melihat hamparan pantai laut selatan yang terbentang tanpa batas, juga hijau pepohonan yang menambah keelokan Fatubraun. Kami berpindah dari satu titik ke titik yang lain, menikmati alam Fatubraun yang diciptakan Sang Kuasa dengan begitu sempurna. Tak ingin melewatkan momen berharga ini, kami lantas mengabadikan segalanya dengan berfoto bersama, tentu saja dengan latar belakang pemandangan pagi itu.

Tak jauh dari Fatubraun, ada satu lagi destinasi wisata menarik yang wajib dikunjungi, yaitu Pantai Teres. Sangat disayangkan jika berkunjung ke Fatubraun tanpa menyempatkan diri berkunjung ke Pantai Teres. Beruntungnya bagi kami, Pantai Teres juga masuk dalam agenda kunjungan kami. Sekitar pukul 10.00 WITA, kami melesat menuju Pantai Teres. 

Menginjakkan kaki di Pantai Teres akhirnya membayar tuntas semua rasa penasaran dan segala rencana perjalanan yang selama ini tertunda. Hamparan pasir pantai yang lembut dan batuan putih yang tersebar di sepanjang bibir pantai menjadi kekhasan Pantai Teres.

Debur ombaknya pun begitu tenang, dengan semilir angin pantainya yang berhembus begitu sejuk.  Fasilitas di sana pun sudah lengkap dengan ketersediaan lopo dan gazebo. Setelah beberapa saat menikmati suasana alam Pantai Teres, kami bergegas kembali ke tempat penginapan. 

Sekembali dari Pantai Teres, kami beristirahat sejenak sebelum bersiap untuk kembali ke Kupang. Sebagaimana kedatangan kami yang disambut dengan ramah oleh masyarakat setempat, mereka melepas kepulangan kami dengan begitu hangat. Segala hal yang saya alami di sana telah membuat Fatubraun menjadi salah satu tempat yang akan selalu saya kisahkan sampai kapan pun. Perjalanan ke sana dan kebersamaan di dalamnya mempunyai nuansa tersendiri, yang mungkin tidak akan terulang sampai kapan pun. 

Ada rasa syukur dan bahagia untuk segala cerita dan pengalaman yang luar biasa berharga ini, terutama untuk kesempatan mengunjungi Fatubraun bersama sahabat-sahabat program modul nusantara yang berasal dari luar NTT. Dalam kebersamaan bersama mereka, saya belajar untuk merangkul perbedaan yang ada, merajut toleransi sejak dini, mengenal lebih dekat berbagai kekayaan budaya dan kearifan lokal nusantara, dan terutama merayakan keberagaman bangsa ini dengan penuh rasa syukur.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Wisata Budaya ke Suku Baduy dan Perempuan Bercadar

    Travelog

    Membelah Laut Flores dari Makassar Menuju Labuan Bajo

    Travelog

    Perjalanan Sehari ke Gunung Fatuleu, Pantai Oetune, dan Pantai Kolbano

    Travelog

    Mengunjungi Bandung Zoological Garden Kala Pandemi

    1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti: Kumpulan Tulisan Prof. Boechari Tentang Indonesia di Masa Kuno