Travelog

Perjalanan Sehari ke Gunung Fatuleu, Pantai Oetune, dan Pantai Kolbano

Udara yang berhembus pagi itu menenangkan, menuntun perjalanan kami meninggalkan Kupang. Kendati sempat khawatir dengan cuaca yang belakangan kurang bersahabat, nyatanya langit cukup cerah di hari perjalanan menjelajahi beberapa destinasi wisata di Pulau Timor. 

Rombongan kami berjumlah delapan orang, yakni bapak dosen pendamping kelompok kami, saya, beserta keenam rekan mahasiswa Modul Musantara. Mereka adalah Sasya (mahasiswa STP Trisakti Jakarta), Fatim dan Elok (mahasiswa STIE Mandala Jember), serta Liza, Ismi, dan Nadia (mahasiswa STIKES Budi Luhur Cimahi). 

Sesuai rencana, hari ini kami akan menyambangi tiga destinasi wisata sekaligus. Pertama, akan sejenak menyapa keasrian alam Gunung Fatuleu, lalu menjejakkan kaki di hamparan padang pasir Pantai Oetune, dan mengakhirinya dengan menikmati keelokkan Pantai Kolbano. Ah, kapan lagi berkesempatan melakukan perjalanan sejauh dan semenarik ini, pikir saya berkali-kali sepanjang perjalanan. 

Gunung Fatuleu/Oswald Kosfraedi

Semula kami sempat berencana untuk melakukan perjalanan ke Atambua dan menyinggahi perbatasan Indonesia-Timor Leste. Namun, akhirnya urung setelah mempertimbangkan satu dan lain hal. Oh iya, agenda perjalanan ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan terakhir kami. Boleh dibilang perpisahan untuk kami semua sebelum keenam rekan mahasiswa Modul Nusantara kembali ke daerah asal masing-masing. 

Dosen kami memegang kemudi segera memacu mobil menyusuri Jalan Timor Raya yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan melintas. Saya yang tadinya mengantuk karena semalam hanya tidur dua jam, seketika menjadi begitu bersemangat tatkala kendaraan kami mulai meninggalkan Kupang. 

Tiba di Naibonat, kami sempat berhenti untuk membeli makan siang. Saya seketika teringat akan perjalanan pada awal 2021 lalu ke Lelogama, bagaimana waktu itu kami berangkat pagi seperti ini dan pada akhirnya menciptakan banyak cerita. Secara khusus soal Naibonat, tempat ini tidak akan pernah saya lupakan. Di rumah sakitnya yang terletak tak jauh dari tempat kami berhenti, dahi saya pernah dijahit setelah terjatuh di Batu Basusun.  

Beres membeli makan, kami melanjutkan perjalanan. Suasana ramai tampak menghias Pasar Lili sewaktu kami melintas. Tak jauh dari situ, kami lalu berbelok ke kiri menyusuri jalur menuju Gunung Fatuleu. Matahari kian meninggi tatkala kami tiba di kaki Gunung Fatuleu. Gunung Batu yang menjulang berdiri kokoh dengan rimbun pepohonan.

Tak menunggu lama, kami segera menyusuri jalur pendakian Gunung Fatuleu. Pendakian Fatuleu ternyata tak semudah yang dalam bayangan. Meski sudah terbantu dengan ketersediaan anak tangga, nyatanya beberapa dari kami tampak kelelahan. Menurut informasi dari beberapa sumber, jumlah anak tangga di Fatuleu mencapai 1.500 buah. Alhasil, pendakian yang semula penuh tawa dan candaan, berganti dengan rasa lelah yang membuat beberapa dari kami berjalan kian melambat. Selain karena kurang istirahat semalam, terik matahari yang menyelinap di antara rimbun pepohonan membuat energi kian terkuras. 

Setelah beberapa saat, kami akhirnya tiba di perhentian pertama. Sambil bercerita, kami menikmati indahnya pemandangan yang tersaji di depan mata. Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan pendakian, meski tiga orang dari antara kami akhirnya memilih untuk menunggu di tempat perhentian pertama. 

Tidak seperti di Fatubraun, di mana anak tangga akan tersedia sampai ke puncak, di Fatuleu tidaklah demikian. Tak jauh dari perhentian pertama, kami tiba di anak tangga terakhir, dan setelahnya kami harus menyusuri jalur tanah dan bebatuan. 

Kami berempat akhirnya tiba di perhentian kedua, dari sana kami sudah bisa menikmati pemandangan laut yang tersaji di kejauhan, juga  hijau pepohonan yang tersebar sejauh mata memandang. 

Setelah beberapa saat menikmati pemandangan di sana, kami lalu bergegas turun. Tiba di perhentian pertama, kami lantas mengabadikan kebersamaan kami hari itu. Sekitar pukul 09.15, kami meninggalkan Fatuleu dan melanjutkan perjalanan.

Kebersamaan di Oetune/Oswald Kosfraedi

Kembali dari Fatuleu, saya segera mengakses peta untuk melihat jarak perjalanan ke destinasi kedua, Pantai Oetune. Jarak Oetune yang masih begitu jauh seperti tak menjadi masalah bagi saya. Beberapa dari antara kami tertidur sepanjang perjalanan, sedangkan saya dan beberapa yang lain sesekali mengobrol, dan selebihnya hanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. 

Setelah dua jam perjalanan dari Fatuleu, kami tiba di Rata Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Di dataran persawahan nan luas inilah, kami sejenak mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke Oetune. 

Sekitar pukul 13.20 WITA, kami tiba di Pantai Oetune. Beberapa anak kecil menyambut kami ketika turun dari mobil. Mereka dengan ramah menawarkan bantuan kepada kami, sambil memberikan informasi tentang tempat bagus di Pantai Oetune. Jadilah, selama di Oetune mereka menjadi “pemandu” kami.

Berulang kali mereka menawarkan bantuan, mulai dari memegang sepatu kami agar tidak basah sampai menawarkan jasa untuk memotret kami semua. Lucunya mereka membuntuti kami ke mana pun kami pergi. Salah satu dari mereka yang kebetulan selalu mengikuti saya, bernama Obi. Setelah berbincang sebentar, saya baru paham kalau ternyata mereka menawarkan jasa untuk kemudian dibayar seikhlas pengunjung.

Obi di Oetune/Oswald Kosfraedi

Pantai Oetune sendiri boleh dibilang menjadi salah satu destinasi pantai yang paling kondang sekaligus ikonik. Keunikannya terletak pada “gurun pasir” seluas 100 meter persegi. Selain itu, Pantai ini juga menyajikan hamparan laut biru toska yang cantik, dengan debur ombak yang tenang dan pasir pantainya yang begitu lembut.

Pemandangan Padang Pasir Oetune/Oswald Kosfraedi

Pohon lontar dan pohon kasuari yang tumbuh subur di pinggir pantainya pun menambah keindahan Pantai Oetune. Di sana, kami menikmati segala keindahan alam yang dalam hitungan menit menghapus semua lelah sepanjang perjalanan dari Kupang. 

Setelah hampir dua jam menikmati alam Pantai Oetune, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Pantai Kolbano. Tak lupa akan Obi dan teman-temannya yang sudah membantu, kami memberikan sedikit uang sebagai tanda terima kasih pada mereka. Meski tidak seberapa, mereka tersenyum ramah sambil mengucapkan terima kasih pada kami. 

Perjalanan dari Oetune ke Kolbano, tak memakan waktu yang terlalu lama. Kami tiba di Kolbano sekitar pukul 15.30 WITA. Meski terletak tak jauh dari Pantai Oetune, ternyata Pantai Kolbano menyajikan panorama alam yang benar-benar berbeda dengan Pantai Oetune.

Pantai Kolbano/Oswald Kosfraedi

Jika Oetune menyajikan “padang pasir”, Pantai Kolbano justru sebaliknya. Pantai ini berhias bebatuan warna-warni yang tersebar di sepanjang bibir pantai. Selain itu, kekhasan pantainya juga terletak pada sebuah batuan yang menjulang tinggi. Saat kami tiba di sana, lokasi ini sedang digunakan untuk pemotretan prewedding. 

Sembari menikmati suasana pantai, lagu Banda Neira yang berjudul Berjalan Lebih Jauh sengaja saya putar menemani langkah mengitari pantai. Lalu, rasa bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di sana seketika bercampur perasaan lain yang sulit untuk saya jelaskan hari itu. 

Berada di Kolbano, yang sekaligus menjadi destinasi terakhir kami hari itu, seketika membuat saya terhenyak menyadari sudah sejauh ini waktu membawa saya pada berbagai proses yang mendewasakan dalam hidup. Seorang anak muda yang dulunya lahir dan tumbuh dalam segala kesunyian sebuah kampung di kaki Gunung Ranaka, kini sudah melangkah jauh hingga ke pelosok NTT.

Pukul 16.40 WITA, kami meninggalkan Pantai Kolbano. Perjalanan pulang yang sekaligus membuat saya semakin merasa waktu perpisahan dengan mereka kian dekat, sekaligus menjadi saat saya mensyukuri segala kebersamaan yang pernah ada.

Mungkin potret diri dalam foto-foto yang kini bisa kami lihat kembali, atau pun tulisan ini hanyalah dokumentasi atas segala perjalanan dan kebersamaan kami. Lebih dari itu, jauh di hati dan ingatan kami semua, segalanya akan menjadi abadi sampai kapan pun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gowok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja