Travelog

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)

Pendakian kian menantang karena jalur terjal dan beban bekal air yang bertambah. Angin kencang jadi tantangan lain yang tetap harus dinikmati.

Teks dan foto: Rifqy Faiza Rahman


Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Warung Mba Yuni di Pos 3 Cemoro Dowo/Rifqy Faiza Rahman

Kulo (saya) Partini,” ujarnya memperkenalkan diri. Perempuan itu sedang menyiapkan pesanan susu jahe panas kami. Ia adalah partner Bu Yuni, pemilik warung di Pos 3. Keduanya warga asli Dusun Cetho.

Warung Mba Yuni sudah buka sejak pukul 05.30. Kepulan asap membubung dari celah-celah jendela warung menandakan aktivitas mereka. Mereka sudah naik dan berjualan sejak Jumat pagi sebelum kami. Besok Minggu mereka akan turun. Setiap naik biasanya dibantu oleh Pak Sukino, suami Bu Yuni, dan seorang pria lagi untuk membawa barang dagangan. Mulai beras, makanan ringan, dan bahan makanan lainnya.

  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)

Melongok ke dapur, Bu Yuni sedang adang (menanak) nasi dengan dandang. Tak ada gas. Murni menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan api. Bapak-bapaklah yang membawa kayu-kayu bakar tersebut sebagai stok selama berjualan. Kami melihat tumpukan kayu tersebut di belakang warung. Kami bisa membayangkan perjuangan mereka mencari nafkah dan berkah dari pendakian gunung.

Saya membawa pesanan kami ke belakang. Di area ini terdapat gentong besar untuk menampung air dari sumber dan fasilitas toilet sederhana berupa bilik dari terpal dan spanduk. Sebelum memasak sarapan—kali ini nasi dan olahan makanan beku ayam karage—kami menikmatinya terlebih dahulu di sebuah bangku kayu sambil menikmati pemandangan awan dan langit biru. Aktivitas yang menambah spirit baru dan kepercayaan diri melanjutkan perjalanan berat pada hari kedua ini.

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Tenda kami di Pos 3 Cemoro Dowo bersebelahan dengan pipa air/Rifqy Faiza Rahman

Pelan-pelan ke Penggik

Usai sarapan, kami lekas berkemas. Berbagi tugas membersihkan peralatan masak dan makan, serta merapikan tenda. Sebagian turun ke sumber air. Saya menginstruksikan untuk memenuhi botol minum masing-masing. Saya juga mengisi jeriken lima liter sebagai bekal pendakian hari ini dan besok. Jeriken tersebut akan saya masukkan di dalam ransel bagian atas. 

Tepat pukul 09.30, kami mulai berjalan kembali. Perjalanan dari Pos 3 Cemoro Dowo ke Pos 4 Penggik adalah yang terjauh dan terberat di jalur Cetho. Elevasinya naik tajam sekitar 353 mdpl, dengan estimasi jarak tempuh 860 meter. Pada pendakian 2019 lalu, rute inilah yang benar-benar menguras tenaga. Ditambah hujan deras yang menjadikan jalur seperti aliran sungai. 

Tidak jauh berbeda, beban tenda dan jeriken lima liter penuh air yang saya bawa jelas lebih berat dari kemarin. Terlebih karakter jalur yang terjal kerap membuat kami mengangkat lutut lebih tinggi.

“Aku yang di depan, ya. Jalan pelan-pelan. Nek kesel (kalau capek), istirahat,” pinta saya. Hal ini semata agar ritme berjalan kami seirama dan tidak berjauhan. 

Beruntung vegetasi selepas Pos 3 masih relatif rimbun. Tidak terlalu rapat, tetapi cukup meneduhkan jalur. Jenis tanamannya masih sama, kombinasi semak, mlandingan (lamtoro) yang rata-rata tumbuh agak doyong, dan beberapa cemara gunung. Trek berupa jalan setapak tanah yang sudah mulai berdebu tanda memasuki musim kemarau.

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Rehat sebentar di tengah pendakian menuju Pos 4/Rifqy Faiza Rahman

Kami cukup sering berhenti untuk mengatur napas. Terutama saya. Sesekali ketika menemui tempat datar di antara tanjakan, saya lepas ransel ke tanah untuk melegakan pundak. Di titik seperti ini, kekompakan tim dalam hal mental sangat penting. Penting sekali satu sama lain memahami bahwa tidak perlu berjalan terburu-buru apalagi berambisi menjadi yang tercepat. Tidak ada urgensi untuk itu.

Langkah yang stabil dan pintar-pintar menata waktu untuk istirahat, ternyata membuat perjalanan lebih tidak berasa capek. Kira-kira setelah 1 jam 10 menit, kami tiba di Pos 4 Penggik (2.547 mdpl). Lebih cepat 50 menit dari rencana. Di pos ini kami berjumpa rombongan pendaki dari Jakarta yang turun. Mereka juga rehat sebentar di sini.

“Setelah Pos 4 nanjak-nya enak, kok. Yang berat, ya, cuma antara Pos 3 ke Pos 4 doang,” ujar salah satu dari mereka ketika kami bertanya jalur naik. Saya agak lupa kontur jalur di atas Pos 4. Saya hanya ingat sepotong-sepotong kalau trek akan datar ketika keluar hutan cemara gunung dan memasuki sabana.

Sama seperti tiga pos sebelumnya, Pos 4 Penggik ditandai dengan “brakseng”. Peraturan yang berlaku adalah jangan mendirikan tenda di dalam shelter. Gubuk ini hanya untuk berteduh atau penanganan keadaan darurat yang memerlukan tempat berlindung. Namun, Pos 4 Penggik tidak terlalu nyaman untuk mendirikan tenda. Lahan datar terbatas dan berada di jalur yang terjal.

Terjalnya jalur Pos 3—Pos 4 membuat kami memilih istirahat agak lama. Kurang lebih 10 menit untuk sekadar merebahkan punggung, minum dan menyantap bekal buah pisang yang jadi sumber energi kami. 

“Mau makan siang di sini atau di mana, Mas?” tanya Emma.

“Nanti saja agak atas. Kalau nemu tempat yang pas. Sekarang masih tanggung,” jawab saya.

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Pos 4 Penggik yang tidak ideal untuk mendirikan tenda/Rifqy Faiza Rahman

Sabana Kenangan

Apa yang dikatakan anak-anak Jakarta tadi benar. Memang masih terus menanjak, tetapi tidak terlalu panjang. Seingat saya, ada satu tanjakan terakhir yang cukup terjal karena berpindah punggungan. Sesudah itu jalur lebih banyak datar melipir bukit yang ditumbuhi banyak cemara gunung. Seketika suasana lebih teduh setelah terpapar terik matahari sejak Pos 4 Penggik.

Kami akhirnya menemukan tempat yang cukup pas untuk istirahat dan makan siang. Berdasarkan GPS, lokasinya berjarak sekitar 570 meter dari Pos 4 Penggik dan berada di ketinggian 2.721 mdpl. Sekitar 68 menit perjalanan. Kami sempat menyapa beberapa porter lokal yang bekerja untuk sebuah open trip yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah. Mereka akan menyiapkan camp di Bulak Peperangan.

Tempat kami break bukan lokasi yang ideal karena hanya memanfaatkan lahan sempit di samping jalur. Namun, lumayan nyaman buat menanak beras porang dan makan lahap sisa lauk ayam karage serta tambahan lauk kering yang dibawa Evelyne. Bahkan tak terasa ketika saya menyadari kalau kami istirahat hampir 1,5 jam. Sebab kami sempatkan juga untuk tidur siang sebentar.

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Lokasi istirahat dan makan siang di pinggir jalur/Rifqy Faiza Rahman

Banyak teman saya mengamini kalau Lawu adalah gunung yang sangat dingin. Bahkan di tempat yang belum terlalu tinggi sekalipun. Itu yang kami rasakan selepas bangun dari tidur siang. Meski terang-terangan cuaca begitu cerah dan matahari bersinar nyalang, tak bisa kami pungkiri perubahan suhu yang terjadi jelang sore. Tepat pukul dua siang, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Kenangan pendakian 2019 kembali menguak ingatan setibanya kami di batas hutan-sabana. Sekitar 475 meter atau hampir setengah jam berjalan. Terdapat pohon dan bunga edelweiss yang banyak tumbuh di kawasan ini. Saya yang berada di belakang segera menyusul teman-teman yang sudah ada di persimpangan jalur ke Bulak Peperangan.

Saya ceritakan ke mereka, “Di sinilah dulu kami terpaksa bikin tenda karena kondisi darurat. Wis kudanan, kesel, nganti Magrib lho Bulak Peperangan durung kethok blas (Sudah kehujanan, capek, sampai Magrib loh Bulak Peperangan belum kelihatan sama sekali).”

Lokasinya memang sangat terbuka dengan lahan sabana agak miring. Padahal jika mau berjalan lebih jauh sekitar 15 menit saja atau 400 meter dengan trek datar, kami akan menjumpai Pos 5 atau Bulak Peperangan (2.843 mdpl). Sebuah area tempat bertemunya jalur Cetho dengan Jogorogo (Ngawi), yang lebih representatif dan nyaman untuk berkemah. Cuma, ya, itu tadi. Bukan tak mau. Kami memang sudah tidak mampu.

Tentu saja tidak ada rasa penyesalan ketika hari ini akhirnya saya tahu seperti apa Bulak Peperangan itu. Yang kami tahu adalah saat itu sudah menjadi keputusan terbaik dan disepakati bersama, daripada memaksakan diri walau sekadar “tinggal sedikit lagi”.

  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)

Nyanyian Angin di Gupakan Menjangan

Tatkala menempuh 660 meter terakhir atau dua pertiga perjalanan menuju Gupakan Menjangan, kami melihat dua pemandangan yang memukau mata. Bukan sabananya yang makin banyak terhampar, melainkan kemunculan satwa yang terlihat jelas dan bergerak cepat. Sampai-sampai saya tak mampu merekamnya dalam kamera.

“Eh, itu ada kijang!” saya berseru.

Sontak yang lain pun ikut menoleh ke arah saya menunjuk. Seekor kijang berwarna cokelat muda yang berlari bak kilat di lereng perbukitan miring. Kami melihatnya di sebelah kiri jalur, kira-kira 300 meter. Begitu saya baru sadar dan mengambil kamera, Muntiacus muntjak lincah itu sudah hilang di balik hutan.

Kedua, elang Jawa atau alap-alap yang terbang memutar di atas celah-celah kanopi cemara gunung, ketika mendekati Gupakan Menjangan. Saya cukup berhasil memotretnya meski agak kurang jelas.

Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
Kembali melihat burung di dekat Gupakan Menjangan/Rifqy Faiza Rahman

Pemandangan itu menjadi pengalaman langka nan berharga bagi kami. Di tengah masifnya manusia yang mendaki gunung lewat jalur ini, bertemu dengan satwa liar pasti tak akan terlupakan.

Pukul 15.35, atau 45 menit dari Bulak Peperangan, kami tiba di Gupakan Menjangan. Angan-angan saya sejak lama yang kini jadi kenyataan. Sebuah tempat berkemah di malam kedua, sekalipun tidak ada sumber air. Kami adalah rombongan pertama yang sampai di area camp setinggi 2.936 mdpl tersebut. Makin sore, kami mendapati makin banyak kelompok lainnya yang ikut mendirikan tenda di sini. Wajar, akhir pekan akan ramai pendaki meskipun tidak sepadat jalur lainnya, seperti Cemoro Sewu.

  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)
  • Jurnal Lawu: Angan-Angan Gupakan Menjangan (3)

Meskipun tempat camp berada di tengah-tengah cemara gunung, tetapi angin yang bertiup dari arah sabana sangat terasa. Bahkan berlangsung cukup lama hingga kami kerap terbangun saat tengah malam. Embusannya lumayan kencang sampai-sampai menggoyangkan ranting-ranting cemara dan menderu, seperti bernyanyi sumbang tanpa nada. Adapun lokasi tenda kami cukup terlindung dari keberadaan semak-semak, sehingga terhindar dari angin secara langsung.

Namun, yang terpenting adalah cuaca cerah dan stabil hingga hari ini, yang kami harap bisa bertahan setidaknya sampai kami turun esok hari. Birunya langit berpadu serasi dengan hamparan sabana hijau bak permadani. Di sanalah terdapat kubangan air musiman yang akan terisi saat hujan, tempat para menjangan (kijang) minum. Sebuah jejak (gupak) yang menandakan bahwa satwa lincah itu masih eksis, seperti yang kami lihat di lereng bukit tadi. Setidaknya abadi dalam nama yang menjadi tempat berkemah favorit pendaki di jalur ini.

(Bersambung)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jurnal Lawu: Dari Cetho ke Cemoro Dowo (2)