TRAVELOG

Roda Kecil itu Menggilas Jalanan Tasikmalaya–Bandung

Lalu lintas relatif lengang kala saya menyusuri persimpangan Jalan Empang dan Jalan KHZ Mustofa, Tasikmalaya, Senin (22/6/2026) pagi silam. Lepas melewati persimpangan yang biasanya sibuk itu, sepeda lipat yang saya tunggangi segera mengarah ke Jalan Cihideung dan lantas menuju Pasar Kidul untuk membeli bekal pisang.

Dari Pasar Kidul, saya kayuh sepeda lipat rim 16 inci itu mengarah ke Pasar Wetan untuk selanjutnya menuju Jalan LRE Martadinata. Di Pertengahan Jalan LRE Martadinata, saya sempat disapa seorang bapak ber-jersey abu-abu. Ia mengendarai MTB dan hendak mendahului saya.

“Bade kamana iyeu (mau ke mana ini)?” tanyanya dalam bahasa Sunda.

“Ke Bandung,” jawab saya singkat.

“Lancar, salamet, nya (Semoga lancar dan selamat),” ucapnya, yang langsung saya aminkan dan diikuti dengan ucapan nuhun (terima kasih). 

Bapak itu lantas melaju dan tak lama berbelok ke Jalan Ir. H Djuanda, sedangkan saya lurus ke arah Rajapolah. Memasuki Jalan Raya Rajapolah, jalanan lebih ramai dan lebih bising. Saingan saya bukan cuma kendaraan kecil, melainkan juga mobil-mobil besar. 

Baru saja memasuki ruas jalan tersebut, saya langsung disambut satu truk trailer beroda 20. Di belakangnya, bus Doa Ibu jurusan Tasikmalaya–Jakarta bergerak pelan lantaran tengah menyisir calon penumpang. Melihat kendaraan-kendaraan besar ini, saya harus lebih hati-hati mengendalikan sepeda mungil saya, lebih-lebih di ruas jalan yang tidak terlalu lapang.

Di tikungan, kewaspadaan harus berlipat karena ruang untuk menyalip semakin sempit, sementara jarak pandang semua pengguna jalan juga ikut berkurang. Tak jarang saya memutuskan menepi, membiarkan truk trailer, bus, dan kendaraan besar lainnya lewat lebih dahulu hingga jalan kembali terasa lebih lengang. Cara ini jauh lebih aman dan menenangkan. 

Salah satu sudut Pasar Kidul Tasikmalaya (Djoko Subinarto)
Salah satu sudut Pasar Kidul Tasikmalaya/Djoko Subinarto

Tiba di Ciawi

Setelah satu jam lima belas menit mengayuh pedal sejak meninggalkan Tasikmalaya, saya tiba di Ciawi. Jarak sekitar 23 kilometer itu semacam pemanasan sebelum memasuki segmen perjalanan yang sesungguhnya menuju Kota Kembang.

Saya pun berhenti sejenak di depan Alun-alun Ciawi. Beberapa menit saya gunakan untuk meregangkan otot-otot kaki, punggung, dan bahu. Setelah itu, saya sempatkan mengonsumsi tiga buah pisang. Karbohidrat dan kalium yang terkandung dari pisang saya harapkan menjadi tambahan energi untuk merayap di tanjakan Lingkar Gentong. Bagi pesepeda, jalur Tasikmalaya–Bandung menyuguhkan dua menu utama tanjakan: Lingkar Gentong dan Lingkar Nagreg. 

Kelar rehat di alun-alun, saya kayuh pedal lagi. Sekitar lima kilometer saya mendapat bonus berupa jalan datar dan sedikit turunan, sebelum akhirnya kontur mulai miring, pertanda tanjakan Lingkar Gentong kian mendekat.

Berhenti di Ciawi (Djoko Subinarto)
Berhenti di Ciawi/Djoko Subinarto

Awal tanjakan diawali dari depan SPBU Gentong, lantas perlahan menebal hingga Cadas Hideung, yang tak jarang membuat sejumlah mobil besar ngeden. Selepas Cadas Hideung, kemiringan jalan sedikit mengendur. Konturnya berubah menjadi rolling sepanjang beberapa ratus meter, memberi kesempatan bagi saya mengatur kembali ritme kayuhan dan nafas. Saya tidak tergoda menambah kecepatan. Justru di bagian seperti inilah tenaga harus diirit, karena tanjakan utama belum benar-benar usai.

Tak lama kemudian, jalan kembali menanjak terjal. Tekukan pertama tanjakan Lingkar Nagreg harus saya lahap. Menyusul beberapa tekukan tanjakan lainnya. Saya mempertahankan cadence (putaran pedal) senyaman mungkin. Gigi paling ringan saya gunakan agar kayuhan tetap berputar tanpa membebani lutut. 

Kecepatan memang turun drastis. Namun, bagi pesepeda, di tanjakan panjang seperti kawasan Gentong yang terpenting bukanlah seberapa cepat melaju, melainkan menjaga irama agar tenaga tidak habis sebelum mencapai puncak. Dengan prinsip itulah, akhirnya Lingkar Gentong berhasil saya lewati.

Kelar menyantap Tanjakan Gentong, saya segera ngacir menuju Malangbong, Garut. Turunan cukup panjang membuat saya bisa kembali duduk santai dan sesekali mengendurkan tenaga. Pada fase ini, kaki tidak lagi dipaksa bekerja keras mengayuh karena sebagian besar laju sepeda terbantu gravitasi. Saya hanya perlu mengandalkan freewheel (putaran roda) sambil tetap menjaga kendali.

Namun, turunan bukan berarti sepenuhnya bebas tantangan. Kecepatan yang meningkat justru menuntut konsentrasi lebih tinggi. Tangan perlu tetap siaga di tuas rem, mata perlu terus membaca kondisi jalan, dan posisi tubuh harus dijaga agar sepeda tetap stabil. Terutama ketika bertemu tikungan atau kendaraan besar yang melintas kencang dari segala arah. Angin yang menerpa wajah terasa menjadi hadiah setelah perjuangan menuntaskan tanjakan panjang. 

Kawasan Lingkar Gentong (Djoko Subinarto)
Kawasan Lingkar Gentong/Djoko Subinarto

Makan Besar di Limbangan

Sampai di Malangbong, saya putuskan tidak berhenti. Saya memilih meluncur menuju Limbangan, jaraknya sekitar 20 kilometer. Kontur jalan sepenuhnya rolling. Artinya, jalan tidak benar-benar datar, melainkan bergelombang dengan kombinasi tanjakan pendek dan turunan yang datang silih berganti.

Karenanya, pengaturan tenaga tetap menjadi faktor kunci. Saya upayakan menjaga ritme kayuhan agar tidak terlalu agresif kala menanjak, lalu memanfaatkan turunan pendek untuk memulihkan tenaga. 

Perlahan, kilometer demi kilometer terlewati. Matahari makin tinggi. Menjelang beberapa ratus meter sebelum Pasar Limbangan, saya mampir ke sebuah jongko nasi kuning di pinggir jalan. Bagaimanapun, tubuh tetap membutuhkan asupan energi untuk menghadapi tantangan berikutnya, yaitu tanjakan Lingkar Nagreg yang sudah menunggu di depan mata.

Saya memesan satu porsi nasi kuning lengkap dengan telur bumbu merah, mi goreng, kering tempe, sambal tomat, irisan mentimun, dan kerupuk. Sambil menikmati suap demi suap nasi kuning, saya memberi kesempatan bagi kaki untuk beristirahat. Otot-otot yang sejak pagi bekerja tanpa henti diberi waktu untuk kembali rileks. Jeda seperti ini juga menjadi bagian penting dari strategi bersepeda untuk perjalanan panjang.

Sepiring nasi kuning untuk modal menanjak di Lingkar Nagreg (Djoko Subinarto)
Sepiring nasi kuning untuk modal menanjak di Lingkar Nagreg/Djoko Subinarto

Menguji Ketahanan Mental

Usai mengasup energi dengan seporsi nasi kuning, saya kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Raya Limbangan. Karakter jalan lagi-lagi rolling. Tanjakan dan turunan pendek silih berganti, membuat kaki perlu terus beradaptasi.

Seperti halnya ketika mendekati Lingkar Gentong, menjelang memasuki Lingkar Nagreg saya kembali berhadapan dengan tanjakan panjang. Bedanya, kali ini tenaga sudah terpakai cukup banyak sejak meninggalkan Tasikmalaya. Karena itu, saya berupaya menjaga putaran pedal tetap stabil, menggunakan gigi ringan, dan tidak terpancing mengejar kecepatan.

Perlahan, sepeda mungil saya mulai menanjak mengikuti kontur jalan menuju Lingkar Nagreg. Di sekitar jalur ini, lalu lintas kembali menjadi tantangan tersendiri. Truk, bus, dan kendaraan pribadi berseliweran, sehingga konsentrasi harus tetap terjaga. Selain melawan kemiringan jalan, saya juga harus terus membaca situasi sekitar agar perjalanan tetap aman.

Jika Lingkar Gentong menguji kekuatan kaki, maka Lingkar Nagreg menguji ketahanan mental dan kemampuan menjaga sisa tenaga. Dari karakter tanjakannya, Lingkar Nagreg mirip dengan Lingkar Gentong. Cuma, alurnya terasa lebih panjang dengan rangkaian tanjakan yang lebih berlapis. Sehingga, pesepeda harus lebih cermat mengatur ritme kayuhan agar tenaga tidak terkuras sebelum mencapai bagian akhir tanjakan.

Selain itu, tantangan terbesar Lingkar Nagreg juga datang dari lalu lintas. Jalur ini merupakan salah satu koridor utama yang menghubungkan wilayah Garut dan Tasikmalaya menuju kawasan Bandung Raya. Imbasnya, segala jenis kendaraan melintas hampir sepanjang waktu.

Karena itu, bersepeda melewati Lingkar Nagreg bukan cuma perkara menaklukkan kemiringan jalan dan panjang tanjakan. Ada faktor lain yang juga harus diperhitungkan, yaitu interaksi dengan kendaraan bermotor yang volumenya cukup tinggi. Pesepeda harus mampu menjaga posisi di jalan, membaca pergerakan kendaraan dari belakang, sekaligus tetap mempertahankan ritme kayuhan di tengah kondisi lalu lintas yang dinamis.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah cuaca. Pesepeda yang berangkat dari arah Tasikmalaya di pagi hari umumnya mencapai kawasan Lingkar Nagreg ketika matahari mulai meninggi. Setelah berjam-jam berada di atas sadel, paparan panas matahari dapat menambah beban fisik, terutama ketika tubuh harus terus bekerja menghadapi tanjakan.

Kendaraan besar merayapi jalanan Lingkar Nagreg (Djoko Subinarto)
Kendaraan besar merayapi jalanan Lingkar Nagreg/Djoko Subinarto

Tantangan Berubah 

Dengan kesiapan fisik dan kemampuan mengatur tenaga, akhirnya Lingkar Nagreg berhasil saya lewati. Perlahan, jalur menanjak mulai berakhir, dan perjalanan memasuki kawasan Bandung Raya terbentang.

Tantangan perjalanan pun berubah bentuk. Bukan lagi soal kemiringan jalan, melainkan kepadatan lalu lintas perkotaan. Titik-titik perlambatan, bahkan kemacetan mulai menyapa, yang membuat perjalanan berubah menjadi pola stop and go.

Bagi pesepeda jarak jauh, kondisi seperti itu juga menjadi ujian tersendiri. Kaki yang sebelumnya bekerja keras guna menaklukkan tanjakan, harus kembali beradaptasi dengan ritme berhenti dan berjalan di tengah arus kendaraan yang padat. Maka, pada fase terakhir menuju pusat Kota Bandung, yang dibutuhkan agaknya bukan hanya tenaga, melainkan juga kesabaran. 

Dan ketika akhirnya roda kecil sepeda saya menyentuh kawasan Titik Nol Kota Bandung, rasa lelah perlahan seketika berubah menjadi kepuasan. Perjalanan panjang dari pusat Kota Tasikmalaya, melewati Rajapolah, Ciawi, Gentong, Malangbong, Limbangan, hingga Nagreg, seolah terbayar lunas oleh perasaan puas. Saya bersyukur bisa menyelesaikan setiap tantangan fisik dan mental di sepanjang ruas jalan dari Tasikmalaya hingga Bandung.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Avatar photo

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Perjalanan Melintasi Kawasan Terdampak Gempa Bumi Cianjur