Interval

Rizki Kelimutu: Bicara soal Perempuan di Bidang Teknologi

Ngomongin teknologi dan perempuan memang nggak jauh-jauh dari tingkat partisipasi perempuan yang terjun di bidang ini. Masih belum banyak, tapi sudah mulai meningkat karena sekarang ini ada banyak banget program yang bertujuan meningkatkan jumlah partisipasi perempuan di bidang teknologi, dan juga program yang mewadahi perempuan untuk berkarya di bidang ini.

Nah, beberapa waktu lalu TelusuRI ngobrol dengan Rizki Kelimutu. Ia bekerja sebagai Manajer Komunitas di perusahaan teknologi yang juga menulis buku dan menjadi host di podcast Kartini Teknologi. Inilah ceritanya.


Halo! Namaku Kiki. Sehari-hari bekerja sebagai Manajer Komunitas. Tapi selain itu, aku juga nulis buku dan tentunya jadi host di podcast Kartini Teknologi @kartiniteknologi. Kartini Teknologi sendiri aku mulai bareng seorang teman, namanya Galuh. Lucunya, rencana awal kita dulu sebenarnya adalah membuat podcast untuk keperluan promosi acara kita waktu itu. Tapi, ternyata baru sempet kita buat setelah acaranya selesai dan malah keterusan sampai sekarang.

Misi Kartini Teknologi sebenarnya sederhana aja. Kita pengen memperkenalkan lebih banyak sosok perempuan keren dari Indonesia yang berkarya di bidang teknologi untuk menyemangati lebih banyak perempuan agar bisa berpartisipasi di bidang ini (cerita selengkapnya di sini). Karena, yang kita lihat, role model itu penting banget buat perempuan. Sebagai minoritas, kita butuh sosok dari sesama perempuan yang bisa kita jadikan inspirasi, sehingga memotivasi kita untuk ikut berkarya. Kalo sesama perempuan ‘kan biasanya kita bisa lebih relate karena kendala yang kita alami mungkin kurang lebih sama.

Kalau ngomongin soal kenapa perempuan harus berani berkarya dan nggak perlu takut terjebak dengan stereotip masyarakat, ya apa salahnya dengan berkarya? Kenapa enggak? Mungkin karena aku yakin perempuan juga punya kesempatan yang sama, tapi kita kebanyakan mikir. Padahal, dunia teknologi butuh lebih banyak perempuan untuk ikut serta membangun teknologi bersama karena perempuan biasanya punya perspektif berbeda yang justru bisa menambah nilai tersendiri di produk yang kita buat. Kalau nggak jadi berkarya cuma karena takut, sayang banget. Padahal peluang bagi perempuan untuk berkontribusi di dunia teknologi saat ini justru lagi banyak-banyaknya.

Kalau aku pribadi, terus terang keluarga punya banyak pengaruh hingga membentuk diriku jadi yang kayak sekarang ini. Dalam arti, selama ini mereka—terutama orangtua—selalu mendukung pilihanku asal aku bisa tanggung jawab dengan keputusan yang kuambil. Selain itu, kebiasaanku merantau dari kecil juga kayaknya berpengaruh besar. Dari situ aku jadi tau lebih banyak hal dan kenal lebih banyak orang yang berperan banyak dalam hidupku selama ini.

OMG, I have so many women that I look up to! Mereka yang menjadi role model buatku selama ini. Kalau in general di Indonesia, aku suka Najwa Shihab, Ligwina Hananto, Windy Ariestanty dan Alanda Kariza. Kalau yang secara spesifik di dunia teknologi, aku banyak terinspirasi sama Veni Johanna (Engineering Manager di Quora), Jessica Rose (Founder Open Code dan Trans*Code), April Wensel (Founder Compassionate Coding), dan Saron Yitbarek (Founder CodeNewbie).

Lalu, kalau ngomongin soal pemberdayaan perempuan, nih, buat aku, pemberdayaan perempuan lebih ke tentang gimana kita membantu menciptakan lingkungan yang aman untuk para perempuan untuk bisa mengatasi kendala-kendala yang mereka hadapi agar bisa tetap berkarya.

Karena, balik lagi, sebagai perempuan, nggak bisa dipungkiri kita menghadapi lebih banyak tantangan dan prasangka, baik itu dari society atau bahkan dari diri sendiri. Jadi, kita perlu policy yang mendukung, industri yang juga mau terbuka dengan kontribusi perempuan, dan tentu aja, masyarakat yang perlu menerima bahwa perempuan juga bisa berperan sesuai dengan ketertarikan masing-masing, sama seperti manusia pada umumnya.


Dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2020, TelusuRI mempersembahkan #TelusuRIHariPerempuan, sebuah kampanye untuk menceritakan perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang berkarya dan memberikan inspirasi bagi masyarakat.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Related posts
#dirumahajaInterval

“Staycation” di Rumah

Interval

Githa Anathasia: Memberdayakan Masyarakat Arborek untuk Pariwisata Berkelanjutan

Interval

Bahaya Laten Heritagisasi

Interval

Leonika "Reblood": Tidak Semua Harus "Dikompetisikan"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *