Interval

Upaya Pelestarian Lingkungan lewat Pertanian Organik

Berbicara kelestarian lingkungan tidak harus melulu dikaitkan dengan gunung, pantai, atau laut saja. Melainkan sawah, ladang yang digarap oleh petani itu juga lingkungan. Sebab saat lahan garapan para petani itu rusak, dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat semua. Karena makanan kita masih nasi, lauk pauk kita juga masih sayur, dan ikan. 

Saya merupakan anak seorang petani jadi sedikit pengetahuan yang saya miliki, saya tahu perkembangan pertanian yang ada di desa saya. Mulai dari pertanian yang masih tradisional, hingga sekarang pertanian di desa menjadi semi modern. Dan tulisan saya akan fokus pada pola dan dampak dari jenis-jenis pertanian tersebut. 

Saya teringat betul, saat masih kecil anak-anak di desa saya ramah dengan keberadaan sapi. Sebab kala itu bisa dikatakan sapi merupakan sahabat petani, yang membantunya untuk membajak sawah. Namun kini, sudah sekitar dua puluh tahun berlalu, tenaga-tenaga sapi itu digantikan oleh alat pertanian bermesin yakni traktor, dan otomatis sapi-sapi itu hanya dikandangkan. Dan anak sekarang mungkin tidak tahu bagaimana nikmatnya menunggangi sapi, saat membajak sawah. 

Dari perubahan itu, bisa kita lihat dampaknya. Di satu sisi petani mungkin merasa terbantu dengan adanya traktor, dan sapi hanya menjadi ternak yang diperdagangkan bukan dipekerjakan. Tapi di sisi lain, kita harus siap dengan dampak yang lainnya, seperti asap yang dikeluarkan traktor, juga kebisingan yang dihasilkannya. Berbeda dengan saat pembajak sawah yang masih menggunakan sapi, bahan bakar sapi adalah rumput, saat membajak sawah sesekali sapi mengeluarkan kotorannya dan jadilah pupuk. 

Bapak saya pernah bilang, tekstur tanah sawah sekarang keras dan tandus. Jadi susah dan kasihan sapinya, jika dipaksakan untuk membajak sawah dengan tanah yang keras itu. Ditambah membajak sawah menggunakan traktor bisa dikatakan lebih cepat jika dibandingkan dengan sapi. 

Dan teka-teki perkataan bapak kala itu, seolah dijawab  oleh salah seorang warga yang fokus pada pertanian organik di Semarang yang saya temui. Dia adalah Bapak Yunus Marjuki (53) seorang yang dari 2014 menekuni pertanian organik. 

Sabtu (29/05/2021) lalu, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan beliau dirumahnya, RT 05 RW 03 Kelurahan Purwosari, Mijen, Semarang. Beliau menceritakan kisahnya, bagaimana dia berjuang untuk mengembalikan tanah menjadi subur kembali, setelah terkena dampak penggunaan pupuk kimia. Di mana tanah menjadi keras, tandus dan kurang subur. Dia memulainya dengan meracik pupuk organik, awalnya yang dibutuhkan sangat banyak. Namun lambat laun, saat tanahnya sudah mulai subur, pupuk organik yang dibutuhkan sedikit. Untuk mengembalikan tanah menjadi subur kembali itu, Pak Marjuki menceritakan, bahwa waktu yang dibutuhkan sangat lama, yakni bertahun-tahun. 

Proses pembuatan pupuk organik bersama warga/M. Iqbal Shukuri

Tidak hanya itu, di tengah perbincangan kami, Pak Marjuki mengajak saya sedikit bernostalgia perihal keadaan desanya dulu. 

“Dulu kalau tidak ada lauk, bisa ke sawah cari belut, ikan, bahkan di setiap irigasi desa dulu ada ikannya, tapi sekarang? Di sawah sudah jarang ada belut dan ikan. Ya karena penggunaan pupuk kimiawi itu. Saya ingin mengembalikannya seperti dulu lagi.”

Dari ucapan Pak Marjuki itu, seketika saya juga rindu dengan masa kecil saya, yang hidup dengan nuansa pedesaan, kurang lebih sama seperti yang diceritakan Pak Marjuki. Di satu sisi, dari sosok Pak Marjuki kita bisa belajar, melalui bertani organik kita bisa turut melestarikan alam Indonesia ini. 

Kendati demikian, dibalik visi Pak Marjuki terhadap lingkungan, dalam perjalanannya sebagai petani hingga saat ini terdapat kekhawatiran yang menghinggapi pikirannya. Yakni perihal regenerasi petani. 

Dia menceritakan, saat musim tanam hingga musim panen tiba, dirinya kesulitan untuk mencari tenaga tanam padi, dan tenaga orang untuk memanen hasil padinya. Itu menjadi salah satu kendala dalam pertanian organik yang digelutinya. Menjadi wajar jika Pak Marjuki mengkhawatirkan hal itu, sebab dalam dunia pertanian, selain upaya tetap melestarikan lingkungan, proses-proses produksi pertanian harus tetap dijalankan. Dan itu semua membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM), untuk regenerasi petani. Dari kekhawatiran Pak Marjuki perihal minimnya regenerasi petani, bisa kita tarik terhadap akan minimnya SDM yang melestarikan alam di lingkungan pertanian. 

Nah, kekhawatiran Pak Marjuki terhadap minimnya regenerasi petani tersebut, kiranya adalah kekhawatiran kita bersama, yang sangat tidak kita inginkan untuk terjadi. 

Pak Marjuki memandang pertanian organik tidak hanya dari segi lingkungan dan regenerasi petani saja, melainkan bergelutnya di dunia pertanian tidak lain adalah untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Yakni memastikan masyarakat tetap sehat dengan konsumsi beras organik. Menurutnya, jika dibandingkan dengan beras non organik, harga jualnya tidak terpaut jauh. Jika beras nonton organik dijual kisaran Rp12 ribu per kilogram, Pak Marjuki menjual beras organiknya Rp16 ribu per kilogram, sudah dengan kemasan plastik yang menarik. Bahkan ke depan, dirinya memiliki cita-cita, untuk menyamakan harga beras organik dengan harga beras non organik, supaya masyarakat bisa menikmati beras organik. 

Proses memasukkan beras organik dalam alat cetak kemasan/M. Iqbal Shukuri

“Pernah suatu ketika, ada swalayan yang meminta saya menitipkan berasnya di sana. Tapi pihak swalayan akan menjualnya seharga Rp30 ribu per kilogram, ya saya menolaknya. Saya tidak hanya mencari untung, kalau bisa saya ingin bagaimana caranya harga beras organik itu sama dengan beras non organik. Agar semua orang bisa menikmatinya, untuk bisa turut berkontribusi menyehatkan masyarakat.”

Dari prinsip yang dipegang oleh Pak Marjuki itu kita belajar, bahwa kelestarian lingkungan itu sangat penting bagi keberlangsungan hajat orang banyak. Sebab alam yang sehat, akan berdampak pada manusia yang sehat. Begitu juga sebaliknya, jika alam rusak manusia juga yang akan menerima dampaknya. 

Marjuki menampilkan produk beras organik/M. Iqbal Shukuri

Jadi melalui tulisan sederhana ini, semoga para pembaca timbul kesadaran untuk tetap melestarikan lingkungan. Apapun pekerjaannya, menjadi keharusan bagi kita semua untuk tetap menjaga lingkungan. Sebab kita semua masih membutuhkan, udara, air yang bersih dan tanah yang subur untuk kelangsungan hidup kita bersama. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mohammad Iqbal Shukri tinggal di Semarang, kesehariannya sibuk berproses untuk menjadi pembelajar yang baik, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Selebihnya suka menikmati kehidupan, hidupku, hidupmu, hidup mereka, dan selalu mengingat terhadap yang menghidupkan kita.

Mohammad Iqbal Shukri tinggal di Semarang, kesehariannya sibuk berproses untuk menjadi pembelajar yang baik, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Selebihnya suka menikmati kehidupan, hidupku, hidupmu, hidup mereka, dan selalu mengingat terhadap yang menghidupkan kita.
    Artikel Terkait
    Interval

    Kerai dan Pagebluk yang Mengubah Wayan

    Interval

    Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: Kumpulan Tulisan Prof. Boechari Tentang Indonesia di Masa Kuno

    Interval

    Rupa ‘Overtourism’ di Destinasi Wisata Indonesia

    IntervalPilihan Editor

    Overtourism, Mengintai Dibalik Ingar-Bingar Pariwisata Indonesia

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Kampung Adat Ciptagelar, Tradisi Kehidupan dari Sunda