TRAVELOG

Semaraknya Masjid Agung Ngawi dan Sunyinya Makam Kauman

Sebagai seorang pendatang dari Kota Solo, saya mengenal Ngawi karena keberadaan Benteng Pendem maupun kampung halaman Didi Kempot, seorang maestro musik campursari. Setiap saya mengajak keluarga bertamasya ke kota, wilayah yang tertuju pertama kali tentunya adalah Alun-alun Ngawi sebagai pusat keramaian. 

Seperti biasa, saya mengajak anak dan istri untuk menjelajahi kawasan alun-alun, baik untuk sekadar wisata kuliner, berfoto, maupun bersantai menikmati suasana alun-alun seperti pengunjung pada umumnya. Ketika sudah capek atau waktunya tiba untuk salat, kami lalu bergegas menuju Masjid Agung Ngawi yang terletak di sebelah barat alun-alun.

Prasasti pendirian Masjid Agung Ngawi (Habiburizza via Komunitas Sadar Lestari)
Prasasti pendirian Masjid Agung Ngawi/Habiburizza via Komunitas Sadar Lestari

Menguak Riwayat Masjid Agung Ngawi

Ketika perjalanan ke kota Ngawi maupun sekitarnya, pasti saya sempatkan untuk singgah ke masjid Agung, baik itu sekadar mampir salat atau beristirahat. Bangunan dari masjid ini memang megah. Sebab, sudah direnovasi beberapa kali hingga tidak menyisakan bangunan aslinya sama sekali. Proses renovasi tentunya memperhatikan kebutuhan pengunjung atau jamaah masjid agar lebih nyaman untuk beribadah.

Sering kali, saat beristirahat di depan serambi masjid, pandangan saya tertuju pada satu plakat kayu di atas pintu masuk. Rupanya plakat kayu ini merupakan prasasti berdirinya Masjid Agung Ngawi yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon.

Berawal dari komentar Mas Dicky Putralisindra di akun Facebook saya terkait sejarah Ngawi, kami akhirnya sepakat mengadakan pertemuan di masjid Agung. Sehingga, rasa penasaran saya mulai terjawab. Pertemuan awal dengan pegiat sejarah Ngawi itu, bersama kawan-kawan dari komunitas sejarah “Sadar Lestari” terjadi pada Februari 2025 lalu. Agendanya adalah menelusuri jejak sejarah Masjid Agung Ngawi. Rasanya senang sekali bertemu dengan orang yang memiliki minat serupa. Setelah perkenalan singkat, kami langsung bergegas menuju pintu masuk masjid.

Berdasarkan plakat kayu tersebut, Brotodiningrat merupakan Bupati Ngawi yang menjabat periode 1877–1885. Pada masa kepemimpinannya, masjid ini didirikan oleh beliau pada hari Selasa Kliwon, 25 November 1879 M (10 Dzulhijjah 1296 H). Hingga tahun 2010, masyarakat Ngawi masih menyebut masjid ini sebagai Masjid Gedhe sebelum berganti nama menjadi Masjid Agung Baiturrahman.

Setelah melihat plakat kayu tersebut dan mengartikannya, kami semua bergegas menuju mimbar masjid dan menemukan beberapa simbol menarik. Di bagian samping terdapat beberapa hiasan, yaitu sulur tumbuhan, surya, merak, hingga simbol ikan berkepala tiga. Simbol ikan atau disebut iwak telu sirah sanunggal merujuk pada pengikut tarekat Syattariyah yang turut berkembang di Ngawi. 

Pada masanya, Brotodiningrat merupakan tokoh kharismatik sehingga turut mengusik Residen Madiun saat itu, J. J. Donner. Konfliknya dikenal sebagai Brotodiningrat Affair. Residen Donner menyebutkan dalam laporan tambahannya, yang menuduh Brotodiningrat telah mengorganisasikan “terorisme di Ngawi dan Magetan”. Sebagaimana ditulis oleh Ong Hok Ham di bukunya Madiun dalam Kemelut Sejarah, Kiai Kasan Ngalwi—salah satu guru spiritualnya—turut ditangkap polisi kolonial. Sebab, ia dianggap mengajarkan ilmu kebal dan keahlian meloloskan diri kepada para perampok dan kelompok perlawanan di wilayah Madiun dan Ngawi.

Potret Brotodiningrat koleksi Wereldmuseum (paling kiri). Tampak mimbar Masjid Agung Ngawi dengan ukiran yang unik/Yuwana Galih Nugrahatama

Kesunyian dan Jejak Priayi di Makam Kauman Ngawi

Dalam tata kota tradisional Jawa, keberadan alun-alun di pusat kota mengadopsi adanya konsep Catur Gatra. Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya, konsep tersebut mengacu pada empat elemen utama, yaitu keraton (pusat pemerintahan), pasar (pusat ekonomi), dan masjid (pusat keagamaan). Keberadaan masjid agung diikuti dengan keberadaan toponomi pendukung, yaitu Kauman. Keberadaan Kauman terbentuk berdasarkan aktivitas keagamaan kaum santri seiring dengan berdirinya sebuah masjid.

Setelah selesai berdiskusi perihal beberapa simbol di mimbar masjid, kami bergegas menuju kompleks pemakaman Kauman di tengah kondisi yang mendung dan sedikit gerimis. Saat memasuki pintu masuk makam, kami disambut deretan nisan tua, baik yang memiliki inskripsi hingga tak bernama. Suasana yang tadinya cukup ramai di dalam masjid mendadak menjadi sunyi, ditemani embusan angin yang menandakan hujan akan tiba sesaat lagi. Perhatian kami pun langsung tertuju pada pintu gerbang makam bertuliskan “Pesarean Purwodipradjan”.

Sesaat setelah melihat gerbang makam utama tersebut, perhatian kami tertuju pada dua prasasti penanda beraksara Jawa. Sebelah kiri merupakan candrasengkala atau tahun pembuatan makam, sedangkan sebelah kanan merupakan nama dari kompleks pemakaman keluarga ini dalam teks Arab Pegon. 

Gerbang Makam Purwodipradjan (Yuwana Galih Nugrahatama)
Gerbang Makam Purwodipradjan/Yuwana Galih Nugrahatama

Di bagian dalam terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam Bupati Ngawi Raden Tumenggung Purwodiprodjo bersama kedua istrinya. Dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (11/12/1911), terdapat rekam jejak sang bupati—yang merupakan mantan Patih Bojonegoro—saat mendapatkan rekomendasi Residen Madiun, I. Mullmeister untuk menjabat sebagai Bupati Ngawi.

Selain itu, terdapat jejak elite priayi lokal Ngawi lainnya, yaitu makam Patih Ngawi bernama Raden Ngabehi Prawirowinoto. Ia adalah patih kedua Kabupaten Ngawi setelah Raden Pandji Pringgokusumo—patih pertama. Dalam tingkatan pemerintahan lokal, patih merupakan tangan kanan dari bupati, sedangkan pada masa sekarang merupakan jabatan untuk wakil bupati.

Setelahnya, terdapat beberapa makam untuk jabatan lainnya, seperti wedana maupun mantri. Di kompleks ini kami menemukan beberapa makam, seperti Wedana Pacitan, Wedana Sine, hingga mantri cacar yang bertugas mengecek kesehatan masyarakat Magetan pada masanya. Menurut Heather Sutherland dalam Notes of Jawa Regent Famiies Part 1, pada tahun 1926, terdapat sekitar 400 posisi wedana yang tersebar di Pulau Jawa dan Madura. Wedana merupakan seseorang dengan jabatan mengepalai distrik atau beberapa kecamatan di Jawa maupun Madura. Setelahnya, jabatan wedana ini dihapuskan pada masa kemerdekaan Indonesia dan berganti menjadi kecamatan.

yinya Makam KaumanMakam Bupati Ngawi Purwodiprodjo (tengah) (Yuwana Galih Nugrahatama)
Makam Bupati Ngawi Purwodiprodjo (tengah)/Yuwana Galih Nugrahatama

Kauman sebagai Menara Ingatan Kolektif Ngawi

Setiap sudut di Ngawi memiliki ingatan kolektif tersendiri, termasuk Kauman. Menyusuri Kauman dan memandangi sejenak kubah Masjid Ngawi dari alun-alun membawa kita pada satu kesadaran, bahwa lanskap religi bukan hanya sekadar wisata spiritual secara umum. Di balik sunyinya patok-patok nisan dan ramainya serambi masjid setiap harinya, terekam jejak panjang kiprah para ulama dan elite priayi pribumi yang pernah menghidupkan simpul keagamaan dan masyarakat di Karesidenan Madiun. Kauman menyediakan ruang berpikir dan merenung untuk membaca sejarah dari sudut pandang lain. 

Hal tersebut kami lakukan keesokan harinya dengan mengajak siswa-siswi MAN 1 Ngawi bersama komunitas Sadar Lestari Ngawi. Mereka antusias mengikuti pembelajaran yang selama ini berkutat melihat buku sejarah yang kaku dan membosankan bagi sebagian besar siswa. Para siswa diberikan narasi tentang sejarah berdirinya masjid, kiprah bupati dalam memajukan masjid, hingga makna dan cerita dari tokoh yang disemayamkan di makam Kauman Ngawi.

Pada akhirnya, kami mengajak anak-anak muda Ngawi memahami bagaimana fondasi sosial dan identitas kebudayaan Ngawi dibentuk dan dirajut oleh para pendahulunya. Diskusi yang seru ini harus diakhiri terlebih dahulu mengingat waktu sudah menjelang magrib.


Foto sampul: Pembelajaran Sejarah Lokal di Makam Kauman bersama siswa MAN 1 Ngawi dan Komunitas Sadar Lestari Ngawi (Dicky Putralisindra)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Yuwana Galih Nugrahatama

Pekerja lepas dan kontributor di Indonesia Graveyard yang tinggal di Ngawi. Penikmat lagu-lagu Dream Theater yang gemar menyusuri makam tua maupun bangunan bersejarah.

Yuwana Galih Nugrahatama

Pekerja lepas dan kontributor di Indonesia Graveyard yang tinggal di Ngawi. Penikmat lagu-lagu Dream Theater yang gemar menyusuri makam tua maupun bangunan bersejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jejak Kampung Lawas Kauman Mangkunegaran di Surakarta