Travelog

Sabtu Sore di Jalan Pasteur Bandung

Akhir pekan panjang benar-benar datang. Hari itu, Sabtu (31/10), langit tidak memperlihatkan mendungnya di Bandung. Tentu saja ini menyenangkan hati para wisatawan. Aku juga ikut senang, sebab Sabtu itu aku ingin menikmati sore melihat kemacetan di gerbang masuk kota yang kucintai ini.

Begitu menginjakkan kaki di bawah Jembatan Layang Pasupati, dekat RS Hasan Sadikin, kulihat banyak kendaraan sedang memasuki kota dari arah Jakarta. Artinya, prediksi bahwa ribuan mobil dari ibu kota akan masuk ke Kota Bandung menjadi kenyataan. Liburan panjang tentu sebuah keasyikan yang tiada tara.

Sembari berjalan kaki, kuamati kemacetan itu. Makin jauh aku berjalan, makin padat tampaknya lalu lintas. Semua ruang di atas aspal itu terisi oleh kendaraan roda dua dan empat. Aku bangga kotaku dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai pelosok.

Kemacetan di bawah Jembatan Layang Pasupati/Deffy Ruspiyandy

Kendaraan semakin menumpuk di pertemuan Jalan Layang Pasupati dengan Jalan Pasteur. Kendaraan makin berdesakan dan mengular sampai sekitar dua ratus meter. Di dalam kabin, orang-orang itu pastilah sudah tak sabar lagi merasakan kesejukan Bandung. Tapi, di arah berlawanan kulihat menumpuk pula antrean kendaraan yang hendak keluar dari Kota Bandung, entah ke Jakarta atau ke Cimahi atau Kabupaten Bandung Barat. Kemacetan itu makin parah di sekitar jejeran toko oleh-oleh khas Bandung, di sisi Jalan Pasteur sebelum gerbang tol, sebab banyak mobil yang parkir. Orang-orang tampak antusias sekali berburu oleh-oleh.

Kawasan gerbang Kota Bandung ini memang strategis sekali. Dekat Tol Pasteur, ini adalah lokasi terbaik untuk memulai perjalanan ke Cimahi dan Kabupaten Bandung. Kalau mau ke Lembang, tinggal belok ke utara. Jalan Pasteur ini pun dekat dengan Bandara Husein Sastranegara yang hanya terpaut jarak 1 km. Untuk ke pusat kota juga lebih dekat jaraknya ketimbang dari gerbang tol lain. Makanya setiap akhir pekan atau libur panjang jalan ini macet.

Beruntungnya jejeran toko itu hanya sepanjang sekitar 250 meter saja. Selepas kawasan toko oleh-oleh, kendaraan mulai berpencar dan lalu lintas mulai sedikit lancar. Pengendara yang terjebak macet mungkin mengalami petualangan emosi, dari kesal menjadi lega, namun aku merasa biasa saja. Makum, aku jalan kaki. Paling tantangan yang kuhadapi hanyalah motor yang nekat naik trotoar agar tidak mengalami kemacetan. Atau mungkin mereka cuma lupa bahwa seharusnya wilayah jelajah mereka adalah jalan raya.

Toko oleh-oleh di Jalan Pasteur/Deffy Ruspiyandy

Dalam keadaan jalan yang mulai lengang itu aku terus melangkah. Lalu aku penasaran melihat situasi sekitar Gerbang Tol Pasteur. Kuarahkan pandangan ke sana. Gerbang menuju Jakarta tampak lengang, sementara gerbang masuk Bandung macet dan dipadati kendaraan berpelat B.

Ternyata kemacetan tak hanya terjadi di jalan utama. Di jalan alternatif pun kendaraan mengular. Kendaraan-kendaraan itu datang dari arah Cimahi melalui Gunung Batu, entah untuk masuk Kota Bandung atau Gerbang Tol Pasteur. Panjang kemacetan itu hampir 500 meter. Kemacetan seperti ini memang hampir saban minggu terjadi. Sudah biasa.

Tak terasa sudah sekitar 1 km aku berjalan menyusuri Jalan Pasteur, melewati TPU Kristen Pandu, jejeran toko oleh-oleh, jembatan, hotel, rumah makan, rumah sakit, pusat perbelanjaan, selter travel biro perjalanan, dan kantor-kantor. Lalu tiba-tiba aku ingat ada rumah teman dekat sana. Aku pun menuju ke rumah temanku itu, diikuti awan mendung yang tampak gelisah membendung hujan. Tak lama setelah aku tiba di rumah temanku, hujan pun turun.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Deffy Ruspiyandy

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
Artikel Terkait
Travelog

Kemping di Bukit Mare-mare

Travelog

Wingko Babat, Rumah Singgah, dan Kenangan-kenangan Lain di Lombok

Travelog

Keramaian yang Sama Akan Datang Lagi ke Lapang Merdeka

Travelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *