Travelog

Rehat Sesaat di Masjid Besar Situraja

Panas, Bos. Mending kita ngadem dulu. Begitu kata Zelphi, kawan seperjalananku, sembari membelokkan sepeda motor berwarna hitam yang kami tumpangi ke halaman Masjid Besar Situraja, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021). Siang itu, kami tengah dalam perjalanan dari daerah Wado, Kabupaten Sumedang, menuju Kota Bandung.

Ini adalah kali kedua aku mampir ke Masjid Besar Situraja. Sebelumnya, tahun 2017, aku sempat pula singgah ke masjid ini, juga saat sedang dalam perjalanan menuju Kota Bandung.

Suasana masjid siang hari itu terlihat tak terlalu ramai. Mungkin karena pengaruh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang bolak-balik harus diberlakukan demi mengantisipasi lonjakan kasus corona (COVID-19). 

Masjid Besar Situraja/Djoko Subinarto

Di area parkir masjid, cuma terlihat beberapa sepeda motor. Zelphi memarkirkan sepeda motor kesayangannya, sementara saya ngeloyor ke samping masjid menuju toilet untuk buang air kecil dan kemudian mengambil wudhu.

Keluar dari tempat wudhu, saya lihat Zelphi tengah duduk di teras masjid sisi utara menungui barang-barang bawaannya. Seorang pria yang mengenakan kaus kuning dengan lengan pendek berwarna biru tua muncul dari arah timur, langsung menuju tempat wudhu.

“Aku duluan, ya,” kataku kepada Zelphi, sambil menaruh tas punggungku di sebelahnya. Setelah itu, aku pun bergegas masuk ke dalam masjid.

Dua orang pria tampak sedang tertidur lelap, sementara satu orang lain duduk bersandar di salah satu pilar masjid sembari membuka ponsel. Sampai aku menyelesaikan salatku, dua orang itu masih tetap terlelap, sedangkan pria yang tadi bersandar di pilar masjid sudah tidak lagi kelihatan batang hidungnya.

Pemandangan orang yang tidur di dalam masjid tentu bukan sesuatu hal yang asing. Ruang masjid yang adem kerap dimanfaatkan orang untuk sekadar memejamkan mata barang sesaat—biasanya dilakukan setelah menyelesaikan salat.

Aku segera menuju teras masjid. Sekarang giliranku yang menunggui barang-barang bawaan kami, sementara Zelphi menunaikan salatnya.

Masjid Besar Situraja berada persis di pinggir Jalan Raya Situraja-Wado, yang menghubungkan Kota Tahu, Sumedang, dengan Kota Dodol, Garut. Jika meluncur dari arah Garut, posisinya berada di kiri jalan, setelah Alun-alun Situraja. Antara alun-alun dan Masjid Besar Situraja dipisahkan oleh Jalan Alun-alun Barat. Di sekitar Alun-alun Situraja, berjejer perkantoran, pertokoan, sekolah, dan kedai makan.

Ruang dalam Masjid Besar Situraja/Djoko Subinarto

Nama resmi Masjid Besar Situraja adalah Masjid Nurul Iman, memiliki dua lantai. Lokasinya yang berada persis di pinggir jalan raya menjadikan masjid ini kerap menjadi tempat persinggahan para musafir, yakni mereka yang sedang melakukan perjalanan, seperti kami berdua siang itu.

Merujuk kepada data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama Republik Indonesia, Masjid Besar Situraja didirikan pada tahun 1966, di atas tanah seluas 1.334 meter persegi. Lahan untuk masjid ini berasal dari tanah wakaf. Saat ini, luas bangunan masjid ini sekitar 400 meter persegi.

Masjid Besar Situraja dilengkapi pula dengan koperasi syariah. Gedung koperasinya berada di sudut selatan masjid. Di atas gedung koperasi, terlihat bendera merah-putih berkibar-kibar. Adapun di samping kanan gedung koperasi, terpakir sebuah mobil ambulans. 

Saat pertama kali aku mampir ke masjid ini, tahun 2017 lampau, di sisi kiri gedung koperasi, terdapat kantin tenda yang menyediakan makanan dan minuman ringan. Siang itu, aku tak melihat lagi kantin tersebut. Barangkali sudah tutup permanen atau mungkin juga tutup sementara karena adanya pandemi COVID-19. Entahlah.

Bangunan luar Masjid Besar Situraja didominasi warna hijau. Sejak pandemi COVID-19, di diding luar masjid dipasangi tulisan berbunyi: “Kawasan wajib masker.” Dari teras masjid, kita dapat melayangkan pandangan ke arah Alun-alun Situraja yang teduh berkat keberadaan pohon-pohon besar berdaun rimbun. Di antaranya saja beberapa pohon asam Jawa (Tamarindus indica).

Alun-alun Situ Raja yang rimbun/Djoko Subinarto

Terkait pohon asam sendiri, hingga saat ini, para ahli botani belum bisa memastikan asal usul tanaman ini. Cuma saja, asumsi yang beredar sejauh ini yaitu pohon asam diperkirakan berasal dari kawasan sabana kering di Afrika tropis dan Madagaskar. Sebagai tanaman keras dengan daun yang rimbun, pohon asam memang cocok untuk dijadikan pohon peneduh di tempat-tempat publik, seperti taman, alun-alun atau di sepanjang pinggir jalan. 

Buah asam selain dapat dimanfaatkan untuk bumbu, juga dapat dinikmati dalam keadaan segar. Ada juga yang memanfaatkan buah asam ini untuk membuat minuman tradisional. Caranya yaitu buah asam matang dicampur dengan gula merah, dan lalu diseduh air. Minuman tradisional ini populer disebut sebagai gula asam, cocok dinikmati saat siang di tengah cuaca terik. Sekarang, bahkan ada produsen yang memproduksi minuman gula asam dalam bentuk kemasan.

Pohon-pohon asam yang ada di Alun-alun Situraja terlihat sudah lumayan tua. Tingginya sekitar duapuluh meteran dengan diameter sekitar dua meter. Beberapa sumber bahkan menyebut pohon-pohon asam yang ada di Alun-alun Situraja telah berusia ratusan tahun.

Saat tengah bertelanjang kaki dan mengamat-amati salah satu pohon asam di sudut kiri utara Alun-alun Situraja, Zelphi menghampiriku. “Udah mulai rada teduh, nih. Kita OTW lagi,” katanya.

Hayu,” jawabku singkat, sembari bergegas ke halaman masjid untuk memakai sepatu. 

Sejurus kemudian, sepeda motor yang kami tumpangi telah meluncur mengarah ke Kota Sumedang, untuk selanjutnya menuju Kota Kembang, Bandung.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Berziarah ke Makam Ki Ageng Kebo Kenongo