Travelog

Curug Ngebul, Mi Hangat, dan Gunung Api Purba

Mentari tampak masih malu-malu memperlihatkan parasnya tatkala saya turun dari pintu belakang bus kecil berkapasitas 35 penumpang jurusan Ciroyom-Bunijaya, persis di depan SDN Celak, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Suasana masih sangat lengang pagi itu. Setelah nikreuh (berjalan kaki) ke arah timur kurang lebih 500 meter, barulah saya bertemu dengan seorang perempuan petani yang sedang sibuk menyiangi padi di sawahnya yang berada persis di pinggir jalan raya.

“Oh, mau ke Curug Ngebul, ya. Terus saja ikuti jalan raya ini. Nanti, di ujung, ada tempat penggergajian kayu. Ambil kanan dan ikuti jalan setapak,” terangnya.

Sesuai petunjuk perempuan petani itu, saya kembali melangkah menyusuri jalan raya. Setelah melewati beberapa tikungan, akhirnya saya temukan tempat penggergajian kayu dimaksud. Di sebelah kanan tempat itu ada sebuah jalan setapak.

Saya pun bergegas menyusuri jalan setapak itu. Panorama persawahan menghijau langsung tersaji di depan mata. Di sisi kanan pematang yang saya lalui, parit kecil berair jernih mengeluarkan suara gemercik meningkahi bunyi langkah kaki saya yang berjalan menuju ke arah tenggara.

Beberapa kali saya harus melangkah perlahan karena jalan yang dilalui penuh lumpur dan agak licin. Saban kali saya bertemu petani yang sedang menggarap sawah, saya harus berhenti untuk memastikan jalan menuju Curug Ngebul yang harus saya lalui pagi itu.

Mentari yang tadinya malu-malu kini mulai menampakkan wajah utuhnya. Sinarnya terasa hangat menemani perjalanan saya seorang diri. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya sawah dan hutan belukar menghijau.

Ketika berada pada ketinggian tertentu di mana mata dengan jelas melihat hamparan petak-petak sawah yang sangat khas, saya pun berhenti sekadar untuk menikmati eloknya panorama.

Semakin jauh berjalan, suasana semakin sunyi. Sisi kiri jalan setapak yang saya lewati kini hanya berupa hutan dan jurang, sedang di sisi kanan tebing penuh aneka tumbuhan dengan parit kecil berair jernih di bagian bawahnya.

Aroma rerumputan serta tumbuhan lainnya sungguh membuat tubuh saya makin bergairah untuk bisa segera sampai di Curug Ngebul. Di Sebuah perpotongan jalan setapak, saya bertemu sekelompok anak usia sekolah dasar yang sedang reureuh (beristirahat). Mereka ternyata hendak menuju Curug Ngebul pula.

Setelah hampir 45 menit menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok, akhirnya di sebuah tebing yang tertutup pepohonan dan vegetasi lainnya saya melihat sebuah air terjun yang terdiri dari tiga tingkat. Air terjun paling atas tampak jauh lebih kecil daripada air terjun yang ada di bawahnya.

Gunung api purba

Jika melihat lokasi dan aliran airnya, Curug Ngebul kemungkinan besar merupakan bagian dari aliran Sungai Cidadap yang mengalir di sela-sela batuan keras sisa-sisa gunung api purba. Asal-muasal sumber airnya bisa jadi dari kawasan Ciwidey. Hal ini saya simpulkan dari salah seorang anggota Linmas Desa Celak, Gunung Halu, yang kebetulan sempat saya temui dan saya ajak bincang-bincang di lokasi curug.

“Kalau diteruskan ke arah atas, bisa sampai ke daerah Ciwidey. Tapi, tentu harus melewati hutan,” katanya

Posisi Curug Ngebul sendiri berada pada ketinggian 1.058 meter di atas permukaan laut. Adapun luas areanya sekitar 9.445 meter persegi.

Di hari-hari libur besar, Curug Ngebul kerap dipenuhi pengunjung, termasuk pengunjung dari luar kawasan Bandung seperti Karawang, Bogor dan Jakarta. Di tahun baru, tidak jarang ada kelompok pengunjung yang menyengaja memilih berkemah di kawasan ini.

Menilik suasana lingkungannya, kawasan Curug Ngebul masih sangat alami. Kawasan ini cukup potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu kawasan wisata alam di Kabupaten Bandung Barat.

Sejauh ini, belum ada akses jalan yang memadai untuk membuat pengunjung lebih mudah menjangkau kawasan ini. Di sekitar curug pun masih sangat minim fasilitas buat para pengunjung. Misalnya, belum ada mushola, jembatan, toilet, maupun pos kesehatan dan keamanan yang representatif.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan makan-minum pengunjung, terdapat sebuah warung tenda dadakan yang menawarkan aneka minuman pelepas dahaga serta sejumlah snack, berikut hidangan mi hangat yang dimasak dengan kayu bakar.

Matahari mulai meninggi dan sinarnya kian terasa menyengat tubuh tatkala saya akhirnya harus meninggalkan kawasan Curug Ngebul setelah tandas melahap seporsi mi hangat yang saya pesan dari warung tenda.

Di tengah perjalanan pulang, beberapa kali saya berpapasan dengan sejumlah rombongan muda-mudi yang rupanya hendak berekreasi ke Curug Ngebul.

Kendatipun langkah kaki terasa semakin berat dan peluh semakin deras membasahi tubuh, ada kebahagiaan tersendiri setelah menyaksikan dan menikmati langsung panorama alam Curug Ngebul hari itu.


Foto: Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Travelog

Wingko Babat, Rumah Singgah, dan Kenangan-kenangan Lain di Lombok

Travelog

Keramaian yang Sama Akan Datang Lagi ke Lapang Merdeka

Travelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (2)

Travelog

Menelusuri Jalan Kelenteng Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *