Nusantarasa

Seni Bersahaja Menikmati Sate Lalat

Di Jalan Niaga, kau bisa memilih makanan apa pun. Kawasan kuliner itu terletak di kota Pamekasan, Madura. Seperti yang kulakukan malam itu.

Malam itu mendung tak membuat tubuhku kedinginan. Madura memang identik dengan cuaca panas. Apalagi perubahan iklim memang sudah terasa. Keringat malah mengucur di badan. Rasa lapar dan lelah membuatku tak menjalankan pekerjaanku dengan benar. 

“Kamu kok gemetar?” celetuk temanku.

Aku hirau. Padahal pekerjaan harus aku bereskan malam ini. Namun, bunyi perut sudah seirama dengan guntur yang menggelegar, menimbulkan simpati temanku.

“Aku ada tempat makan langganan di Niaga kalau kamu mau,” tawar temanku. Aku mengangguk tanpa memikirkan makanan apa yang akan kami santap.

Usai bekerja, dengan temanku aku berangkat ke Niaga. Cuaca tak mendukung kala itu. Tak ada bulan dan bintang. Hanya kilat yang kerap berkelip di langit.

“Pakai motormu, ya,” ucap temanku. “Aku ambil mantel dulu untuk jaga-jaga. Takut hujan.” 

Seni Bersahaja Menikmati Sate Lalat
Gerbang kawasan kuliner Jalan Niaga Pamekasan/Samroni

Kuliner Tengah Malam

Di jalan, kami mendapati Kota Pamekasan telah sepi. Hanya beberapa toko kelontong dan warung makan yang masih buka. Tak ada rintangan macet. Cuma takut hujan turun tiba-tiba. Kami melalui Jalan Trunojoyo, Alun-alun Arek Lancor, lalu Niaga. Perjalanan itu ditempuh enam menit saja. Kecuali jika jalan macet.

Warung-warung makan masih terang-benderang meskipun jarum jam sudah menunjuk angka dua belas. Niaga didominasi warung lalapan, nasi goreng, sate, dan beberapa lainnya kedai seafood. Pamekasan memiliki banyak makanan khas, seperti kaldu kokot, soto keppo, campur lorjhu’, dan rujak kelang.

Kami tiba di tempat. Aku memarkir motor pinggir jalan, di antara dua warung.

“Kita makan ini, ya. Kamu pasti belum pernah mencobanya,” ujar temanku yang menganggapku udik karena tak tahu banyak mengenai makanan. Aku mengangguk pasrah. 

Aku memang bukan orang yang selalu mencoba makanan baru. Apa pun yang ada, selagi bisa dimakan, pasti kumakan. Lagian aku lapar dan badan sudah payah.

Warung itu sangat sederhana. Di tenda kuning warung tertulis: Sate Lalat Pak Su. Sate lalat. Nama yang aneh. Tapi sate lalat adalah kuliner khas Pamekasan yang tak dijumpai di daerah Madura lainnya. Lalat dijadikan sate, gumamku kala itu.

“Kamu mau sate apa?” tanya temanku yang sudah memesan sate kambing. 

“Sapi,” jawabku singkat. “Kalau makan daging kambing kepalaku pusing.” Selain kambing dan sapi, warung itu juga menyediakan daging ayam dan kelinci.

“Kamu darah tinggi?” Temanku memastikan. Aku tidak tahu pasti. Lalu obrolan kami terhenti. 

“Silakan duduk yang manis,” ucap seorang pria paruh baya agak genit.

Kami tersenyum dan duduk bersandarkan dinding, entah bekas toko atau apa. Bangunan itu terlihat tua. Kami duduk di atas trotoar. Lesehan di karpet motif bunga warna merah, lusuh, dan koyak.

Sambil menunggu, mataku terpaku melihat gemulai tangan kanan Sofyan (30) mengipasi daging sate dengan kipas bambu. Tampak tak bertenaga, tetapi cukup stabil. Tangan kirinya sibuk membolak-balikkan sate lalat. Di tungku terlihat teko alumunium berisi air yang dipanaskan. Sebuah kipas angin usang baru digunakan jika tangannya pegal.

Sofyan memakai celana kelabu dan baju Sakera pudar. Di kanannya terdapat saus sate, kopi-susu, dan rokok yang menemaninya dari rasa kantuk. Rekan kerjanya juga sibuk membantu.

Pesanan tiba delapan menit kemudian. Sate lalat dan lontong yang terpotong-potong terhidang di piring beserta teh hangat. Aku baru paham mengapa sate itu bernama ‘sate lalat’. Bukan karena terbuat dari lalat, melainkan lantaran ukuran dagingnya sekecil lalat. Barangkali karena ukuran cilik itulah yang membuat sate lalat cepat masak dan lekas tersaji. Saus kacangnya lumer di atas sate. Sambalnya terpisah. Aku aduk sausnya. Teksturnya tak terlalu kental. 

Seni Bersahaja Menikmati Sate Lalat
Sofyan memakai celana kelabu dan baju Sakera pudar. Di kanannya terdapat saus sate, kopi-susu, dan rokok yang menemaninya dari rasa kantuk. Rekan kerjanya juga sibuk membantu/Samroni

Menyantap Sate Lalat

“Aku bingung gimana cara memakan sate lalat yang benar,” ucapku. “Takut ujung sujennya yang tajam menusuk lidahku.” 

“Sebenarnya cara menyantap sate, sate apa pun, yang benar menurut Mien Ahmad Rifai, yaitu dengan melepaskan semua potongan dagingnya dari sujen terlebih dahulu, lalu makan,” jawabnya sambil tertawa. 

Aku menyeringai dan mencoba memakannya dengan caraku sendiri: Menarik potongan-potongan dagingnya dengan gigi, lalu melahapnya. Ini cara makan yang simpel, bersahaja.

Dari rasa dan cara membuatnya, sate lalat sama dengan sate Madura lainnya. Konon, sate Madura lahir saat Aryo Panoleh berkunjung ke rumah kakaknya, Batara Katong, penguasa Ponorogo. Di sana, Aryo Panoleh disuguhi makanan dengan bahan dasar daging berbumbu yang ditusuk lidi. Arya Panoleh menolak karena wujudnya aneh. Namun, setelah kakaknya bercerita bahwa makanan itu digemari para pendekar, akhirnya ia mau menyantap sate. Ia membawa resep sate ke Madura dengan mengubah komposisi sausnya.

Walau sate lalat lebih kecil daripada sate Madura lainnya, aku mencoba telaten memakannya. Tusuk demi tusuk kulahap dengan saksama supaya terasa lebih nikmat. Ukurannya yang supermini juga mempermudah makan sate ini. Sate lalat Pak Su memiliki tingkat kematangan sempurna, cukup gurih, dan semua itu ditopang oleh ukuran dagingnya. Berbeda denganku, temanku memakan sate lalat seperti mencocol kentang ke saus. 

Seni Bersahaja Menikmati Sate Lalat
Sate lalat tersaji di piring/Samroni

Di kejauhan, aku melihat bekas piring-piring kotor berantakan. Di depan kami, garpu dan sendok bergabung dengan sedotan dalam satu wadah. Desis kompor dan deru motor melayang-layang di udara. Dan kami serius menikmati sate lalat beserta segala kegaduhannya. 

Di piringku, dua puluh tusuk tinggal delapan. Aku berusaha meresapi bumbu sausnya di dalam mulutku. Kacang, garam, micin, bawang, cabai, dan kecap bersatu dalam rasa yang tertinggal di lidah. Lalu rokok. Pelengkap yang tak mungkin kami abaikan. 

“Kenapa pusat kuliner ini dinamai ‘Sae Salera’?” tanyaku sambil mengisap rokok. 

“Ini penamaan yang salah kaprah.” Temanku menjelaskan, “Dalam bahasa Madura, sae salera berarti ‘badan yang bagus’. Mestinya kan ‘sae eber’ yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘selera bagus’.” 

Usai sebat, kami membayar tagihan. Harga sate lalat cukup murah. Tiga belas ribu per porsi, sudah termasuk lontongnya.

Kami beranjak. Dua sejoli menggantikan tempat kami. “Ternyata hujan enggak turun,” ucapku.

Motor kami melaju perlahan. Aku mulai berpikir, menarik juga mencoba berbagai kuliner di Pamekasan. Agar tak kudet. Agar kutahu khazanah gastronomi di tanah kelahiranku sendiri.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Samroni adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Madura. Saat ini bergiat di komunitas sastra Sivitas Kotheka.

Samroni adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Madura. Saat ini bergiat di komunitas sastra Sivitas Kotheka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Sego Manten, Nostalgia Menu Resepsi Pernikahan Era 1990-an