Events

Sekolah TelusuRI: Bikin Karya Tipografi dari Aksara di Nusantara, Ajak Kamu Melestarikan Sistem Penulisan pada Masa Lampau

Ragam kebudayaan nusantara yang membentuk Indonesia sebagai sebuah negara ada bermacam-macam dari budaya kuliner yang tiada duanya, arsitektur khas dengan pola masing-masing daerah, sampai baju adat yang variatif dan penuh warna. Sama seperti hal diatas, salah satu warisan leluhur kita adalah  aksara,  yang membawa bangsa kita menjadi bangsa yang gemar menulis dan mencatat kejadian sejarah baik dalam bentuk prasasti, naskah, babad, dan lainnya.

Bukti awal penggunaan aksara adalah Prasasti Yupa yang diperkirakan berasal dari abad ke-4 menggunakan aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta. Berlanjut ke abad berikutnya dan berikutnya, aksara-aksara tersebut mengalami perkembangan dan perubahan di berbagai daerah semisal Aksara Bali, Batak, Jawa, Jawi, Minangkabau, dan lain-lain. 

Dahulu sebelum masuknya kolonialisme, aksara-aksara ini umum digunakan sebagai media komunikasi antar masyarakat. Masuknya para penjajah ke Nusantara mengawali populernya Aksara Latin dalam komunikasi tertulis. Secara resmi pada abad ke-20, Aksara Latin digunakan sebagai aksara resmi Bahasa Melayu yang akhirnya menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. 

UNESCO menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (HAI). Penetapan ini berlangsung saat sesi ke-14 Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 26 Oktober 1966. Tujuan pencanangan ini adalah untuk mengingatkan masyarakat internasional akan pentingnya melek aksara bagi individu, komunitas dan masyarakat.

Penggunaan aksara Nusantara terbatas pada kalangan tertentu semisal menjadi papan nama jalan atau instansi pemerintahan, para akademisi, dan para orang-orang yang sudah sepuh.  Pengajaran aksara asli Nusantara ini semakin sedikit, apalagi semenjak budaya pop-luar begitu mempengaruhi anak-anak muda bahkan hingga ke bahasa. Pembelajaran Aksara Nusantara dianggap kolot dan ketinggalan jaman.  Padahal bangsa kita memiliki Aksara Nusantara yang kini hanya jadi salah satu warisan budaya yang nyaris punah.

Kebanggaan akan aksara Nusantara ini akan semakin tergerus, apabila kita, sebagai bagian dari masyarakat enggan untuk memaknai sebagai warisan yang berharga dan mempelajarinya sebagai bagian dari jati diri Bangsa Indonesia.

Melihat hal tersebut, bertepatan pada perayaan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September 2021, TelusuRI berkolaborasi dengan Aksara di Nusantara dan Wikimedia Indonesia menyelenggarakan  ”Sekolah TelusuRI: Bikin Karya Tipografi dari Aksara di Nusantara” untuk turut serta melestarikan sistem penulisan pada masa lampau dan untuk mengajak anak-anak muda mengenal dan mempelajari kekayaan aksara yang ada di Indonesia. Harapannya, tidak hanya sekedar mengenal, mereka tertarik mempelajari lebih dalam dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya saya implementasi dalam bentuk karya visual. 

Aditya Bayu dari Aksara di Indonesia dan Adien Gunarta dari Wikimedia Indonesia menerangkan berbagai ragam aksara di Nusantara, upaya pelestarian aksara di Nusantara, serta implementasi aksara pada karya visual. Kegiatan ini akan diselenggarakan secara daring melalui media Zoom. Rangkaian kegiatan terdiri dari temu wicara dan lokakarya, membahas seluk beluk sejarah dan keberagaman Aksara Nusantara serta lokakarya cara menulis aksara daerah serta Aksara Challenge dimana TelusuRI mengajak para peserta untuk membuat karya visual dari aksara. Rangkaian acara ini didukung oleh Aksara di Nusantara, Wikimedia Indonesia, Kok Bisa, Ayo Mikir, Ziliun, Sobat Budaya, dan Kawan GNFI.

Temu Wicara dan Lokakarya

Dalam acara ini, kita berbincang seputar sejarah dan keberagaman Aksara Nusantara dan makna filosofis dibaliknya, menelusuri upaya-upaya pelestarian aksara di Indonesia; salah satunya bisa diceritakan implementasi aksara dalam karya visual seperti desain t-shirt, mug, tote bag, dan lain sebagainya. Termasuk digitalisasi aksara dan menjadikan aksara sebagai font (typografi). Peserta juga diajak belajar menulis Aksara Nusantara secara singkat menggunakan pulpen dan kertas (bukan digital).

Aksara Challenge

Aksara Challenge  merupakan submisi karya ilustrasi untuk para kreator visual dalam upaya berkontribusi dalam upaya pelestarian aksara Indonesia kolaborasi antara TelusuRI, Kreavi, dan Tokome. Karya terbaik akan diproduksi dalam bentuk merchandise oleh Tokome. Untuk syarat dan ketentuan submisi, kamu bisa melihat pada laman:  telusuri.id/karyaaksara.

Dwita Nugrahanti, selaku Project Manager TelusuRI mengharapkan dengan adanya Sekolah TelusuRI yang membahas aksara di Nusantara ini bisa menjadi awal menumbuhkan kecintaan para muda-mudi kepada warisan budaya tak benda Indonesia.

“Sekolah TelusuRI Aksara ini memang sengaja kami adakan agar teman-teman kreator dan anak muda dapat mengenal keunikan ragam budaya Indonesia melalui tulisan aksara. Selain itu, harapannya kreator muda bisa lebih bangga dan tertarik untuk memanfaatkan kearifan lokal ini ke dalam karya-karya mereka, sehingga digitalisasi aksara dapat terdorong melalui adaptasi seni.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Events

Serunya Belajar Aksara di Sekolah TelusuRI

Events

5 Karya Video Perjalanan Lestari

EventsPesona Hutan

Memaknai Manfaat Hutan Lewat Hari Hutan Indonesia 2021

Events

Bersama Mengkampanyekan Perjalanan Lestari lewat Sekolah TelusuRI (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: Kumpulan Tulisan Prof. Boechari Tentang Indonesia di Masa Kuno