Pendakian gunung di Jawa Barat sedang disetop. Sebagai keluarga petualang, kami tak menyerah pada keadaan. Masa liburan September kemarin, kami tetap melangkahkan kaki menuju pintu rimba jalur Sadarehe, Gunung Ciremai.
“Melarang semua kegiatan pendakian gunung di wilayah Jawa Barat atau aktivitas lainnya yang berisiko memantik terjadinya bencana kebakaran, selama musim kemarau.”
Tertuang dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, nomor 116/KH.02.04.03/ASDA EKBANG. Berlaku per 1 September 2026 hingga batas waktu belum ditentukan.
Tentu ini keputusan baik. Antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), akan lebih optimal jika aktivitas reguler di sebuah gunung atau objek wisata alam terbuka lainnya, dihentikan sementara.
Salah satu anak kembar saya yang mondok di luar kota, Evan Hrazeel Langie (Ali), sedikit kecewa. Tak bisa mendaki gunung kesayangannya, Ciremai. Terlebih dia bertekad menyamai capaian saudara kembarnya, Rean Carstensz Langie (Zaid), yang sudah enam kali menjejak atap Jawa Barat (3.078 mdpl).
“Gunung tak ke mana. Lain kesempatan kita muncak lagi,” hibur saya.
Sebagai alternatif, saya ajak mereka ke jalur pendakian Ciremai via Sadarehe di Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Sekalian nostalgia, mengenang perjalanan ke sana empat tahun lalu.




Kiri: Tak ada siapa pun selain kami di BC Sadarehe, Sabtu (12/9/2026). Kanan: Pintu rimba jalur pendakian Ciremai via Sadarehe 2026. Saat perdana ke sana, 5 November 2022, bangunan rumah singgah (dulu warung) dan pondok kayu di depannya belum berdiri. Kalau loket registrasi sudah ada/Mochamad Rona Anggie
Base Camp Sadarehe Sepi
Sabtu (12/9/2026), kami berangkat menaiki dua motor dari kediaman di Kota Cirebon pukul 07.00 WIB. Saya, Ali, Zaid, dan Muhammad menempuh perjalanan selama 90 menit.
Sepi saat kami tiba di base camp (BC) Sadarehe yang bersebelahan dengan rumah Kang Dian. Berbeda ketika awal Juli lalu, saya mampir untuk meliput Semarak Pendaki di Base Camp Sadarehe Gunung Ciremai.
Saya hampiri tiap sudut, mengambil beberapa foto, lalu Kang Dian muncul. Pandangannya menyelidik, “Mau ke mana?”
“Izin ikut parkir, Kang. Rencana mau hiking ke Kebon Raja.”
“Oh, silakan. Tapi, jangan mendaki, ya!”
Kami menggangguk, dan mulai melangkah pukul 08.45. Menapaki jalan beraspal. Melewati perkampungan, kebun nangka dan durian, hutan pinus, serta bumi perkemahan.
Dari BC Sadarehe, biasanya rombongan pendaki diangkut pikap dan truk menuju Kebon Raja. Jarak 8 kilometer ditempuh dalam setengah jam. Sementara kami yang berjalan kaki—perkiraan Kang Dian—tiga jam untuk sampai di pintu rimba jalur pendakian Sadarehe tersebut.




Jalan aspal berkelok-menanjak melintasi hutan pinus (kiri) dan panen jagung di ladang menuju Kebon Raja/Mochamad Rona Anggie
Tektokers Mengincar Cariu dan Situmpuk
Penuh keceriaan, saya dan anak-anak mendaki rute menanjak yang kerap dilalui mobil pembawa sayur-mayur. Dataran tinggi Desa Payung menghasilkan jagung, labu, kol, cabai, tomat, dan daun bawang.
Lima belas menit pertama, kami melewati perkampungan dan perbukitan hutan pinus yang puncaknya adalah tempat camping Batu Nyongclo. Ini sudah masuk kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Jalan aspal kemudian menurun, membelah sungai yang kering di musim kemarau. Jalur kembali mendaki melewati tebing yang di sebelahnya berdiri rumah bak istana. Keberadaan kandang hewan ternak di sekitarnya, membuat pemandangan kontras. Begitulah kehidupan. Di kota atau di desa, tingkat kesejahteraan tiap warga sangat mungkin mencolok.


Di ujung tanjakan, ada percabangan ke BC Bukit Cariu dan BC Bukit Situmpuk. Beberapa motor remaja putri mengarah ke sana. Bahkan penumpang di salah satu motor sempat turun dan menanyakan kepada kami, di mana titik masuk ke Bukit Cariu.
Dari tampilannya, remaja gadis tersebut hendak mendaki sekali jalan (tektok) ke Cariu dan Situmpuk. Mereka memakai setelan legging dan kaus hiking, menyandang hydrobag serta trekking pole.
Kami tak melihat langsung wujud BC Cariu, karena masih seratus meter lagi ke arah perkampungan. Sementara BC Situmpuk persis di pinggir jalan yang kami lalui.


“Pas Ciremai tutup sekarang, apa ada lonjakan pengunjung?” tanya saya ke petugas pos registrasi BC Situmpuk.
“Belum ada, sih. Tiap akhir pekan rerata seratus pengunjung,” jawabnya.
Setelah membasahi kerongkongan dan menanti personel kami lengkap, perjalanan berlanjut. Saya terdepan bareng Ali. Zaid mengawal Muhammad. Hilir-mudik ojek gunung mengantar pendaki tektok ke titik pendakian Bukit Situmpuk.
Aspal mulus berakhir di sebuah turunan, batas hutan dengan ladang cabai dan jagung. Berikutnya jalur tanah-berbatu. Pijakan pejalan seperti kami, tak rata lagi. Langkah demi langkah sarat tantangan, di bawah terik mentari.


Persimpangan Puncak Cidewata
Satu setengah jam berlalu. Saya mulai berjarak dengan Ali. Apalagi Zaid dan Muhammad di belakang. Kekompakan tim nomor satu. Saya tiba di persimpangan puncak Bukit Cidewata dan memutuskan menunggu mereka.
Syukurlah, lima belas menit kemudian ketiganya muncul. Peluh bercucuran, napas ngos-ngosan. Kami rehat untuk isi ulang perbekalan air dan santai sejenak.
Angin sepoi di bawah naungan pinus, membuat betah. Tujuan kami masih di depan sana. Saya bangkit dan segera menyemangati anak-anak. “Ayo, sebentar lagi sampai!”
Kami meneruskan langkah. Sejauh mata memandang hamparan ladang. Di sebuah lahan, dua rumah berdiri. Halamannya kebun daun bawang yang sedang disirami sprinkler (kran berputar). Buat orang kota, ini hunian idaman. Ada di lereng gunung, udaranya dingin, kesehariannya sebagai petani.
Pukul 11.00, kami tiba di persimpangan jalan yang sedang di-hotmix. Jika pengerjaannya rampung, rute asli ke Kebon Raja ini dapat diakses kendaraan lagi. Termasuk mobil pengangkut pendaki.
Langkah kami kembali menapaki aspal mulus. Tambah semangat, karena tahu tujuan sudah dekat. Hingga bertemu percabangan: jalan beraspal menikung ke arah objek wisata Cawene Geulis, sedangkan sebuah tanjakan tanah-berbatu membawa ke petak-petak ladang.
Saya ikuti jalan beraspal, lalu berjumpa pemotor yang turun. Tangannya memberi kode, tujuan saya lewat tanjakan di persimpangan. Alamak, salah jalan! Untung belum terlampau jauh. Sinyal ponsel byarpet. Tak mudah mengaktifkan peta digital.
Saya bergegas balik kanan. Sengat mentari kian menghunjam. Tekad kami tak ciut. Pijakan semakin mantap. Tujuan depan mata.
Sampai di ujung tanjakan, kami de javu: terkenang di titik ini ketika dibonceng ranger Ade dan Arif, membetulkan posisi carrier yang nyaris jatuh, selepas turun gunung (7 November 2022).


Akhirnya, Kebon Raja!
Lalat dan bau menyengat mengiringi langkah kami menjelang Kebon Raja. Sumbernya dari pupuk kotoran hewan dalam karung yang bertumpuk di pinggiran kebun. Stasiun radio pemancar Basarnas dan Orari, mengingatkan saya pada perjalanan empat tahun lalu.
“Benar, lewat sini!” batin saya. Teringat pula jalurnya yang becek. Ketika itu, ban mobil kami selip. Penumpang turun, membantu dorong supaya bisa lepas dari jeratan lumpur.
Selepas ladang terbuka, trek selanjutnya dua ruas jalur bersemen yang sudah ambrol, dikitari belukar dan pepohonan. Sedikit lagi! Di ujung sana terlihat gerbang dengan bendera berkibaran.


Saya percepat langkah, dan akhirnya Kebon Raja berhasil digapai pukul 11.21. Senang sekali rasanya! Saya siapkan dokumentasi, menyambut kedatangan anak-anak. Mereka tiba beberapa menit kemudian.
Waktu tempuh kami cukup baik: 2,5 jam ke Kebon Raja. Estimasi turun dua jam. Kami berencana via Bukit Cidewata. Biar tidak memutar lewat jalur sebelumnya. Target sebelum asar sudah sampai kediaman Kang Dian lagi.
Puncak Ciremai terhalang gumpalan awan. Pos 8 Kawah Burung (2.670 mdpl), serupa puncak bayangan dari kejauhan. Sunyi dan damai di sana.
Angin pun bergemuruh. Beres santap siang dengan menu rendang ayam dari rumah, kami menunaikan ibadah lalu segera turun. Hening. Tak ada siapa pun. Petualangan yang mengesankan!
Semoga kemarau lekas pergi, dan musim pendakian bersemi kembali. Jejak kaki kami tertinggal di Kebon Raja. Bakal terkenang hingga napas tiada.
Foto sampul: Menuruni jalan aspal sepulang dari Kebon Raja (Mochamad Rona Anggie)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


