Travelog

Obrolan di Kedai Kopi yang Berakhir pada Sunrise Embung Kledung

Bunyi-bunyi serangga hutan di pohon-pohon terdengar jelas. Di meja kayu tua yang masih sangat kokoh, ada kopi dan sepenggal obrolan yang sedang diperbincangkan hangat oleh saya dan beberapa kawan. Gemericik air kali kecil terdengar jelas. Suara-suara daun yang dikibas angin. Hening dan tenang. Suara kendaraan benar-benar telah hilang. 

Malam itu kami sedang memulai obrolan di warung kopi. Warung kopi yang terletak di pedesaan, dan dikelilingi banyak pepohonan layaknya berada di hutan. Tanaman bambu, kayu jati, sengon, dan jenis lain yang tak saya kenali mengelilinginya. Kedai kopi kecil ini hanya ada beberapa kursi dan meja saja, serta sedikit tanah lapang. Di sini bisa tersedia tikar jika mau membentangkannya.

Disela obrolan yang hangat, sembari sesekali menenggak kopi penuh hikmat. Celetuk, obrolan hening. Kami seperti hilang kemampuan bicara, seakan pita suara hilang, dan gerak mulut seakan terkunci. Hanya diam dan diam. Sesekali gawailah yang menjadi teman percakapan. 

Tak mau berlama-lama dalam diam seakan kebingungan itu, seorang kawan memecah suasana hening, tetiba ia mengajak menikmati sunrise

“Besok pagi kita lihat sunrise,” ucap seorang kawan mengajak.

“Di mana,” jawab sekaligus pertanyaan balik seorang kawan lain.

“Temanggung aja. Embung Kledung.”

“Ayo,” walau tidak semua bersuara tapi diam seakan iya yang paling benar.

Walau terasa aneh, saya dan beberapa kawan terlihat sangat senang dengan usulan itu. Katanya sih, berlibur ke tempat wisata itu bagai obat. Katanya ya.


Pemandangan Gunung Sindoro/Janika Irawan

Obrolan di warung kopi yang kami mulai sekitarnya pukul 20.00 WIB. Suara serangga semakin jelas, tanpa terasa jarum jam sudah beranjak menuju pukul 00.00 WIB. Hari telah berganti, obrolan telah memasuki babak akhir.  

“Jam setengah tiga saja kita berangkat. Sampai sana subuh. Paslah buat liat sunrise,” ucap seorang kawan yang kelihatan paling bersemangat.

“Ayo pulang. Tidur dulu bentar kita,” ucap saya pada keenam kawan.

“Kita kumpul di kos Billy saja. Tidur di sana,” ucap seorang dari kami.

“Ia, boleh,” Billy mengiyakan.

Kami pulang dari kedai dan menuju tempat Billy di pusat kota Jogja itu. Saat itu posisi kami di Sedayu, Bantul. Kira-kira 18 km dari kos Billy. Merebahkan badan dan dua jam kemudian mata harus melek dan melanjutkannya perjalanan. Konyolnya, dalam kos 3×3 itu, setidaknya ada tujuh orang, saya membaringkan badan dan rasa kantuk benar-benar tidak mendapat tempat. 


Jarum jam telah menunjukkan angka setengah tiga pagi. Saat itu kami bertujuh, menggunakan empat motor, tiga motor berboncengan, dan satu motor sendiri.

Mengenakan jaket, celana panjang, dan sepatu; pertarungan dingin udara pagi siap kami hadapi. Harus saya katakan, perjalanan pagi hari atau tepatnya dini hari itu udaranya dingin menusuk. Baru di area Jogja saja sudah terasa, padahal kita ketahui Jogja cukup panas disiang hari. Memasuki Temanggung, ketika berada di sela-sela gunung Sindoro dan Sumbing, jaket tak cukup kuat menahan dingin, menusuk. Tapi sebuah kenikmatan, udara pagi sangat segar di setidaknya.

Lokasi camping/Janika Irawan

Dua jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di Embung Kledung, embung yang terletak di kaki gunung, diapit oleh Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. 

Walau masih pukul lima pagi, parkir sudah dipadati pengunjung. Itu artinya sejak kemarin banyak orang camping di sini. Di bagian atas atau sebelah timur embung, ada areal camping; bertumpuk-tumpuk tenda yang dihuni banyak kalangan muda berada di situ. Ada beberapa rombongan keluarga juga yang terlihat. Saya rasa, ini merupakan tempat yang cukup asik untuk piknik, baik sesama kawan kuliah, rekan kerja, atau bahkan keluarga.

Setelah membayar tiket masuk, kami bergegas menuju embung. Udara dingin masih amat kental, gelap belum hilang benar. Berjalan menuju tempat yang lebih tinggi, tempat bercokol tenda-tenda. Hamparan luas, Gunung Sumbing, dan kebun-kebun sayur, tentunya embung yang amat dekat dihadapan.

Warung dengan view Gunung Sumbing/Janika Irawan

Matahari mulai keluar sedikit demi sedikit, sunrise, satu dua teman telah mulai cekrek-cekrek dengan kamera gawai masing-masing. Pelbagai gaya, dihadapan matahari yang mulai muncul dengan cahaya yang memukau. Saya tak berfoto, kecuali hanya satu dua saja, tapi sibuk mengambil gambar lain yakni pemandangan.

Matahari yang terbit di sela gunung dan pohon-pohon memantul ke air embung, menjadi pemandangan yang membuat mata berbinar. Terlihat indah. Udara dingin seakan juga menjadi pelengkap. Saya rasa, jika camping di sini akan lebih asik.

Setelah mulai bosan berfoto. Hasrat pagi mulai datang, perut keroncongan dan seruput kopi yang mulai memanggil. Kami memesan sarapan dan secangkir kopi. Setelah itu, sekiranya pukul 7.00 pagi, kami pulang ke Jogja. 

Rasa kantuk benar-benar hinggap menempel. Sempat kami membincangkan supaya tidur sejenak, di mana pun tempatnya, di masjid mungkin, tapi pilihan segera pulang telah mendahului keputusan. Pulang, mengendarai motor, dengan mata terkantuk-kantuk. Bahaya, jangan dicoba.


_______________________

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan kegunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan kegunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Membuka Tenda Di Camping Ground Sekitar Semarang